- Film dokumenter Jongot karya Nopri Ismi mendokumentasikan kearifan lokal masyarakat Musi di Kabupaten PALI, Sumatera Selatan.
- Jongot merupakan lahan warisan leluhur yang berfungsi sebagai sumber pangan, apotek hidup, dan penjaga sumber air keluarga.
- Di tengah ekspansi perkebunan, masyarakat berupaya mempertahankan Jongot sebagai ruang hidup meski menghadapi tantangan perubahan zaman.
SuaraSumsel.id - Di tengah bentang alam Sumatera Selatan yang terus berubah akibat ekspansi perkebunan sawit dan karet, sebuah film dokumenter mengajak publik menengok kembali cara hidup yang selama ratusan tahun dijaga masyarakat suku Musi di Panukal, Kabupaten Penukal Abab Lematang Ilir (PALI).
Cara hidup itu tidak hanya berbicara tentang hubungan manusia dengan alam, tetapi juga tentang bagaimana pangan, air, pengetahuan, dan sejarah keluarga diwariskan dari satu generasi ke generasi berikutnya. Kisah itulah yang diangkat dalam film Jongot: Warisan Leluhur untuk Alam dan Manusia karya jurnalis dan pegiat budaya Sumatera Selatan, Nopri Ismi, yang diputar dalam acara nonton bareng dan diskusi pada Sabtu (6/6/2026).
Didukung melalui Dana Indonesiana 2025, film berdurasi sekitar 50 menit tersebut mendokumentasikan keberadaan Jongot, sebuah ruang hidup masyarakat Musi yang selama ini menjadi sumber pangan, penyimpan tanaman obat, penjaga sumber air, sekaligus tempat bersemayamnya ingatan tentang leluhur.
Melalui gambar-gambar yang merekam kehidupan masyarakat di Kabupaten Penukal Abab Lematang Ilir (PALI), film ini mengajak penonton memahami bahwa di balik rindangnya pepohonan dan beragam tanaman yang tumbuh di Jongot, tersimpan cara hidup yang perlahan mulai terdesak oleh perubahan zaman.
Jongot, Lebih dari Sekadar Lahan
Bagi masyarakat Musi, Jongot bukan sekadar lahan yang ditumbuhi pohon buah atau tanaman hutan. Jongot lahir dari sejarah panjang masyarakat perairan yang sejak dahulu membangun kehidupan di dekat sungai dan sumber air.
Dalam diskusi setelah pemutaran film, Ibrahim, salah satu pewaris Jongot di PALI, menjelaskan bahwa pada masa lalu sungai merupakan jalur transportasi utama masyarakat. Karena itu, pemukiman dibangun di dekat perairan dan di sekitarnya ditanam berbagai tanaman yang dibutuhkan keluarga.
"Jaman dulu akses utama menggunakan transportasi air. Karena itu masyarakat membuka Jongot di sekitar kawasan pemukiman yang dekat dengan perairan," ujarnya.
Seiring waktu, kawasan yang awalnya menjadi penyangga kebutuhan keluarga tersebut berkembang menjadi ruang hidup yang kaya akan berbagai jenis tanaman.
Baca Juga: Film 'Jongot' Angkat Kearifan Suku Musi dalam Menjaga Hutan dan Alam
Berbeda dengan kebun monokultur yang hanya berisi satu komoditas, Jongot dipenuhi berbagai jenis pohon yang tumbuh secara alami mengikuti kondisi lahan.
Di dalamnya dapat ditemukan durian, petai, aren, kemang, tempuarai, tanjam buntut, hingga pohon-pohon besar seperti meranti yang telah berdiri selama puluhan bahkan ratusan tahun.
Bagi masyarakat setempat, keberagaman itu bukan kebetulan. Setiap tanaman memiliki fungsi dan manfaat bagi kehidupan keluarga. "Mulai dari buah, batang sampai akar semuanya bermanfaat," kata Ibrahim.
Menyimpan Pangan untuk Generasi Berikutnya
Salah satu pesan kuat yang muncul dalam film adalah bagaimana Jongot berfungsi sebagai sumber pangan keluarga. Jauh sebelum masyarakat mengenal supermarket atau rantai distribusi pangan modern, Jongot telah menyediakan berbagai kebutuhan hidup.
Saat musim panen tiba, masyarakat dapat menikmati hasil dari pohon-pohon yang ditanam leluhur mereka puluhan tahun sebelumnya.
Berita Terkait
-
Film 'Jongot' Angkat Kearifan Suku Musi dalam Menjaga Hutan dan Alam
-
Melestarikan Sastra Tutur di Tempirai Melalui Buku dan Film Dokumenter
-
Selamatkan Lingkungan & Berdayakan Ibu-ibu, BRI Peduli Ubah Minyak Jelantah Jadi Sabun
-
Bom Waktu Lingkungan di Sumsel: 3 Bencana Ekologis yang Mengintai Hingga 2030?
-
Ribuan Tas Purun Laris Manis Dijual di 10 Negara Amerika
Terpopuler
- 5 Kulkas 1 Pintu Anti Bunga Es dan Hemat Listrik, Harga Mulai Rp1 Jutaan
- Tok! Panja DPR Sepakati RUU Polri: Usia Pensiun Bintara 59 Tahun, Perwira 60 Tahun
- Resmi! Chatib Basri Dapat Jabatan Baru Hari Ini
- Beda Cushion Wardah Colorfit Hijau dan Krem: Intip Harga, Kandungan, dan Manfaatnya
- 5 HP Android dengan Kualitas Setara iPhone 13 Pro dan iPhone 13 Pro Max
Pilihan
-
Anaknya Terlibat di Program MBG, Wamenaker Afriansyah Noor Beri Penjelasan Usai Namanya Terseret
-
Namanya Terseret Isu Dugaan Korupsi BGN, Yahya Golkar: Semua Anggota Komisi IX DPR Tak Terlibat!
-
Perhatian! Harga Pertamax Naik Jadi Rp 16.250/Liter
-
Susunan Pemain Timnas Indonesia vs Mozambik di FIFA Matchday Malam Ini
-
Menkes Budi Gunadi Sadikin Susul Chatib Basri dan Luhut ke Istana
Terkini
-
Harga Pertamax Naik Jadi Rp16.250, Ini Dampaknya bagi Kelas Menengah dan UMKM di Sumsel
-
Apa Itu Jongot? Cara Orang Musi Menjaga Pangan, Air, dan Ingatan Leluhur di Sumsel
-
Program MBG Bermasalah? Sejumlah Dapur di Sumsel Ternyata Berhenti Sementara
-
Film Jongot Merekam Cara Orang Musi Menjaga Pangan, Air, dan Ingatan Leluhur
-
Mengenal Muhamad Suryadi, Nahkoda Baru Bank Sumsel Babel