- Buku karya Taufik Wijaya membahas sejarah dan peran penting lahan basah Sungai Musi bagi peradaban masyarakat Sumatera Selatan.
- Diskusi buku di Palembang menyoroti hilangnya pengetahuan lokal dan tradisi akibat kerusakan lingkungan serta perubahan tata guna lahan.
- Para ahli menekankan perlunya dokumentasi pengetahuan masyarakat perairan agar identitas dan sejarah peradaban air tidak punah sepenuhnya.
Perdagangan itulah yang kemudian melahirkan percampuran budaya di sepanjang tepian Sungai Musi. Berbagai etnis, bahasa, tradisi, hingga pengetahuan bertemu melalui satu ruang yang sama yakni lahan basah.
Dengan demikian, sejarah Sumatera Selatan tidak hanya dibentuk oleh kerajaan besar seperti Sriwijaya, tetapi juga oleh hubungan panjang manusia dengan bentang lahan basah yang menopang kehidupan mereka.
Perspektif tersebut mendapat penguatan dari Pakar Perikanan Darat Universitas Muhammadiyah Palembang, Irkhamiawan Maruf, yang menjadi salah satu pembicara dalam diskusi buku.
Menurut Irkhamiawan, lahan basah memiliki fungsi yang jauh lebih luas dibanding sekadar kawasan perikanan. Kawasan ini menopang ekonomi masyarakat, menyediakan sumber protein, sekaligus menjaga keseimbangan lingkungan. Namun perhatian terhadap perairan darat masih jauh dari memadai.
Ia menilai salah satu persoalan mendasar adalah minimnya dokumentasi mengenai kehidupan masyarakat perairan. "Padahal bentangan kehidupan masyarakat Sumatera Selatan juga sebagian besar berada di kawasan perairan. Upaya-upaya mendokumentasikan segala hal di perairan darat sangat minim, seperti bagaimana jenis ikan berkembang dan hidup di kawasan perikanan darat tersebut," ujarnya.
Menurutnya, kajian mengenai antropologi masyarakat sungai, sejarah perikanan darat, hingga dokumentasi keanekaragaman hayati perairan masih sangat terbatas. Akibatnya, banyak pengetahuan lokal yang perlahan hilang bersamaan dengan perubahan bentang lahan basah.
Pandangan itu sesungguhnya menguatkan kegelisahan yang dibangun Taufik dalam bukunya. Ketika pengetahuan mengenai sungai tidak lagi diwariskan, yang hilang bukan hanya informasi tentang ikan atau vegetasi rawa, tetapi juga cara masyarakat membaca musim, mengelola ruang hidup, dan menjaga keseimbangan alam.
Sriwijaya dan Pengetahuan Mengelola Air
Diskusi tersebut juga memperlihatkan bahwa lahan basah tidak dapat dipisahkan dari sejarah panjang Sumatera Selatan.
Baca Juga: Lahan Basah Sungai Musi dalam Catatan, Ingatan dan Rasa Taufik Wijaya
Dosen Universitas Islam Negeri Raden Fatah Palembang, Ryllian Chandra Eka, mengingatkan bahwa kejayaan Sriwijaya lahir dari kemampuan masyarakat membaca dan mengelola air.
Ia menyinggung Prasasti Kedukan Bukit sebagai salah satu jejak bagaimana masyarakat pada masa itu telah memiliki pengetahuan mengenai tata kelola sungai. Pengetahuan tersebut menjadi modal penting dalam membangun sistem perdagangan, mobilitas, hingga kekuatan politik Sriwijaya. “Artinya, sebagai kerajaan maritim, Sriwijaya terlebih dahulu merupakan peradaban yang memahami karakter lahan basah,” timpalnya.
Bagi budayawan Anwar Putra Bayu, Sungai Musi beserta sembilan sungainya bukan sekadar bentang geografis. Sungai juga melahirkan cerita rakyat, mitos, bahasa, kuliner, hingga berbagai tradisi yang diwariskan turun-temurun.
