- Ratusan mahasiswa menggelar aksi “Sumsel Resah” di DPRD Sumatera Selatan untuk menuntut perbaikan infrastruktur jalan serta pendidikan.
- Ketua DPRD Sumsel absen dalam aksi, sehingga aspirasi mahasiswa hanya diterima secara lisan oleh Komisi V DPRD.
- DPRD meminta penyampaian tuntutan secara tertulis agar dapat diproses lebih lanjut sebagai langkah tindak lanjut yang formal.
SuaraSumsel.id - Aksi mahasiswa bertajuk “Sumsel Resah” di halaman DPRD Sumatera Selatan, Senin (4/5/2026) menyisakan sorotan tajam. Isu pendidikan dan infrastruktur yang diangkat belum menemukan jawaban konkret, sementara pimpinan DPRD tak tampak di tengah massa.
Ratusan mahasiswa dari berbagai kampus di Palembang turun menyuarakan keresahan atas kondisi jalan rusak di sejumlah daerah serta ketimpangan kualitas pendidikan yang dinilai belum merata.
Bagi mereka, persoalan ini bukan sekadar keluhan, melainkan realitas yang berdampak langsung pada kehidupan masyarakat sehari-hari.
Dalam aksi tersebut, mahasiswa menyoroti absennya Ketua DPRD Sumsel, Andie Dinialdie, yang tidak hadir menemui massa.
Mahasiswa menilai kehadiran Ketua DPRD penting untuk menunjukkan keseriusan dalam menindaklanjuti aspirasi. Sebaliknya, DPRD Sumsel diwakili oleh Komisi V yang membidangi kesehatan, pendidikan, dan ketenagakerjaan.
Ketua Komisi V DPRD Sumsel, M. Nasir, menegaskan bahwa pihaknya telah menerima seluruh aspirasi yang disampaikan mahasiswa, meskipun belum dalam bentuk dokumen resmi.
“Kami belum menerima tuntutan secara tertulis. Namun apa yang disampaikan adik-adik mahasiswa sudah kami dengarkan dan rekam. Silakan disampaikan secara resmi agar bisa kami tindak lanjuti,” ujar Nasir.
Menurutnya, mekanisme administrasi tetap diperlukan agar setiap tuntutan dapat dibahas secara formal di internal DPRD.
Ia juga memastikan bahwa isu pendidikan dan infrastruktur yang disuarakan mahasiswa menjadi perhatian Komisi V.
Baca Juga: Pelabuhan Tanjung Carat Ditarget 2028, Biaya Logistik Sumsel Berpotensi Turun Drastis
Pernyataan tersebut memunculkan kesan bahwa aspirasi mahasiswa masih berada di tahap awal—diterima secara lisan, tetapi belum berujung pada langkah konkret.
Di sisi lain, mahasiswa datang dengan tuntutan yang bersifat mendesak. Mereka berharap adanya solusi nyata, bukan sekadar pencatatan aspirasi.
Isu jalan rusak dan ketimpangan pendidikan dinilai sebagai persoalan mendasar yang membutuhkan respons cepat dari pemerintah daerah.
Hingga aksi berakhir, belum ada keputusan konkret yang diumumkan DPRD Sumsel terkait tuntutan mahasiswa.
Belum diterimanya tuntutan secara tertulis, serta absennya pimpinan DPRD dalam dialog langsung, membuat polemik ini belum benar-benar selesai.
Aksi “Sumsel Resah” kini memasuki fase lanjutan: menunggu apakah suara mahasiswa akan benar-benar ditindaklanjuti atau hanya berhenti sebagai catatan yang tersimpan.
Tag
Berita Terkait
-
Pelabuhan Tanjung Carat Ditarget 2028, Biaya Logistik Sumsel Berpotensi Turun Drastis
-
Rp850 Juta Dihapus, Anggaran Rumah Dinas DPRD Sumsel Rp8,6 Miliar Masih Dipertanyakan
-
Rp8,68 Miliar untuk Rumah Dinas DPRD Sumsel di 2026, Apa Pertimbangan di Baliknya?
-
Profil 4 Pimpinan DPRD Sumsel, Ini Rincian Anggaran Rumah Dinas Miliaran Masing-Masing
-
Saat Hemat BBM Diserukan, Anggaran Rumah Dinas Mewah DPRD Sumsel Kembali Disorot
Terpopuler
- Mengenal Lisda Cancer, Perwira Tinggi Polri yang Pensiun Tak Lama Usai Jadi Brigjen
- Skenario Timnas Indonesia Jika Imbang atau Kalah dari Vietnam di Piala AFF 2026
- Sunscreen Apa yang Bagus untuk Menghilangkan Flek Hitam di Wajah? Ini 3 Rekomendasi sesuai Review
- Fortuna Sittard Ogah Jual Justin Hubner ke Klub Super League
- 4 Shio Beruntung Hari Ini 4 Agustus 2026: Macan hingga Babi Berpeluang Dapat Kabar Baik
Pilihan
-
Pagar Besi di Mal-mal, Benarkah untuk Antisipasi Plot Kerusuhan Agustus?
-
Desa Kecil, Mimpi Mendunia: Ketika Kolaborasi Mengubah Wajah Kemiren
-
Kejagung Geledah Rumah Eks Jampidsus Febrie yang Pernah Dijaga TNI
-
Kematian Sutrimo dan Rangkaian Kejanggalan yang Muncul dari Kampung Halaman
-
Pengintai Misterius dan CCTV Mendadak, Kejanggalan di Rumah Sutrimo
Terkini
-
Apa Itu Registration Ban FIFA? Ini Penyebab Klub Sriwijaya FC Bisa Dilarang Daftar Pemain
-
Jejak Kasus Haji Halim Ali, Dari Pengusaha Besar hingga Ahli Waris Kembalikan Rp127 Miliar
-
Modus Penimbun Pertalite Terbongkar, Isi BBM Berulang Pakai Barcode Berbeda di SPBU
-
Profil Direktur PO ALS yang Jadi Tersangka Kasus Kecelakaan Bus Tewaskan 19 Orang
-
Duduk Perkara Kasus Haji Abdul Halim Ali, Mengapa Ahli Waris Kembalikan Rp127 Miliar?