- BMKG memprediksi musim kemarau 2026 di Sumatera Selatan akan dimulai lebih awal, yaitu Mei hingga Juni.
- BMKG menyebut intensitas hujan selama kemarau 2026 didominasi kategori bawah normal, memicu udara lebih kering.
- Kondisi ini meningkatkan potensi karhutla dan berdampak pada sektor pertanian serta ketersediaan air di wilayah tersebut.
SuaraSumsel.id - Meski kalender masih menunjukkan bulan Maret, suhu udara di Sumatera Selatan sudah menyentuh angka 31 derajat Celsius dan terasa menyengat. Kondisi ini bukan sekadar cuaca panas biasa, melainkan mulai mengarah pada perubahan pola musim yang lebih cepat dari biasanya.
Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) melalui Stasiun Klimatologi Kelas I Sumatera Selatan mengungkapkan, fenomena panas yang dirasakan masyarakat saat ini merupakan bagian dari fase transisi menuju musim kemarau 2026.
Kepala Stasiun Klimatologi Kelas I Sumatera Selatan, Wandayantolis, menjelaskan bahwa musim kemarau tahun ini diprediksi datang lebih awal dibandingkan kondisi normal.
“Sebagian besar wilayah Sumatera Selatan diprediksi memasuki awal musim kemarau pada bulan Mei hingga Juni, atau lebih cepat hingga dua dasarian dibandingkan normalnya,” ujarnya dalam rilis resmi BMKG, 6 Maret 2026.
Ia menambahkan, kondisi ini membuat intensitas hujan mulai berkurang sejak lebih dini, sehingga suhu udara pada siang hari terasa lebih panas dan kering.
Meski suhu tercatat di kisaran 31 derajat Celsius, masyarakat merasakan panas yang lebih menyengat. Hal ini dipengaruhi oleh kelembapan udara yang tinggi serta berkurangnya hujan yang biasanya berfungsi sebagai pendingin alami.
BMKG juga memprediksi bahwa sifat hujan selama musim kemarau 2026 akan didominasi kategori bawah normal, yang berarti curah hujan lebih sedikit dari biasanya.
Kondisi ini membuat udara menjadi lebih kering dan panas terasa lebih intens, terutama pada siang hingga sore hari.
BMKG memperkirakan puncak musim kemarau akan terjadi pada Juli hingga Agustus 2026, dengan sebagian besar wilayah Sumatera Selatan mengalami periode kering yang cukup panjang.
Baca Juga: Bank Sumsel Babel Hadirkan Kemudahan Transaksi Lebaran lewat BSB Mobile, QRIS, dan ATM
Durasi kemarau bahkan diprediksi bisa berlangsung antara 7 hingga 15 dasarian, atau sekitar dua hingga lima bulan.
Artinya, kondisi panas yang mulai terasa sejak Maret ini berpotensi menjadi awal dari periode kemarau panjang yang harus diwaspadai sejak dini.
BMKG mengingatkan bahwa kemarau yang datang lebih cepat dan lebih kering berpotensi memicu berbagai dampak serius di berbagai sektor.
Mulai dari sektor pertanian, pasokan air untuk lahan tadah hujan diprediksi akan menurun dan berpotensi mengganggu pertumbuhan tanaman.
Selain itu, berkurangnya curah hujan juga berdampak pada cadangan air di bendungan yang digunakan untuk kebutuhan masyarakat dan pembangkit listrik.
Yang paling menjadi perhatian adalah meningkatnya potensi kebakaran hutan dan lahan (karhutla), terutama di wilayah gambut.
Berita Terkait
-
Suhu Sumsel Tembus 35 Derajat Saat Ramadan, BMKG Beri Peringatan Ini untuk Warga
-
10 Fakta Kebakaran Kertapati Palembang, Terjadi Saat Cuaca Mendung dan Gang Sempit
-
Siang Membakar, Malam Tetap Panas! BMKG Sebut Sumsel Alami Cuaca Tak Biasa
-
BMKG Prediksi Hujan Lebat di Sumsel Saat Pilkada: Ini Daftar Terkena Dampak
-
Musim Hujan di Sumsel Masih Berlangsung di Awal Maret Ini
Terpopuler
- 3 Moisturizer Kolagen untuk Kulit Keriput Usia 45 ke Atas, Bikin Wajah Kencang Sesuai Review
- Guruh Soekarnoputra Sakit Apa? Wafat di Usia 73 Tahun usai Dirawat Intensif
- Transjakarta Resmi Hapus 3 Rute Bus Penghubung Rusun, Warga Diminta Pakai Rute Alternatif
- 5 Novel Sejarah untuk Menelusuri Jejak G30S/PKI, Jangan Lupakan Masa Lalu!
- Perbedaan Pompa Air Jet Pump vs Pompa Celup Submersible untuk Sumur Dalam, Mana yang Cocok?
Pilihan
-
Bayi Dua Hari Ditinggalkan dalam Kardus, Tangisnya Bongkar Misteri di Depan Rumah Warga
-
Tanpa Pengacara, WNI Didakwa Edarkan 25 Kg Heroin: Terancam Hukuman Mati di Malaysia
-
Dramatis! Ubed Persembahkan Medali Emas Asian Games 2026 untuk Indonesia
-
Massa Buruh Mulai Padati Thamrin, Andi Gani Pimpin Langsung Aksi Tuntut Keadilan RUU Ketenagakerjaan
-
Bawa Kentongan Hingga Kenakan Topi Caping, Massa Hari Tani Nasional Mulai Padati Depan Gedung DPR
Terkini
-
Di Balik Parkir Liar Palembang: Ada Bos, Setoran, hingga Klaim Ormas Pernah Masuk
-
Ketika Turbin Kembali Diharapkan Berputar, Rumah Kopi Pelakat Menunggu Energi dari Air
-
Spesial HUT ke-81 KAI, Pelanggan Cukup Bayar 81 Persen untuk Naik KA Sindang Marga
-
Karhutla Sumsel: 43 Orang Ditahan, 16 Korporasi Disidik, Tapi Hotspot Masih Muncul
-
Banpres Karhutla Rp100 Miliar Sudah Turun, Kenapa Asap Masih Kepung Palembang?