- Muhammad Taufik melestarikan Tenun Blongsong di Tuan Kentang, Palembang, dengan menjaga teknik pembuatan tradisional yang memakan waktu berbulan-bulan.
- Proses menenun kain secara manual membutuhkan ketelitian tinggi serta kesabaran ekstra untuk menghasilkan motif flora khas Palembang.
- Taufik memasarkan produknya ke berbagai daerah melalui JNE guna menjaga keberlangsungan warisan budaya agar tidak hilang.
Perjalanan Tenun Blongsong tidak berhenti di pasar domestik. Dari Tuan Kentang, warisan budaya itu bergerak menuju berbagai kota, membawa cerita tentang tradisi yang masih hidup di tepian Sungai Musi.
Sejak meneruskan usaha keluarga yang telah berjalan puluhan tahun, Taufik mempercayakan pengiriman produknya kepada JNE. Kepercayaan itu tumbuh dari pengalaman panjang menggunakan layanan tersebut untuk mengirim kain kepada pelanggan di berbagai daerah.
"Dari awal usaha memang lebih sering menggunakan JNE. Menurut saya lebih bertanggung jawab dan amanah dalam menyampaikan barang. Pernah ada cerita barang di ekspedisi lain harus diretur atau tidak sampai ke tujuan, sementara kami selama ini cukup nyaman menggunakan JNE," katanya.
Ia juga menilai layanan JNE YES memberikan kepastian bagi pelanggan karena terdapat jaminan apabila barang tidak sampai sesuai waktu yang dijanjikan. "Kalau tidak sesuai waktu ada penggantian ongkir. Itu yang membuat kami lebih tenang dan sering merekomendasikan JNE sebagai pilihan utama," ujarnya.
Kepercayaan pelanggan, menurut Kepala Cabang JNE Palembang Shendy Maulana, menjadi hal utama yang terus dijaga perusahaan. "Kepercayaan pelanggan adalah hal utama bagi kami. Komitmen menjaga mutu layanan adalah prioritas. Kami ingin JNE selalu hadir memberi yang terbaik bagi masyarakat," kata Shendy.
Menurutnya, peningkatan layanan akan terus dilakukan agar masyarakat dan pelaku usaha daerah semakin mudah menjangkau pasar yang lebih luas.
Bagi Taufik, perjalanan Tenun Blongsong sesungguhnya tidak dimulai ketika kain dikemas dan dikirim ke pelanggan. Perjalanan itu dimulai jauh sebelumnya, ketika pengetahuan menenun diwariskan dari satu generasi ke generasi berikutnya.
Dari tangan para penenun di Tuan Kentang, warisan itu bergerak bersama setiap helai benang yang dirangkai. Ketika kain akhirnya sampai ke tangan pembeli di luar Palembang, yang tiba bukan hanya selembar wastra, melainkan juga cerita tentang ketekunan, identitas budaya, dan kerja panjang yang berlangsung selama berbulan-bulan.
Di sisi lain, upaya menjaga keberlangsungan wastra Palembang juga mendapat dukungan Pemerintah Kota Palembang. Wali Kota Palembang Ratu Dewa mendorong penggunaan kain khas daerah dalam berbagai kegiatan resmi maupun agenda di luar daerah sebagai bagian dari promosi budaya dan pelestarian identitas kota.
Baca Juga: KAI Tambah Kereta Eksekutif KA Sindang Marga Akomodir Libur Tahun Baru Islam 1448 H
Bagi pelaku tenun seperti Taufik, dukungan tersebut menjadi penting. Sebab tradisi hanya akan bertahan jika terus digunakan, dikenalkan, dan diwariskan kepada generasi berikutnya.
Di rumah-rumah tenun Tuan Kentang, suara alat tenun masih terus terdengar. Benang demi benang masih dirangkai. Motif demi motif masih dilahirkan. Di sanalah sebuah warisan lama Palembang terus diperjuangkan agar tidak hilang.
Selembar Tenun Blongsong mungkin hanya membutuhkan beberapa hari untuk sampai ke tangan pembeli. Namun perjalanan sesungguhnya telah dimulai jauh sebelumnya, ketika benang demi benang dirangkai dengan sabar oleh tangan-tangan yang menjaga warisan Palembang. Selama masih ada orang seperti Taufik yang merawatnya dan generasi muda yang mau mempelajarinya, Tenun Blongsong akan terus bergerak melampaui ruang dan waktu, menolak untuk dilupakan.
Tag
Berita Terkait
-
KAI Tambah Kereta Eksekutif KA Sindang Marga Akomodir Libur Tahun Baru Islam 1448 H
-
Sudah Berjam-jam Bertahan, Mahasiswa Terus Berorasi soal BBM hingga MBG di DPRD
-
Aksi 'Menuju Indonesia Bangkrut' di Palembang Hari Ini, Mahasiswa Bawa 9 Tuntutan ke DPRD
-
Mampukah CFD Ampera Menjadi Malioboro Mingguan Palembang?
-
Pulang Kerja Jam 4 Pagi, Pekerja Perempuan di Palembang Dibegal dan Ditodong Senpi
Terpopuler
- Mengapa Pertalite Mau Dihapus?
- Apa Itu Sepatu Hybrid? Ini 5 Rekomendasi Buatan Lokal Terbaik dan Serbaguna
- Soal TNI-Komcad Dikerahkan di Demo Mahasiswa, Ini Reaksi Komisi I DPR
- Neymar Dipastikan Absen di Piala Dunia 2026, Kesalahan Pertama Ancelotti
- Motor Mirip Harley-Davidson Harga Rasa Matic: Mending Morbidelli C252V atau QJ Motor SRV250?
Pilihan
-
Aksi di DPR Memanas! Peserta Demo Cipayung Menggugat Ngaku Dianiaya Polisi usai Ditangkap
-
Wasit Liga Indonesia 'Berulah', FIFA Investigasi Kemenangan Timnas Jerman vs Curacao
-
Mahasiswa Gelar Demo di DPR, Tagih Janji 19 Juta Lapangan Kerja dan Desak Hentikan MBG
-
Mau Aksi di Patung Kuda, Mahasiswa UBK Sempat Dihadang di Tugu Tani
-
Anggaran Kunjungan Luar Negeri Prabowo Tembus Rp1,1 T! Lebih Besar dari TKD Satu Kabupaten di NTB
Terkini
-
12 Kali Raih WTP, Mengapa BPK Masih Minta Sumsel Benahi Sejumlah Hal?
-
Puasa 1 Muharram, Sunnah atau Sekadar Tradisi? Ini Niat dan Penjelasan Ulama
-
Korban Terus Bertambah, Dugaan Penipuan Rp1,4 Miliar yang Seret Ibu Bhayangkari Bikin Heboh
-
PTBA Uji Biomassa Kaliandra Merah untuk Kurangi Emisi Karbon dan Dukung Transisi Energi
-
Terbang ke Kuala Lumpur Kini Lebih Mudah, AirAsia Tambah Penerbangan dari Palembang