Wakos Reza Gautama
Jum'at, 22 Mei 2026 | 15:43 WIB
Ilustrasi tujuh buruh tani perempuan tersambar petir saat berlindung di sebuah pondok kebun, Desa Alai Selatan, Muaraenim, pada Kamis (21/5/2026). [istimewa]
Baca 10 detik
  • Tujuh buruh tani perempuan tersambar petir saat berlindung di sebuah pondok kebun, Desa Alai Selatan, pada Kamis (21/5/2026).
  • Seorang korban berinisial RA meninggal dunia di lokasi kejadian akibat hantaman petir yang sangat kuat dan mematikan tersebut.
  • Enam orang lainnya mengalami luka-luka serta trauma berat dan kini sedang menjalani perawatan medis di RSUD Prabumulih.

SuaraSumsel.id - Langit di atas Desa Alai Selatan, Kecamatan Lembak, Muaraenim, mendadak berubah menjadi kelabu pekat pada Kamis (21/5/2026) siang.

Di bawah rindangnya hamparan kebun sawit milik warga bernama Lin, tujuh perempuan tangguh sedang berjibaku dengan peluh.

Mereka adalah buruh tani borongan yang tengah mengais rezeki dengan membersihkan lahan, demi rupiah yang akan dibawa pulang ke rumah.

Namun, alam punya rencana lain. Sekitar pukul 14.30 WIB, rintik hujan mulai turun dengan deras, memaksa ketujuh perempuan ini menghentikan aktivitas mereka sejenak.

Tanpa rasa curiga, mereka bergegas mencari perlindungan di sebuah pondok kayu kecil di tengah kebun. Namun, pondok yang mereka kira sebagai tempat aman itu justru menjadi saksi bisu sebuah petaka.

Sebuah kilatan cahaya menyilaukan disertai suara menggelegar menghantam pondok tersebut dengan kekuatan yang menghancurkan.

Sambaran petir itu begitu hebat. Kekuatannya menghempaskan tubuh ketujuh petani perempuan tersebut hingga terpental. Sebagian besar dari mereka jatuh pingsan tak sadarkan diri.

Kapolsek Lembak, AKP Yopi Maswan, menggambarkan betapa tragisnya lokasi kejadian saat pihak kepolisian tiba.

“Petir menyambar pondok tempat mereka berlindung. Para korban terpental, dan salah satu dari mereka, seorang perempuan berinisial RA (35), mengembuskan napas terakhir di lokasi kejadian,” ungkap Yopi, Jumat (22/5/2026) dikutip dari sumselupdate.com--jaringan Suara.com.

Baca Juga: Bukan Cabai, Petani di Empat Lawang Tanam 44 Batang Ganja di Dapur Rumah

RA tak mampu bertahan dari dahsyatnya aliran listrik alam tersebut. Sementara itu, enam rekannya, S (53), P (43), FF (30), O (26), EE (48), dan DA (26), ditemukan dalam kondisi trauma berat dan luka-luka.

Salah satu korban yang masih memiliki sisa kesadaran dengan sisa-sisa tenaga mencoba berteriak meminta pertolongan kepada warga kebun lainnya.

Proses evakuasi berlangsung dramatis di tengah cuaca yang masih tak menentu. Kepala Desa Alai Selatan, Lukman Hakim, bersama warga bahu-membahu membawa para korban menuju RSUD Prabumulih.

Hingga saat ini, enam petani yang selamat masih terbaring lemah di bangsal rumah sakit. Mereka tak hanya berjuang memulihkan luka fisik, tetapi juga trauma psikis yang mendalam setelah melihat rekan mereka harus pulang dalam balutan kain kafan.

"Peristiwa ini meninggalkan luka yang sangat dalam bagi keluarga dan masyarakat desa kami. Kami semua berduka," ujar Lukman Hakim.

Load More