- Masyarakat Musi di Kabupaten PALI melestarikan Jongot sebagai warisan budaya dan identitas kolektif yang telah bertahan selama dua abad.
- Jongot merupakan sistem agroforestri tradisional yang berfungsi menjaga sumber pangan, ketersediaan air, serta keberagaman ekosistem di lahan basah.
- Tradisi ini menghadapi tantangan serius berupa alih fungsi lahan dan minimnya regenerasi pengetahuan dari generasi muda saat ini.
Dari kawasan itulah keluarga memperoleh buah-buahan, kayu, tanaman obat, hingga kebutuhan sehari-hari lainnya. "Jaman dulu akses utama menggunakan transportasi air. Karena itu masyarakat membuka Jongot di sekitar kawasan pemukiman yang dekat dengan perairan," ujarnya.
Keberadaan pohon-pohon besar juga membantu menjaga ketersediaan air di sekitar kawasan tersebut. Karena itulah banyak masyarakat tua meyakini bahwa hilangnya Jongot tidak hanya mengurangi jumlah pohon, tetapi juga mengubah keseimbangan lingkungan yang selama ini menopang kehidupan mereka.
Meski telah bertahan selama ratusan tahun, Ainur menilai Jongot kini menghadapi tantangan terbesar dalam sejarahnya. Tekanan ekonomi membuat banyak kawasan Jongot beralih fungsi menjadi perkebunan karet dan sawit. Di sisi lain, generasi muda semakin sedikit yang mengenal tradisi tersebut.
Dalam penelitiannya, Ainur menyebut kondisi itu sebagai ancaman terhadap transmisi pengetahuan lintas generasi yang selama ini menjadi fondasi keberlanjutan Jongot.
Kekhawatiran serupa juga dirasakan Tony, pewaris generasi keempat Jongot di PALI. Menurutnya, semakin banyak anak muda yang tidak lagi memahami makna Jongot.
"Sedih juga melihat anak-anak sekarang banyak yang tidak tahu tentang Jongot," katanya.
Padahal di dalam Jongot terdapat puluhan jenis tanaman yang selama ini menjadi sumber pangan dan obat tradisional masyarakat.
Tony sendiri masih menjaga Jongot keluarganya yang luasnya sekitar setengah hektare. Di kawasan tersebut tumbuh ratusan pohon dari berbagai jenis tanaman yang diwariskan oleh leluhurnya.
Menjaga Lebih dari Sekadar Pohon
Baca Juga: Budayawan, Arkeolog, dan Akademisi Ramaikan Festival Lahan Basah Pertama Indonesia, Digelar di PALI
Bagi masyarakat Musi, alasan mempertahankan Jongot tidak selalu berkaitan dengan nilai ekonomi. Tony mengaku pernah mendapat tawaran hingga ratusan juta rupiah untuk menjual Jongot keluarganya.
Namun tawaran itu ditolak. "Ada yang pernah menawar sampai ratusan juta rupiah, tetapi kami tidak tertarik menjualnya. Kami ingin anak cucu nanti tetap bisa menikmati hasilnya," ujarnya.
Menurut Ainur, sikap seperti itulah yang membuat Jongot mampu bertahan hingga sekarang.
Jongot bukan sekadar ruang produksi. Ia juga menjadi ruang tempat keluarga berkumpul, mengenang leluhur, dan mewariskan pengetahuan kepada generasi berikutnya. "Ketika satu Jongot hilang, yang hilang bukan hanya pohonnya. Yang ikut hilang adalah pengetahuan, sejarah keluarga, dan identitas masyarakat yang hidup di dalamnya," katanya.
Di tengah perubahan lanskap Sumatera Selatan yang terus berlangsung, Festival Lahan Basah Tempirai menjadi pengingat bahwa Jongot bukan hanya cerita masa lalu.
Ia adalah bukti bahwa masyarakat Musi telah menemukan cara menjaga pangan, air, dan alam jauh sebelum dunia berbicara tentang keberlanjutan.
Tag
Berita Terkait
-
Budayawan, Arkeolog, dan Akademisi Ramaikan Festival Lahan Basah Pertama Indonesia, Digelar di PALI
-
Bank Sumsel Babel Perkuat Tata Kelola dan Perlindungan Aset Lewat Kerja Sama dengan Kejari PALI
-
Apa Itu Jongot? Cara Orang Musi Menjaga Pangan, Air, dan Ingatan Leluhur di Sumsel
-
Film Jongot Merekam Cara Orang Musi Menjaga Pangan, Air, dan Ingatan Leluhur
-
Iwan Tuaji Jadi Tersangka, Apakah Bupati Asgianto Ikut Terseret?
Terpopuler
- Siapa Ginka Febriyanti yang Kini jadi Komisaris Pertamina Retail
- 5 HP Memori 256 GB Harga di Bawah Rp2 Juta, Bisa Simpan Ribuan File dan Gaming
- 4 Sepatu Lari Ardiles Terbaik Paling Laris di Shopee, Lengkap Review dan Harganya
- 3 Rekomendasi Bedak Padat di Indomaret untuk Makeup Halus dan Tahan Lama
- 4 HP Murah Terbaru 2026 untuk Anak Sekolah: Baterai 7000 mAh hingga Koneksi 5G
Pilihan
-
Korban Meninggal Latsarmil SPPI Bertambah Menjadi 5 Orang, Ini Penjelasan Kemhan
-
Lagi! Peserta Latsarmil Kopdes Merah Putih Meninggal, Rifki Renaldi Jadi Korban Ke-4
-
Jelang Lawan Mesir, Striker Iran Mehdi Taremi Ditahan Otoritas AS
-
Semua Pengurus BEM FH UBK Dipecat, Kasus Suap Rp 20 Juta dari Polisi
-
Satu Kapal Tanker Pertamina Lolos dari Selat Hormuz
Terkini
-
Festival Lahan Basah Tempirai: Kedatuan Sriwijaya Menjaga Lahan Basah Sungai Musi
-
Sepekan Festival Lahan Basah Tempirai, Merawat Budaya dan Pengetahuan Masyarakat Musi
-
Bank Sumsel Babel Pacu Digitalisasi Keuangan Daerah, Banyuasin Percepat Implementasi KKPD
-
Di Tengah Ramai Desakan Tes Urine, Prima Salam Kembali Muncul di Acara Gerindra
-
Rp160 Miliar Diduga Tak Pernah Masuk Kas Daerah, Aktor Utama Korupsi Sungai Lalan Dibidik