Tasmalinda
Rabu, 12 Agustus 2026 | 15:10 WIB
kebakaran hutan dan lahan yang terjadi di Sumatera Selatan
Baca 10 detik
  • Kualitas udara di kawasan Bukit Kecil, Palembang, tercatat tidak sehat dengan nilai ISPU mencapai 114 pada Rabu (12/8/2026).
  • Peningkatan konsentrasi partikulat halus PM2,5 dan dugaan asap karhutla di sekitar wilayah tersebut menjadi penyebab utama penurunan kualitas udara.
  • Kepala DLH Palembang mengimbau warga agar mengurangi aktivitas luar ruangan serta waspada terhadap potensi gangguan kesehatan.

SuaraSumsel.id - Warga Kota Palembang, Sumatera Selatan, perlu lebih waspada terhadap kualitas udara pada Rabu (12/8/2026). Data pemantauan menunjukkan udara di salah satu kawasan kota masih berada dalam kategori Tidak Sehat, dengan konsentrasi partikulat halus PM2,5 menjadi salah satu perhatian utama.

Kepala Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kota Palembang Akhmad Mustain mengatakan peningkatan konsentrasi PM2,5 dan PM10 menjadi salah satu penyebab utama menurunnya kualitas udara. Kondisi tersebut juga diduga kuat dipengaruhi asap kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di wilayah sekitar Palembang.

Berdasarkan data Indeks Standar Pencemar Udara (ISPU) Kementerian Lingkungan Hidup yang dipantau melalui ISPUNET, titik pemantauan di kawasan Bukit Kecil, Simpang Icon City, Palembang, menunjukkan nilai ISPU 114 pada Rabu (12/8/2026).

Angka tersebut masuk kategori Tidak Sehat. Dalam ketentuan ISPU, kategori ini berada pada rentang nilai 101 hingga 200 dan menunjukkan kondisi kualitas udara yang dapat merugikan kesehatan.

Parameter yang menjadi perhatian adalah PM2,5 yang tercatat 114 µg/m³. Sementara itu, konsentrasi PM10 berada di angka 28 µg/m³, sulfur dioksida (SO) 15 µg/m³, ozon (O) 23 µg/m³ dan nitrogen dioksida (NO) 28 µg/m³.

Kondisi udara tidak sehat tersebut bukan baru terjadi pada Rabu. Sehari sebelumnya, Selasa (11/8), kawasan Bukit Kecil juga mencatat nilai ISPU 116 sekitar pukul 13.00 WIB.

Dengan demikian, dalam dua hari berturut-turut kualitas udara di titik pemantauan tersebut berada dalam kategori yang perlu mendapat perhatian.

Asap karhutla diduga ikut memengaruhi

Penurunan kualitas udara Palembang terjadi ketika Sumatera Selatan masih menghadapi persoalan kebakaran hutan dan lahan. Asap dari kebakaran di wilayah sekitar kota diduga kuat menjadi salah satu faktor yang memengaruhi meningkatnya partikulat di udara.

Baca Juga: Gugatan Asap Karhutla Mulai Disidang, Tergugat 3 Perusahaan di Sumsel Absen

Namun, kondisi tersebut tidak berarti seluruh penurunan kualitas udara hanya disebabkan oleh karhutla. Data yang disampaikan DLH menunjukkan terdapat sejumlah parameter pencemar yang dipantau secara bersamaan.

Partikel PM2,5 menjadi perhatian karena ukurannya sangat kecil sehingga kualitas udara dengan konsentrasi partikulat tinggi perlu diwaspadai, terutama oleh masyarakat yang memiliki kondisi kesehatan tertentu.

DLH minta warga tidak abaikan kondisi udara

Akhmad mengatakan masyarakat sebaiknya tidak mengabaikan kondisi kualitas udara yang sedang terjadi. Bagi masyarakat yang memiliki asma, DLH mengimbau agar paparan udara luar dikurangi dan mengikuti petunjuk kesehatan. Obat yang diperlukan juga diminta selalu tersedia.

Sementara bagi penderita penyakit jantung, pemeriksaan medis dianjurkan apabila muncul keluhan seperti jantung berdebar, sesak napas atau kelelahan yang tidak biasa.

“Untuk masyarakat umum, DLH mengimbau agar mengurangi aktivitas fisik terlalu lama di luar ruangan,” ujar Akhmad.

Load More