Tasmalinda
Senin, 13 Juli 2026 | 20:31 WIB
pertamuan gubernur Sumsel herman deru dan Direktur Utama Pelindo Achmad Muchtasyar di Palembang
Baca 10 detik
  • Pemerintah Provinsi Sumatera Selatan menargetkan pembangunan fisik Pelabuhan Tanjung Carat dimulai pada September atau Oktober tahun 2026 mendatang.
  • Konsorsium pengembang yang melibatkan PT Pelindo, PT SPI, dan PT SEG telah terbentuk untuk mempercepat realisasi megaproyek pelabuhan tersebut.
  • Proses pembangunan masih memerlukan penyelesaian administrasi, sertifikasi lahan, serta pembangunan akses jalan tol dan jalur kereta api pendukung.

Di sinilah September 2026 menjadi momentum penting. Apakah target tersebut benar-benar menjadi titik dimulainya pembangunan, atau masyarakat Sumsel masih harus kembali menunggu?

Konsorsium Sudah Terbentuk, Pelindo Pegang Saham Mayoritas

Harapan terhadap percepatan Tanjung Carat menguat setelah konsorsium pengembang terbentuk. Tiga perusahaan terlibat di dalamnya, yakni PT Pelabuhan Indonesia (Persero), PT Samudera Pasai Indonesia (SPI), dan PT Sumsel Energi Gemilang (Perseroda/SEG).

Berdasarkan Head of Agreement (HoA), komposisi kepemilikan saham terdiri atas Pelindo sebesar 51 persen, PT SPI 30 persen, dan PT SEG 19 persen.

Direktur Utama Pelindo Achmad Muchtasyar menyatakan kesiapan perusahaan untuk mempercepat realisasi pembangunan. Namun, ia juga mengingatkan bahwa pelabuhan tidak bisa berdiri sendiri. Keberadaan akses jalan tol dan jalur kereta api dinilai penting agar operasional Tanjung Carat berjalan optimal.

"Dengan terbentuknya konsorsium ini, mudah-mudahan pembangunan pelabuhan bisa dipercepat. Mari kita turunkan sedikit ego masing-masing," kata Achmad.

Pernyataan tersebut menunjukkan bahwa terbentuknya konsorsium menjadi kemajuan penting. Meski demikian, masih ada pekerjaan besar untuk memastikan pelabuhan memiliki konektivitas yang memadai ketika nantinya beroperasi.

Lahan Belum Seluruhnya Tuntas

Di tengah optimisme mengejar target September 2026, persoalan lahan juga menjadi bagian yang patut dicermati. Asisten II Bidang Ekonomi dan Pembangunan Setda Sumsel Basyaruddin Akhmad menjelaskan sertifikasi lahan seluas 59,9 hektare telah selesai. Sementara lahan di Mozaik 5 dan 6 seluas 81,88 hektare masih dalam proses pengukuran ulang oleh ATR/BPN.

Baca Juga: Mulai Hari Ini, Isi Solar Subsidi di 10 SPBU Palembang Wajib Ikuti Aturan Baru

Penyelesaian kesepakatan lahan bersama Kementerian Keuangan juga masih terus dipercepat. Pembangunan pelabuhan saja belum cukup. Konektivitas menuju Tanjung Carat menjadi faktor penting yang akan menentukan apakah megaproyek tersebut nantinya mampu beroperasi secara optimal.

Pemerintah berencana mengaktifkan kembali Proyek Strategis Nasional (PSN) pembangunan jalan tol dan memberikan penugasan kepada PT Hutama Karya untuk membangun akses jalan bebas hambatan menuju Pelabuhan Internasional Samudera Tanjung Carat.

Selain tol, akses jalur kereta api juga dinilai penting untuk mendukung arus barang menuju kawasan pelabuhan.

Dengan demikian, tantangan Tanjung Carat bukan semata bagaimana memulai konstruksi pelabuhan pada September 2026. Tantangan yang tak kalah besar adalah memastikan pelabuhan tersebut nantinya terhubung dengan jaringan transportasi yang memungkinkan arus logistik berlangsung secara efisien.

Publik Sumatera Selatan kini tidak hanya menunggu pengumuman, nama baru, ataupun target baru. Setelah penantian panjang, yang paling dinanti adalah bukti konkret bahwa pembangunan fisik benar-benar dimulai di lapangan.

Jika target itu terealisasi, September 2026 bisa menjadi titik balik dari sebuah proyek yang selama bertahun-tahun hidup dalam perencanaan dan harapan.

Load More