Tasmalinda
Rabu, 29 Juli 2026 | 17:35 WIB
desa wisata Penglipuran Bali
Baca 10 detik
  • Desa Penglipuran di Bali sukses mengembangkan pariwisata berbasis masyarakat sejak awal 1990-an hingga menghasilkan pendapatan besar.
  • Pemerintah Sumatera Selatan mengelola sekitar 150 desa wisata untuk meningkatkan lama tinggal wisatawan dan menggerakkan ekonomi lokal.
  • Pengembangan desa wisata harus berpusat pada masyarakat dan budaya agar mendatangkan manfaat ekonomi yang berkelanjutan.

SuaraSumsel.id - "Bu, mau pakai baju adat? Mau jadi orang Bali?"

Sapaan itu beberapa kali terdengar dari beranda rumah Ni Nengah Sarini di Desa Wisata Penglipuran, Kabupaten Bangli, Bali. Dengan senyum yang ramah, perempuan yang akrab disapa Ibu Sari itu membantu wisatawan mengenakan pakaian adat. Tangannya cekatan melilitkan selendang hijau di pinggang, merapikan kamen hitam, lalu membenarkan kain merah yang disampirkan di bahu tamunya sebelum mempersilakan mereka berfoto di jalan utama desa.

Wisatawan datang bergantian. Ada yang hanya beberapa menit berada di rumah itu, ada pula yang memilih berbincang lebih lama sambil menikmati loloh cemcem yang disajikan di meja depan. Aroma bambu yang menguar dari pagar-pagar tradisional masih terasa di sepanjang permukiman. Di sela kesibukan menyambut tamu, Ibu Sari tak pernah kehilangan senyumnya.

Aktivitas itu bukan pekerjaan yang telah lama ia jalani. Sebelum Penglipuran berkembang menjadi desa wisata, perempuan itu menggantungkan penghasilan dari warung kecil yang menjual makanan ringan, sembako, dan kebutuhan sehari-hari. "Sebelum ramai seperti sekarang, saya memang sudah jualan. Tapi jualannya beda, makanan, camilan, sama sembako," ujar Ibu Sari kepada Suara.com dibincangi belum lama ini.

Seiring berkembangnya Penglipuran sebagai desa wisata, beranda rumahnya ikut berubah fungsi. Wisatawan yang datang tidak lagi hanya membeli makanan atau minuman. Mereka menyewa pakaian adat, membeli cendera mata, hingga berbincang tentang kehidupan masyarakat Bali. "Yang paling membantu ya kalau tamu datang mau belanja, sewa pakaian, kaya (seperti) itulah," katanya.

Kalimat itu terdengar sederhana. Namun, dari beranda rumah Ibu Sari tergambar bagaimana pariwisata mengubah ruang-ruang pribadi masyarakat menjadi bagian dari aktivitas ekonomi, tanpa menghilangkan fungsi rumah sebagai tempat tinggal.

Penglipuran memang dikenal sebagai salah satu desa wisata terbaik di Indonesia. Namun, keberhasilannya tidak dibangun dalam waktu singkat.

Kelian Desa Adat Penglipuran, Wayan Budiarta, mengatakan cikal bakal pengembangan wisata dimulai pada awal 1990-an. Pemerintah Kabupaten Bangli kemudian menetapkan Penglipuran sebagai objek wisata melalui Peraturan Bupati pada 1993. Saat itu, wisatawan datang untuk menikmati suasana desa dan melihat rumah-rumah adat yang tetap dipertahankan.

Hampir dua dekade kemudian, tepatnya pada 2012, arah pengembangannya berubah. Penglipuran tidak lagi sekadar menjadi objek wisata, melainkan berkembang menjadi desa wisata berbasis masyarakat. Konsep tersebut membuat wisatawan tidak hanya melihat desa, tetapi juga ikut merasakan kehidupan masyarakat melalui berbagai aktivitas budaya.

Baca Juga: Sebelum Tragedi Bali, Deretan Kasus Main Hakim Sendiri di Sumsel Sudah Berulang Kali Terjadi

"Kami menawarkan aktivitas yang bisa dilakukan wisatawan. Mereka bisa belajar menari Bali, memainkan gamelan, membuat kerajinan, mengikuti permainan tradisional, sampai tinggal di homestay milik warga. Semua memanfaatkan kemampuan masyarakat yang memang sudah ada," ujar Wayan diwawancarai via telepon.

Konsep itu perlahan mengubah wajah ekonomi desa. Rumah-rumah warga tetap difungsikan sebagai tempat tinggal. Namun, sebagian ruangnya dimanfaatkan untuk menerima tamu, menyewakan pakaian adat, membuka warung makan, menjual kerajinan bambu, hingga menyediakan homestay. Warga yang memiliki kemampuan menari mengajar wisatawan menari. Perajin membuka kelas membuat kerajinan. Warung makan masyarakat dilibatkan dalam paket wisata agar manfaat ekonomi tidak berhenti di loket penjualan tiket.

Menurut Wayan, pengembangan desa wisata juga dilakukan secara bertahap. Homestay yang semula hanya sekitar 10 kamar kini berkembang menjadi lebih dari 50 kamar. Saat ini sekitar 70 orang terlibat sebagai tim pengelola desa wisata, sementara sebagian besar warga lainnya menjadi mitra yang menjalankan berbagai aktivitas wisata.

"Sekitar 98 persen masyarakat melakukan aktivitas perdagangan atau usaha yang berkaitan dengan pariwisata, mulai dari penyewaan pakaian adat, kerajinan bambu, kuliner, sampai homestay," ujarnya.

Setiap hari, ada sekitar 2.000 wisatawan berkunjung ke Penglipuran. Pada 2025, pendapatan dari tiket masuk mencapai sekitar Rp25 miliar. Nilai tersebut belum termasuk transaksi ekonomi yang langsung diterima masyarakat dari penyewaan pakaian adat, usaha kuliner, homestay, hasil kebun, maupun kerajinan bambu.

anak-anak ramai berbelanja di desa wisata Penglipuran

Meski demikian, Wayan menegaskan bahwa besarnya pendapatan bukan tujuan utama pembangunan desa wisata. "Wisata adalah bonus dan berkah. Yang terpenting, desa tetap hidup sebagai desa, budaya tetap menjadi roh kehidupan masyarakat," imbuhnya.

Load More