- Rumah Limas di Sumatera Selatan menggunakan arsitektur tradisional panggung untuk menciptakan sirkulasi udara alami yang menyejukkan ruangan.
- Penggunaan material kayu serta desain atap curam mampu menstabilkan suhu internal tanpa memerlukan perangkat pendingin ruangan modern.
- Prinsip bangunan berkelanjutan pada Rumah Limas kini diadopsi arsitek modern untuk menciptakan hunian hemat energi dan ramah lingkungan.
SuaraSumsel.id - Rumah Limas, ikon arsitektur tradisional Palembang, menyimpan rahasia yang kini justru relevan di tengah cuaca panas ekstrem dan tagihan listrik yang terus naik. Tanpa bantuan AC, rumah ini mampu menghadirkan kesejukan alami yang konsisten, sesuatu yang kini mulai dicari kembali oleh masyarakat modern.
Bukan sekadar estetika, Rumah Limas dibangun dengan perhitungan matang yang menggabungkan kearifan lokal, ilmu alam, dan adaptasi terhadap iklim tropis. Hasilnya? Hunian yang tetap adem, bahkan di siang hari terik.
Salah satu kunci utama adalah bentuk rumah panggung. Lantai yang ditinggikan dari tanah menciptakan ruang kosong di bawah rumah, memungkinkan udara mengalir bebas dari bawah ke atas. Efeknya, panas tidak terjebak di dalam rumah.
Di tengah meningkatnya ketergantungan rumah modern terhadap pendingin udara, rumah tradisional seperti Rumah Limas justru menghadirkan pendekatan yang berlawanan. Tanpa bantuan AC, bangunan ini tetap terasa sejuk meski berada di iklim tropis yang panas dan lembap.
Fenomena ini bukan sekadar kearifan lokal, tetapi memiliki dasar ilmiah yang kini mulai kembali dipelajari dalam dunia arsitektur modern.
Penelitian yang dilakukan oleh Suhendri dan M. Donny Koerniawan dari Institut Teknologi Bandung menunjukkan bahwa rumah tradisional Indonesia mampu menciptakan kenyamanan termal tanpa bantuan alat mekanis melalui sistem ventilasi alami.
Dalam studi mereka tentang ventilasi berbasis aliran angin, ditemukan bahwa desain rumah tradisional memungkinkan udara bergerak secara merata di dalam bangunan. Aliran udara ini berperan penting dalam menjaga kenyamanan penghuni.
Secara ilmiah, tubuh manusia tidak selalu membutuhkan suhu dingin untuk merasa nyaman. Dalam iklim tropis, sensasi sejuk bisa tercipta hanya dengan adanya aliran udara. Bahkan, penelitian lain menunjukkan bahwa kecepatan angin sekitar 0,2 meter per detik sudah cukup membantu proses penguapan keringat, sehingga tubuh terasa lebih sejuk tanpa harus menurunkan suhu ruangan secara signifikan.
Rumah limas memanfaatkan prinsip ini secara maksimal melalui banyak bukaan—mulai dari jendela besar, celah dinding, hingga ruang antarbagian yang tidak tertutup rapat.
Baca Juga: Rayakan HUT Sumsel, Tamu Wyndham Opi Palembang Bisa Nikmati Hidangan Gratis Ini
Konsep penting lain yang digunakan adalah ventilasi silang (cross ventilation). Studi arsitektur yang dipublikasikan dalam jurnal akademik oleh YB Miko menunjukkan bahwa posisi bukaan yang saling berhadapan memungkinkan udara masuk dari satu sisi dan keluar dari sisi lainnya secara konstan.
Hasilnya, udara di dalam rumah tidak pernah stagnan.
Pada rumah limas, prinsip ini terlihat dari penempatan jendela dan ruang terbuka yang dirancang sejajar. Bukan sekadar estetika, tetapi strategi untuk memastikan udara terus bergerak.
Ciri khas lain dari rumah limas adalah bentuknya yang panggung. Lantai rumah dibuat lebih tinggi dari tanah, menciptakan ruang kosong di bawah bangunan.
Penelitian oleh N. Sriwardani tentang rumah adat Indonesia menunjukkan bahwa struktur panggung berfungsi sebagai sistem pendinginan alami. Udara dari bawah rumah dapat naik ke dalam ruangan, sementara udara panas terdorong keluar.
Konsep ini dikenal dalam arsitektur sebagai passive cooling, yaitu teknik pendinginan tanpa menggunakan energi tambahan. Selain itu, posisi rumah yang lebih tinggi juga membuatnya lebih terbuka terhadap angin, sehingga memperkuat sirkulasi udara.
Tag
Berita Terkait
-
Rayakan HUT Sumsel, Tamu Wyndham Opi Palembang Bisa Nikmati Hidangan Gratis Ini
-
Diduga Razia Tanpa Surat Picu Tabrakan 3 Truk di Palembang, Belasan Petugas Dishub Diperiksa
-
Tak Sekadar Demo, 7 Tuntutan Buruh di Palembang Ini Bisa Ubah Gaji dan Masa Depan Pekerja
-
Proyek Rumah Limas Tak Pernah Ada, ASN Palembang Didakwa Tipu Korban Rp233 Juta
-
Bukan Sekadar Gambar di Uang Rp10 Ribu, Begini Kisah Rumah Limas yang Jadi Ikon Palembang
Terpopuler
- Mengapa Pertalite Mau Dihapus?
- Apa Itu Sepatu Hybrid? Ini 5 Rekomendasi Buatan Lokal Terbaik dan Serbaguna
- Soal TNI-Komcad Dikerahkan di Demo Mahasiswa, Ini Reaksi Komisi I DPR
- Neymar Dipastikan Absen di Piala Dunia 2026, Kesalahan Pertama Ancelotti
- Motor Mirip Harley-Davidson Harga Rasa Matic: Mending Morbidelli C252V atau QJ Motor SRV250?
Pilihan
-
Aksi di DPR Memanas! Peserta Demo Cipayung Menggugat Ngaku Dianiaya Polisi usai Ditangkap
-
Wasit Liga Indonesia 'Berulah', FIFA Investigasi Kemenangan Timnas Jerman vs Curacao
-
Mahasiswa Gelar Demo di DPR, Tagih Janji 19 Juta Lapangan Kerja dan Desak Hentikan MBG
-
Mau Aksi di Patung Kuda, Mahasiswa UBK Sempat Dihadang di Tugu Tani
-
Anggaran Kunjungan Luar Negeri Prabowo Tembus Rp1,1 T! Lebih Besar dari TKD Satu Kabupaten di NTB
Terkini
-
12 Kali Raih WTP, Mengapa BPK Masih Minta Sumsel Benahi Sejumlah Hal?
-
Puasa 1 Muharram, Sunnah atau Sekadar Tradisi? Ini Niat dan Penjelasan Ulama
-
Korban Terus Bertambah, Dugaan Penipuan Rp1,4 Miliar yang Seret Ibu Bhayangkari Bikin Heboh
-
PTBA Uji Biomassa Kaliandra Merah untuk Kurangi Emisi Karbon dan Dukung Transisi Energi
-
Terbang ke Kuala Lumpur Kini Lebih Mudah, AirAsia Tambah Penerbangan dari Palembang