Tasmalinda
Rabu, 10 Juni 2026 | 11:20 WIB
pemutaran film dokumenter jongot di Tempirai, Pali, Sabtu (10/6/2026)
Baca 10 detik
  • Film dokumenter Jongot karya Nopri Ismi mendokumentasikan kearifan lokal masyarakat Musi di Kabupaten PALI, Sumatera Selatan.
  • Jongot merupakan lahan warisan leluhur yang berfungsi sebagai sumber pangan, apotek hidup, dan penjaga sumber air keluarga.
  • Di tengah ekspansi perkebunan, masyarakat berupaya mempertahankan Jongot sebagai ruang hidup meski menghadapi tantangan perubahan zaman.

SuaraSumsel.id - Di tengah bentang alam Sumatera Selatan yang terus berubah akibat ekspansi perkebunan sawit dan karet, sebuah film dokumenter mengajak publik menengok kembali cara hidup yang selama ratusan tahun dijaga masyarakat suku Musi di Panukal, Kabupaten Penukal Abab Lematang Ilir (PALI).

Cara hidup itu tidak hanya berbicara tentang hubungan manusia dengan alam, tetapi juga tentang bagaimana pangan, air, pengetahuan, dan sejarah keluarga diwariskan dari satu generasi ke generasi berikutnya. Kisah itulah yang diangkat dalam film Jongot: Warisan Leluhur untuk Alam dan Manusia karya jurnalis dan pegiat budaya Sumatera Selatan, Nopri Ismi, yang diputar dalam acara nonton bareng dan diskusi pada Sabtu (6/6/2026).

Didukung melalui Dana Indonesiana 2025, film berdurasi sekitar 50 menit tersebut mendokumentasikan keberadaan Jongot, sebuah ruang hidup masyarakat Musi yang selama ini menjadi sumber pangan, penyimpan tanaman obat, penjaga sumber air, sekaligus tempat bersemayamnya ingatan tentang leluhur.

Melalui gambar-gambar yang merekam kehidupan masyarakat di Kabupaten Penukal Abab Lematang Ilir (PALI), film ini mengajak penonton memahami bahwa di balik rindangnya pepohonan dan beragam tanaman yang tumbuh di Jongot, tersimpan cara hidup yang perlahan mulai terdesak oleh perubahan zaman.

Jongot, Lebih dari Sekadar Lahan

Bagi masyarakat Musi, Jongot bukan sekadar lahan yang ditumbuhi pohon buah atau tanaman hutan. Jongot lahir dari sejarah panjang masyarakat perairan yang sejak dahulu membangun kehidupan di dekat sungai dan sumber air.

Dalam diskusi setelah pemutaran film, Ibrahim, salah satu pewaris Jongot di PALI, menjelaskan bahwa pada masa lalu sungai merupakan jalur transportasi utama masyarakat. Karena itu, pemukiman dibangun di dekat perairan dan di sekitarnya ditanam berbagai tanaman yang dibutuhkan keluarga.

"Jaman dulu akses utama menggunakan transportasi air. Karena itu masyarakat membuka Jongot di sekitar kawasan pemukiman yang dekat dengan perairan," ujarnya.

Seiring waktu, kawasan yang awalnya menjadi penyangga kebutuhan keluarga tersebut berkembang menjadi ruang hidup yang kaya akan berbagai jenis tanaman.

Baca Juga: Film 'Jongot' Angkat Kearifan Suku Musi dalam Menjaga Hutan dan Alam

Berbeda dengan kebun monokultur yang hanya berisi satu komoditas, Jongot dipenuhi berbagai jenis pohon yang tumbuh secara alami mengikuti kondisi lahan.

Di dalamnya dapat ditemukan durian, petai, aren, kemang, tempuarai, tanjam buntut, hingga pohon-pohon besar seperti meranti yang telah berdiri selama puluhan bahkan ratusan tahun.

Bagi masyarakat setempat, keberagaman itu bukan kebetulan. Setiap tanaman memiliki fungsi dan manfaat bagi kehidupan keluarga. "Mulai dari buah, batang sampai akar semuanya bermanfaat," kata Ibrahim.

Menyimpan Pangan untuk Generasi Berikutnya

Salah satu pesan kuat yang muncul dalam film adalah bagaimana Jongot berfungsi sebagai sumber pangan keluarga. Jauh sebelum masyarakat mengenal supermarket atau rantai distribusi pangan modern, Jongot telah menyediakan berbagai kebutuhan hidup.

Saat musim panen tiba, masyarakat dapat menikmati hasil dari pohon-pohon yang ditanam leluhur mereka puluhan tahun sebelumnya.

Load More