- Pemutaran film "Pelangi di Mars" di Palembang memicu anak-anak membicarakan cita-cita masa depan setelah menonton.
- Film ini bertujuan menanamkan imajinasi cita-cita dan kepemimpinan masa depan bagi generasi muda Indonesia.
- Proses produksi film ini melibatkan riset lima tahun serta penggunaan teknologi visual modern seperti *game engine* dan latar LED.
SuaraSumsel.id - Roadshow film Pelangi di Mars menyambangi CGV Social Market Palembang, Senin (23/3/2026), menghadirkan langsung para pembuat dan pengisi suara di balik film keluarga tersebut. Kehadiran mereka tak hanya menyapa penonton, tetapi juga menghadirkan pengalaman menonton yang berbeda, ketika anak-anak tidak sekadar menikmati film, melainkan mulai membicarakan mimpi dan masa depan mereka sendiri.
Di dalam studio, anak-anak larut dalam petualangan Pelangi bersama robot-robot lucu di Mars. Tawa pecah, rasa tegang sesekali muncul, lalu berganti decak kagum. Namun momen paling menarik justru terjadi setelah layar padam.
Percakapan kecil mulai terdengar.
Ada yang ingin menjadi ilmuwan, membayangkan menjelajah luar angkasa, hingga menciptakan teknologi seperti yang mereka lihat di layar. Dari situ, kekuatan film ini terasa tidak berhenti sebagai tontonan, tetapi berlanjut menjadi percikan imajinasi.
Sutradara Upie Guava menyebut film ini lahir dari kegelisahan bersama yang dekat dengan realitas anak-anak saat ini. Ia menilai, semakin sedikit film yang mampu menghadirkan narasi tentang cita-cita.
“Dulu kita punya banyak cita-cita waktu kecil, mau jadi dokter, pilot, jurnalis tapi sekarang malah jarang film yang menghantarkan narasi cita-cita tersebut, bahkan makin tidak ada. Padahal imajinasi penting supaya anak berkembang dengan cita-citanya,” ujarnya usai nobar.
Melalui karakter Pelangi yang berani memimpin robot-robot di Mars, para film makers ingin menanamkan keyakinan bahwa anak Indonesia juga bisa menjadi pemimpin masa depan, bahkan di dunia yang belum pernah mereka bayangkan.
Film ini tidak berhenti sebagai hiburan semata. Di balik alur yang ringan, terselip isu besar seperti pemanasan global, sekaligus penghormatan pada sosok astronot Indonesia.
Produser Dendi Reynando mengakui, ide film ini berangkat dari pengalaman pribadinya sebagai seorang ayah yang merasa pilihan film anak Indonesia masih terbatas. “Saya sering ajak anak, tapi film anak Indonesia yang benar-benar kuat itu jarang. Dari situ muncul keinginan untuk membuat sesuatu yang mengisi ruang tersebut,” katanya.
Baca Juga: Selain Rendang, 7 Lauk Ketupat Khas Sumsel Ini Diam-Diam Jadi Favorit Saat Lebaran
Pertemuan dengan sang sutradara kemudian melahirkan ide film Pelangi di Mars. Keduanya sepakat menghadirkan film dengan pendekatan fiksi ilmiah, agar anak-anak mulai mengenal kemungkinan masa depan sejak dini.
Menurut Dendi, banyak tokoh besar di dunia teknologi juga tumbuh dari kebiasaan membaca buku ilmiah dan membayangkan masa depan sejak kecil. Karena itu, film seperti ini diharapkan bisa menjadi pintu masuk pada cita-cita tersebut,
“Kita ingin anak-anak punya idola baru. Dari situ mereka bisa membayangkan ingin jadi apa nanti,” ujarnya.
Respons penonton di Palembang juga beragam. Usai pemutaran, anak-anak langsung menyebut karakter favorit mereka. Kimchi yang menggemaskan, Batik yang setia, hingga keberanian Pelangi menjadi topik yang terus dibicarakan.
Di balik cerita yang ringan, proses produksi film ini tidak sederhana. Dibutuhkan waktu hingga lima tahun riset, termasuk penggunaan teknologi visual berbasis game engine dan latar LED real time yang sudah mulai digunakan dalam industri film global.
Langkah ini menjadi sinyal bahwa film anak Indonesia mulai bergerak lebih modern, tidak hanya dari sisi cerita, tetapi juga teknologi.
Tag
Berita Terkait
-
Hindari Macet! Ini Panduan Transportasi & Parkir ke Masjid Agung Palembang Saat Salat Id
-
Jadwal Imsak dan Buka Puasa Palembang 20 Maret 2026: Sahur & Magrib Terakhir Ramadan, Catat Waktunya
-
Cari Lokasi Salat Id Muhammadiyah di Palembang? Ini Daftar Titik Terdekat di Setiap Wilayah
-
Buka Puasa Palembang 19 Maret 2026 Jam Berapa? Jangan Sampai Terlewat Magrib Hari Ini
-
Bank Sumsel Babel Hadirkan 'Welcome to Palembang', Perahu Kajang Jadi Ikon Baru Bandara SMB II
Terpopuler
- Gaji di Bawah Rp 8 Juta Kini Masuk Kategori Berpenghasilan Rendah
- 4 Genset Mini Portable Praktis dan Senyap, Solusi Saat Mati Listrik
- Mahasiswa UBK Tuntut Pengurus BEM Mundur usai Diduga Terima Suap dari Wapres Gibran
- Ikuti Jejak Hotel Sultan, Otto Hasibuan Diminta Ikhlas Lepas Lapangan Golf Ottolima ke Negara
- Isu Rapat Khusus Berisi Perintah Awasi Gibran, Gerindra Sebut Hanya Mengawasi Harga Sembako
Pilihan
-
Program Ayah Ambil Rapor Tuai Dilema, Anak Yatim hingga Buruh Harian Punya Cerita Berbeda
-
Jelang Lawan Mesir, Striker Iran Mehdi Taremi Ditahan Otoritas AS
-
Semua Pengurus BEM FH UBK Dipecat, Kasus Suap Rp 20 Juta dari Polisi
-
Satu Kapal Tanker Pertamina Lolos dari Selat Hormuz
-
Tahan Inggris, Pelatih Ghana Sindir VAR: Saya Tak Yakin Masih Berfungsi
Terkini
-
Nasib Ratusan Siswa SMA di Sumsel Terancam, Ombudsman Temukan Dugaan Pelanggaran SPMB
-
BI Sumsel Perkuat Pariwisata dan Ekonomi Digital Lewat Gemilang Palembang Raya x DKG 2026
-
Mengapa Dokumen WDP Jadi WTP Dicari KPK? Fakta Baru dari Penggeledahan BPK Sumsel
-
Sudah Bayar Rp128 Juta, Rumah Tak Kunjung Dibangun, Konsumen Lapor Polda Sumsel
-
Apa Itu Etomidate? Zat yang Ditemukan Bersama 6.000 Pil Ekstasi di Palembang