Tasmalinda
Sabtu, 02 Mei 2026 | 13:05 WIB
Ilustrasi makan pempek pakai tangan.
Baca 10 detik
  • Masyarakat Palembang memiliki tradisi makan pempek menggunakan tangan secara langsung untuk mendapatkan sensasi rasa yang lebih hidup.
  • Kebiasaan makan dengan tangan melambangkan kedekatan sosial serta identitas budaya yang kuat bagi masyarakat lokal Palembang.
  • Tradisi makan pempek dengan tangan kini menjadi pengalaman budaya unik yang tetap diminati wisatawan di tengah modernisasi.

SuaraSumsel.id - Bagi masyarakat Palembang, menikmati pempek bukan sekadar soal rasa. Ada cara, ada kebiasaan, bahkan ada filosofi yang diwariskan turun-temurun: makan pempek pakai tangan.

Bagi sebagian orang luar daerah, kebiasaan ini mungkin terlihat sederhana bahkan dianggap kurang praktis. Namun bagi “wong kito galo”, ada makna yang lebih dalam di baliknya. Di banyak meja makan tradisional Palembang, pempek jarang disentuh sendok atau garpu. Langsung pakai tangan, dicelupkan ke kuah cuko yang hitam pekat, lalu disantap.

Mengapa?

Karena menurut banyak warga lokal, makan pakai tangan membuat sensasi rasa lebih “hidup”. Tekstur pempek terasa lebih nyata, cuko lebih menyatu, dan pengalaman makan jadi lebih personal.

Ada istilah yang sering diucapkan: “lebih nikmat kalau diraso langsung”.

Di balik kebiasaan ini, tersimpan nilai budaya yang kuat. Makan dengan tangan melambangkan kedekatan—baik dengan makanan, maupun dengan orang-orang di sekitar. Dalam banyak momen, pempek dinikmati bersama keluarga, teman, atau tamu.

Tidak ada jarak. Tidak ada formalitas berlebihan.

Ini sejalan dengan karakter masyarakat Palembang yang dikenal hangat dan terbuka.

Lebih dari itu, kebiasaan ini juga menjadi bagian dari identitas. Bagi “wong kito”, makan pempek dengan tangan adalah bentuk mempertahankan tradisi. Sebuah kebiasaan kecil yang menjadi pembeda, sekaligus kebanggaan.

Baca Juga: Tangis Pecah Saat Penangkapan di Kertapati, Tersangka Pembunuhan Bersimpuh Cuci Kaki Ibu

Di tengah modernisasi dan gaya hidup serba praktis, tradisi ini tetap bertahan—bahkan semakin dikenalkan ke wisatawan.

Meski begitu, seiring perkembangan zaman, penggunaan sendok dan garpu mulai umum ditemui, terutama di restoran modern atau tempat wisata.

Namun menariknya, banyak pengunjung justru mencoba cara tradisional: makan langsung dengan tangan. Bukan hanya soal rasa, tapi juga pengalaman budaya.

Fenomena ini menunjukkan bahwa makanan tidak hanya soal apa yang dimakan, tapi juga bagaimana cara menikmatinya.

Pempek bukan sekadar kuliner khas. Ia adalah cerita tentang kebersamaan, kesederhanaan, dan identitas lokal yang terus hidup.

Mengapa makan pempek harus pakai tangan? Karena di situlah letak rasa yang sesungguhnya bukan hanya di lidah, tapi juga di budaya.

Load More