Tasmalinda
Selasa, 26 Mei 2026 | 17:45 WIB
PTBA dorong harapan baru lewat mesin jahit di areal bekas lokalisasi.
Baca 10 detik
  • Kelompok Tapis Melati di Kecamatan Panjang, Bandar Lampung, memberdayakan perempuan eks lokalisasi melalui pembuatan kain tapis tradisional.
  • PT Bukit Asam memberikan bantuan mesin jahit untuk mengatasi kendala produksi dan meningkatkan produktivitas kerajinan kain tapis kelompok.
  • Dukungan perusahaan bertujuan meningkatkan kemandirian ekonomi, kesejahteraan masyarakat, serta melestarikan warisan budaya khas daerah secara berkelanjutan.

SuaraSumsel.id - Suara mesin jahit kini terdengar hampir setiap hari dari sudut Kecamatan Panjang, Bandar Lampung. Di balik bunyi ritmis itu, tangan-tangan perempuan tampak sibuk menjahit, menyulam, dan merangkai kain tapis dengan penuh ketelitian.

Tak banyak yang menyangka, kawasan yang dulu dikenal sebagai PMD atau Pemandangan, yang lama lekat dengan stigma lokalisasi (eks lokalisasi), kini perlahan berubah menjadi ruang tumbuh bagi harapan baru masyarakat.

Perubahan itu lahir dari tangan sekitar 30 perempuan yang tergabung dalam Kelompok Tapis Melati. Di tempat sederhana itu, mereka belajar bangkit, bertahan, sekaligus menata kembali masa depan melalui keterampilan menjahit dan membuat kain tapis khas Lampung.

Bagi mereka, tapis bukan sekadar kain tradisional. Setiap benang yang dirangkai menyimpan cerita tentang perjuangan, kesabaran, dan harapan untuk kehidupan yang lebih baik.

Di tengah stigma yang selama bertahun-tahun melekat pada lingkungan tempat tinggal mereka, perempuan-perempuan ini memilih melawan keadaan lewat karya. Mereka mulai menghadirkan berbagai produk tapis yang kini perlahan dikenal masyarakat dan kerap diikutsertakan dalam berbagai kegiatan hingga pameran di Bandar Lampung.

Namun perjalanan itu tidak mudah. Keterbatasan alat produksi membuat proses pengerjaan tapis harus dilakukan bergantian menggunakan peralatan seadanya. Sementara permintaan terus berdatangan, kapasitas produksi mereka belum mampu mengimbanginya.

Perjuangan tersebut akhirnya sampai ke telinga PT Bukit Asam Tbk. Melalui Bukit Asam Tarahan Port, perusahaan hadir memberikan dukungan nyata berupa empat unit mesin jahit untuk membantu aktivitas produksi Kelompok Tapis Melati.

Bagi para anggota kelompok, bantuan itu bukan sekadar alat kerja. Mesin jahit tersebut menjadi simbol bahwa perjuangan mereka dilihat, didengar, dan mendapat dukungan untuk terus berkembang.

Corporate Secretary PT Bukit Asam Tbk, Eko Prayitno, mengatakan perusahaan melihat adanya semangat perubahan yang tumbuh dari masyarakat, khususnya perempuan, untuk bangkit dan membangun kehidupan yang lebih produktif dan bermartabat.

Baca Juga: PTBA Sabet Diamond PROSPER A IRCA 2026, Perkuat Budaya Kepatuhan dan Tata Kelola

“Kami melihat semangat perubahan yang tumbuh dari masyarakat, khususnya para perempuan, untuk bangkit dan membangun penghidupan yang lebih positif, produktif, dan bermartabat. Melalui penguatan keterampilan, dukungan sarana produksi, dan pengembangan usaha berbasis budaya lokal seperti kain tapis, diharapkan tercipta peluang ekonomi baru yang mampu meningkatkan kesejahteraan masyarakat secara berkelanjutan,” ujarnya.

Menurut Eko, pemberdayaan masyarakat dan penguatan ekonomi kreatif berbasis budaya lokal menjadi bagian penting dalam menciptakan transformasi sosial yang inklusif.

Kini suasana rumah produksi Kelompok Tapis Melati terasa jauh lebih hidup. Mesin-mesin baru membantu mempercepat proses produksi tapis dan berbagai produk turunannya. Para anggota kelompok juga mulai lebih percaya diri menghadirkan desain baru yang memiliki nilai jual lebih tinggi.

Harapan mereka sederhana, yakni agar karya tapis buatan tangan perempuan-perempuan di kawasan itu dapat dikenal lebih luas sekaligus membuka peluang ekonomi yang lebih baik bagi keluarga mereka.

Bagi masyarakat Lampung, kain tapis bukan hanya warisan budaya, tetapi juga simbol kehormatan dan identitas daerah yang diwariskan lintas generasi.

Di kawasan yang dulu dipandang sebelah mata, warisan budaya itu kini menjelma menjadi jalan perubahan sosial. Perlahan, perempuan-perempuan di sana mulai merajut kembali martabat, harapan, dan masa depan mereka—selembar demi selembar kain tapis yang mereka hasilkan sendiri.
 

Load More