-
Sumatera Selatan menghadapi tiga ancaman ekologis besar yaitu kebakaran hutan, banjir, dan pencemaran lingkungan.
-
Kerusakan lahan gambut membuat wilayah Sumsel semakin rentan terhadap kebakaran dan banjir besar setiap tahun.
-
Aktivitas tambang batubara memperparah pencemaran air dan tanah serta menimbulkan risiko radiologi bagi manusia dan lingkungan.
SuaraSumsel.id - Di balik geliat ekonomi dan ekspansi infrastruktur, Sumatera Selatan (Sumsel) tengah menyimpan bom waktu ekologis yang bisa meledak kapan saja. Tiga ancaman besar tersebut yakni kebakaran hutan & lahan (karhutla), banjir dan kerusakan gambut, serta pencemaran dan degradasi lahan.
Ketiganya sedang berjalan beriringan, menanti momentum untuk menimbulkan kerusakan sistemik yang parah.
1. Karhutla dan Lahan Gambut Mengering
Setiap musim kemarau, titik api menyala kembali. Hingga Juli 2025, tercatat 1.104 titik panas dan 64 peristiwa karhutla di Sumsel.
Dan selama 2024, Walhi mencatat bahwa lahan gambut yang sudah dirusak atau dikeringkan menjadi “bom kering” yang sangat rentan terbakar terutama di kawasan konsesi sawit dan HTI.
Ketika gambut kehilangan kemampuan menyimpan air, setiap percikan api dan suhu tinggi bisa memicu kebakaran masif.
2. Banjir, Subsiden, dan Degradasi Gambut
Gambut yang rusak juga memperbesar risiko banjir. Tanah yang dulunya menyerap air kini tidak mampu menahan limpasan hujan.
Sejak 2024, Sumsel mencatat 154 kejadian banjir di 14 kabupaten, menenggelamkan 91.000 rumah dan mempengaruhi lebih dari 365.000 jiwa.
Baca Juga: Belajar Bahasa Palembang untuk Pemula: 10 Kata Unik Bikin Kamu Cepat Jadi Wong Kito
Distribusi konsesi perkebunan dan HTI yang masuk ke lahan gambut memperparah kondisi “lubang-lubang” drainase korporasi memperluas aliran air ke pemukiman rakyat.
3. Pencemaran, Degradasi Tanah & Risiko Radiologi
Pertambangan batubara di Sumsel tidak hanya menggerus lahan, tetapi juga membawa risiko pencemaran air, tanah, dan bahkan radiasi.
Sebuah studi di area tambang Tanjung Enim menyebutkan dugaan konsentrasi radionuklida (226Ra, 232Th, 40K) dalam batu bara dan tanah melebihi rata-rata global, dan potensi bahaya radiologis jangka panjang bagi pekerja dan lingkungan tak bisa diabaikan.
Selain itu, aktivitas tambang dan alur transportasi batubara menyebarkan debu berat dan logam berat ke sungai dan tanah pertanian di sekitar—mengancam kesehatan dan mata pencaharian petani.
Mengapa Ini Jadi “Bom Waktu”?
Tag
Berita Terkait
-
Belajar Bahasa Palembang untuk Pemula: 10 Kata Unik Bikin Kamu Cepat Jadi Wong Kito
-
Herman Deru Wajibkan ASN Sumsel Pakai Wastra Tiap Jumat, Simbol Bangga Warisan Budaya Lokal
-
Cek Jadwal Operasi Pasar Murah BI Sumsel Oktober 2025, Harga Sembako Dijual di Bawah Pasar
-
Kampus Diguncang Dualisme: Universitas Sjakhyakirti Palembang Akhirnya Disanksi Kemendikti
-
Segitiga Emas Baru Palembang 2026: 3 Kawasan Properti yang Paling Cuan untuk Kamu Lirik
Terpopuler
- Duduk Perkara Gibran Tipu Malaysia, Anwar Ibrahim Buka Suara Parlemen Bakal Usut
- Siapa Chika Yenalovy? Istri Kasespri Prabowo yang Jejak Digitalnya Misterius
- Harga Kulkas Mini 1 Pintu Termurah di Pasaran, Ini 3 Rekomendasinya Mulai Rp400 Ribuan
- Harga Sepeda Lipat Entry Level Terbaik Berapa? Ini 5 Rekomendasinya di Tahun 2026
- 3 HP Infinix Murah dengan Fast Charging 33W, Mulai Rp2 Jutaan
Pilihan
-
Rumor Jadi Kutu Loncat ke PSI, Ini Respon Menohok Dedi Mulyadi
-
Tokyo Diguncang Gempa 5,9 M: 37 Orang Terluka, Transportasi Terganggu
-
Jet Tempur Sukhoi TNI AU Tergelincir Nyaris Hantam Jalan Raya di Maros
-
KPK Tangkap Rektor Unsoed Akhmad Sodiq Terkait Dugaan Suap Penerimaan Mahasiswa Baru
-
Geger Sekaten Solo: Keributan Pecah, Adu Dorong hingga Ada yang Dipukul di Bangsal Pagongan
Terkini
-
Dalam 4 Jam PM2.5 Palembang Melonjak 3 Kali Lipat, Begini Kondisi Terbarunya
-
Bukan Cuma Kabut Asap, 3 Kecamatan Palembang Kini Krisis Air Bersih
-
Sehari Usai Rakor Prabowo, 15 Hektar Lahan Semi Gambut Ogan Ilir Terbakar
-
Situasi Terbaru Bukit Serelo Lahat Terbakar, Karhutla Diperkirakan Capai 350 Hektar
-
Dari Kebab ke QRIS, Cerita Farhan Kebab Tumbuh Bersama Bank Sumsel Babel