Sementara budayawan lainnya, Tarech Rasyid melihat buku karya Taufik sebagai pemantik agar masyarakat kembali memahami bahwa identitas Sumatera Selatan sesungguhnya dibangun di atas peradaban air.
Pandangan tersebut diamini Plt Kepala Bidang Kebudayaan Sumatera Selatan Agung Saputro. Ia menilai dokumentasi mengenai kehidupan masyarakat lahan basah dapat menjadi pijakan penting dalam mengidentifikasi tradisi yang berpotensi ditetapkan sebagai Warisan Budaya Takbenda.
“Buku Lahan Basah Sungai Musi dalam Catatan, Ingatan, dan Rasa pada akhirnya bukan hanya mengajak pembaca memahami fungsi ekologis lahan basah. Buku ini mengingatkan bahwa setiap sungai menyimpan pengetahuan, setiap rawa menyimpan sejarah, dan setiap bentang air menyimpan jejak hubungan panjang antara manusia dengan alam sebagai budaya,” ucapnya.
Tag
Berita Terkait
-
Lahan Basah Sungai Musi dalam Catatan, Ingatan dan Rasa Taufik Wijaya
-
21 Ton Solar Ilegal Nyaris Masuk Tiga Tug Boat di Sungai Musi, Siapa di Baliknya?
-
Mayat Perempuan Mengapung di Sungai Musi Bikin Heboh, Ini Ciri-ciri Korban yang Dicari Polisi
-
Jembatan Ampera hingga Masjid Agung Palembang Resmi Jadi Cagar Budaya Nasional
-
BI Ungkap Strategi Jaga Harga Pangan di Sumsel, Inflasi Melandai Meski Kemarau Mengintai
Terpopuler
- Kajian UGM: Durasi Pidato Prabowo Naik Tiga Kali Lipat, Ucapan Tidak Pantas Tercatat 311 Kali
- 3 Sepatu Puma Tanpa Tali yang Nyaman Buat Jalan, Bergaya hingga Lari
- Urutan Skincare Pagi Viva untuk Anti-Aging Usia 40 Tahun ke Atas, Rawat Kulit Awet Muda
- 5 HP OPPO Terbaru di Indonesia, dari Midrange Tangguh hingga Flagship Superior
- Buntut Panjang RI Pangkas Ekspor Gas, Bahlil Kini Ketakutan Impor Pertalite Distop Singapura
Pilihan
-
Salib Merah Besar ala Film 'Pesta Babi' Hiasi Demo Mahasiswa di Dukuh Atas, Ini Maknanya
-
Tertahan di Gedung UOB, Ketegangan Pecah Saat Mahasiswa Ngotot Tembus Bundaran HI
-
Lepas Jaket Almamater, Mahasiswa Melebur dalam Aksi di Bundaran HI
-
RM Soeharjo Djajengasmoro: Tokoh Penting Pemuda yang Didepak dari Kampus Sendiri karena Ijazah
-
'Partai Mahasiswa' Serbia Guncang Eropa! Kalahkan Rezim Lewat Pemilu
Terkini
-
Mahasiswa Kemah di Kantor Gubernur Sumsel saat Sumpah Pemuda, Desak Transparansi Anggaran Karhutla
-
Sopir Logistik Diminta Setop Masuk Empat Lawang, Ada Cerita Perampokan Pukul 05.00 WIB
-
PBB IGM Palembang Menunggak Rp2,33 Miliar, Bapenda dan Yayasan Beda Pandangan soal Status Nirlaba
-
438 Ribu Kasus ISPA di Sumsel, Siapa Menghitung Kerugian Perempuan dan Anak akibat Karhutla?
-
Edison Didakwa Terima Rp4,67 Miliar dalam Kasus Smart Board, Jaksa Ungkap Dugaan Transaksi Bertahap