- Tempirai, wilayah lahan basah di PALI, Sumatera Selatan, melestarikan tradisi Suku Musi melalui sastra tutur terancam punah.
- Buku "Sastra Tutur dan Lainnya di Tempirai" oleh Amrullah mendokumentasikan pengetahuan leluhur yang kini rentan hilang.
- Kegiatan bedah buku mendorong pelestarian memori kolektif Tempirai sebagai jembatan pendidikan budaya antargenerasi.
SuaraSumsel.id - Tempirai merupakan pemukiman tua di wilayah Kecamatan Penukal Utara, Kabupaten Penukal Abab Lematang Ilir (PALI), Sumatera Selatan. Tempirai berada di wilayah lahan basah, yang luasnya sekitar 13.904 hektar.
Di Tempirai masih terjaga sejumlah tradisi masyarakat lahan basah Suku Musi. Misalnya kerajinan peralatan dan cara menangkap ikan, kerajinan anyaman, kuliner sagarurung, ritual sungai, seni bela diri kuntau, seni tari lading, obat-obatan tradisional, hutan adat jongot, dan lainnya.
Berbagai tradisi ini senantiasa dijaga melalui tuturan atau lisan, yang menjadi alat transmisi pesan atau kisah tertentu dan dilakukan dalam keluarga atau acara adat. Secara umum tuturan ini disampaikan dalam bentuk karya sastra dan petuah yang dilisankan.
Beberapa sastra tutur yang masih bertahan di Tempirai antara lain senjang, tembang, dundai, petuoh, dan legenda.
Berangkat dari hal tersebut, Amrullah Marsup, penulis buku “Sastra Tutur dan Lainnya di Tempirai” menegaskan bahwa sastra lisan atau tutur merupakan media utama leluhur Tempirai dalam menyampaikan pengetahuan, nilai, dan kecerdasan spiritual kepada generasi berikutnya.
“Sastra tutur ini adalah cara leluhur kita mengungkapkan kecerdasan, kearifan, spiritualitasnya. Dari sana mereka mengajarkan bagaimana manusia bersikap dengan alam, kepada sesama, dan kepada yang maha kuasa,” ujarnya saat acara bedah buku tersebut berlangsung di Balai Desa Tempirai, Kecamatan Penukal Utara, Kabupaten PALI, yang diselenggarakan Kampung Ingggrsi Tempirai yang didukung Balai Pelestarian Kebudayaan (BPK) Wilayah VI, Sumatera Selatan, Sabtu (25/1/2026).
Lelaki kelahiran Desa Tempirai tahun 1969 tersebut menjelaskan sastra tutur yang bertahan di Tempirai seperti senjang, dundai, petuoh, hingga legenda merupakan media pendidikan budaya yang diwariskan secara lisan. Namun seiring berkurangnya penutur, banyak sastra tutur tersebut terancam hilang.
“Selama ini sastra tutur hanya hidup dalam ingatan orang-orang tua. Kalau tidak kita tuliskan sekarang, bisa jadi anak cucu kita nanti tidak lagi mengenalnya,” katanya.
Dalam buku tersebut Amrullah mendokumentasikan berbagai sastra utur yang masih dikenal masyarakat Tempirai, termasuk legenda “Danau Burung” dan “Putri Darah Putih”, serta berbagai tuturan ritual dan ungkapan syukur masyarakat. Seluruh materi digali langsung dari para pelestari sastra tutur dan pelaku budaya setempat yang masih hidup.
Baca Juga: Kejar Penghargaan Bergengsi, Lomba Jurnalistik Bank Sumsel Babel 2026 Dimulai
Akademisi UIN Raden Fatah Palembang, Dian Maulina menekankan bahwa sastra tutur merupakan bagian dari memori kolektif masyarakat yang lahir dari relasi panjang antara manusia dan lingkungan.
“Kebudayaan itu adalah memori. Memori tentang alam, tentang pengalaman hidup, dan tentang bagaimana manusia bertahan. Sastra tutur adalah ingatan-ingatan itu,” kata Dian.
Menurutnya, proses penyusunan buku ini bukan hanya kerja akademik, melainkan upaya menghidupkan kembali ingatan kolektif yang selama ini tersebar dalam cerita-cerita lisan.
“Kami tidak menciptakan cerita baru. Kami hanya mengumpulkan, mendengarkan, dan menuliskan kembali apa yang hidup di tengah masyarakat Tempirai,” katanya.
Dian berharap buku ‘Sastra Tutur dan Lainnya di Tempirai’ dapat menjadi jembatan antargenerasi sekaligus sumber pembelajaran budaya bagi generasi muda.
“Apa yang ditulis Amrullah ini mungkin haya setitik dari proses kebudayaan yang panjang. Tapi setitik ini penting agar generasi berikutnya punya pijakan untuk melanjutkan cerita mereka sendiri,” kata Dian Maulina sebagai editor buku tersebut.
Berita Terkait
-
Kejar Penghargaan Bergengsi, Lomba Jurnalistik Bank Sumsel Babel 2026 Dimulai
-
Kompetisi Karya Jurnalistik Bank Sumsel Babel 2026: Syarat, Tema, dan Cara Ikut
-
Sriwijaya FC Terpuruk di Kandang, Sumsel United Justru Pamer Kekuatan
-
Saatnya Berkarya 2026! Bank Sumsel Babel Kick Off Kompetisi Karya Jurnalistik untuk Insan Media
-
5 Fakta Jejak Haji Halim di Sumsel, Tokoh Lokal yang Sering Didatangi Capres
Terpopuler
- Guru Besar UII: Publik Tak Cukup Tuntut Maaf, Layak Layangkan Mosi Tidak Percaya pada Prabowo
- Sayembara Rp10 Juta Dedi Mulyadi Dikritik UGM, Dinilai Cermin Gagalnya Negara Jamin Keamanan
- Tak Terima Disita, Pemilik Emas dan Uang Sitaan Kejagung di Kasus Febrie Bakal Ajukan Praperadilan
- Serum Viva untuk Flek Hitam Warna Apa? Ini 2 Varian Terbaiknya
- 5 Rekomendasi Parfum Aroma Vanilla di Alfamart, Wangi Mewah Tahan Lama untuk Harian
Pilihan
-
Bukan Sekadar Urusan Nasi Uduk di Matraman, 'Waspada Skenario Kerusuhan Agustus 2026'
-
Penjaga Rumah Febrie Adriansyah Ditemukan Tewas, Mulut dan Hidung Berbusa
-
Febrie Adriansyah Resmi Ditahan Kejagung, Teriak Kriminalisasi Saat Digiring ke Mobil Tahanan
-
Takut Lumpuh, Hotman Paris Pilih Mundur Jadi Pengacara Febrie Usai Pijit di Bojong Gede Tak Mempan
-
Saraf Terjepit, Hotman Paris Putuskan Mundur Jadi Kuasa Hukum Eks Jampidsus Febrie Adriansyah
Terkini
-
Perahu Mahasiswa KKN Terbalik di Muratara, Begini Kronologi hingga Satu Korban Hilang
-
Polemik Baru Pulau Kemaro, Muncul Tuntutan Pulihkan Jejak Kesultanan Palembang
-
Mengapa Mafia BBM di Sumsel Tak Kunjung Habis? Polisi Bongkar 96 Kasus dalam 7 Bulan
-
Pembalut Kain Makin Dilirik, WCC Palembang Kenalkan Cindo-Pads untuk Menstruasi Sehat
-
Merawat Nyala Wayang Palembang, Warisan Kesultanan yang Menjadi Ruang Belajar Generasi Muda