Tasmalinda
Minggu, 24 Mei 2026 | 23:40 WIB
Blackout Sumatra berulang, ketahanan sistem kelistrikan nasional kembali dipertanyakan.
Baca 10 detik
  • Pemadaman listrik massal di wilayah Sumatra dipicu oleh gangguan cuaca dan kerentanan infrastruktur transmisi energi yang terpusat.
  • Kejadian berulang di Indonesia sejak tahun 2019 menunjukkan kegagalan sistem kelistrikan dalam menghadapi cuaca ekstrem dan gangguan.
  • Trend Asia mendesak pemerintah melakukan audit menyeluruh serta beralih ke sistem energi terbarukan yang lebih terdesentralisasi dan tangguh.

SuaraSumsel.id - Pemadaman listrik massal atau blackout yang kembali melanda sejumlah wilayah Sumatra memunculkan sorotan baru terhadap ketahanan sistem kelistrikan nasional. Gangguan yang disebut dipicu cuaca buruk dan masalah transmisi dinilai menunjukkan adanya persoalan mendasar pada infrastruktur listrik Indonesia.

Lembaga riset energi dan lingkungan Trend Asia menilai blackout yang terjadi berulang kali dalam beberapa tahun terakhir menjadi alarm bahwa sistem kelistrikan nasional masih terlalu rentan terhadap gangguan besar.

“Blackout akibat gangguan cuaca di Sumatra kali ini memperlihatkan kegagalan sistem kelistrikan yang terlalu bergantung pada infrastruktur terpusat dan energi fosil,” kata Juru Kampanye Renewable Energy Trend Asia, Beyrra Triasdian.

Menurut Trend Asia, sistem listrik di sebagian besar wilayah Sumatra saat ini masih bergantung pada pembangkit skala besar berbasis energi fosil dan jaringan transmisi panjang yang terpusat. Dalam kondisi seperti itu, gangguan di satu titik dinilai bisa dengan mudah memicu pemadaman luas lintas provinsi.

Blackout Disebut Terus Berulang

Trend Asia mencatat blackout besar bukan pertama kali terjadi di Indonesia. Dalam kurun 10 tahun terakhir, pemadaman listrik massal juga pernah terjadi di Jawa pada 2019, Sumatra pada 2024, dan Bali pada 2025. Mayoritas gangguan disebut berkaitan dengan sistem transmisi listrik.

Peristiwa yang terus berulang ini dinilai menunjukkan bahwa ketahanan sistem kelistrikan nasional masih belum sepenuhnya kuat menghadapi cuaca ekstrem maupun gangguan jaringan.

Apalagi, kebutuhan listrik nasional terus meningkat seiring pertumbuhan kawasan industri, pusat data, kendaraan listrik, hingga aktivitas ekonomi digital masyarakat.

“Situasi ini menjadi peringatan bahwa sistem energi tidak bisa terus dibangun melalui pendekatan lama yang bertumpu pada pembangkit besar dan transmisi panjang,” ujar Beyrra.

Baca Juga: Blackout Sumatra Nyaris Makan Korban, Mahasiswi UMP Terjebak di Lift Kampus

Aktivitas Warga hingga Ekonomi Kecil Ikut Terdampak

Selain memadamkan listrik rumah warga, blackout Sumatra juga disebut berdampak pada aktivitas ekonomi kecil, konektivitas seluler, lampu lalu lintas, hingga layanan rumah tangga.

Dalam beberapa kejadian, pemadaman listrik bahkan mulai memicu situasi berbahaya di ruang publik. Sebelumnya, seorang mahasiswi di Palembang dilaporkan sempat terjebak di dalam lift kampus selama hampir satu jam saat blackout terjadi.

Trend Asia menilai pemerintah perlu segera melakukan audit dan evaluasi menyeluruh terhadap sistem ketenagalistrikan nasional, termasuk membuka hasil investigasi blackout kepada publik secara transparan.

Ketergantungan Energi Fosil Jadi Sorotan

Selain meminta audit sistem, Trend Asia juga menyoroti ketergantungan Indonesia terhadap pembangkit energi fosil skala besar yang dinilai membuat sistem listrik semakin mahal dan rentan lumpuh ketika terjadi gangguan.

Load More