Tasmalinda
Minggu, 22 Maret 2026 | 23:02 WIB
Ilustrasi uang baru saat lebaran. (Suara.com/Alfian Winanto)
Baca 10 detik
  • Penukaran uang baru menjelang Idul Fitri di Masjid Agung Palembang menunjukkan antrean ratusan orang per hari.
  • Bank Indonesia Sumsel mengklasifikasikan penukaran uang ini sebagai tradisi musiman budaya berbagi Idul Fitri.
  • Fakta menunjukkan bahwa tekanan ekonomi memengaruhi jumlah dan cara masyarakat mempertahankan tradisi memberi saat Lebaran.

SuaraSumsel.id - Pagi Hari Raya Idul Fitri, selalu datang dengan suasana yang serupa, tetapi tak pernah benar-benar sama. Rumah-rumah terbuka, pintu-pintu saling menyambut, dan tangan-tangan kecil menanti sesuatu yang sederhana yakni selembar uang baru, yang lebih dari sekadar nilai, tetapi juga tanda perhatian.

Uang-uang itu tidak muncul begitu saja. Ia telah disiapkan jauh hari, ditukar dengan sabar dalam antrean panjang yang kini telah menjadi cerita. Di halaman Masjid Agung Palembang, beberapa hari sebelum Lebaran, banyak orang berdiri sejak pagi, menunggu giliran dalam barisan yang perlahan bergerak.

Dalam keterangan persnya, Bank Indonesia perwakilan Sumatera Selatan menyatakan jika dalam sehari, jumlah penukar bahkan menembus lebih dari 1.000 orang.

Antrean itu kini telah usai, tetapi jejaknya terasa di hari ini. Uang-uang baru yang dulu ditukar dengan sabar, kini berpindah tangan, baik dari orang tua ke anak-anak, dari yang lebih tua kepada yang lebih muda.

Sebuah upaya menghidupkan satu tradisi yang terus dijaga dari tahun ke tahun.

Di momen seperti ini, berbagi terasa seperti bahasa yang dipahami semua orang. Namun di balik keseragaman itu, ada cerita yang tidak selalu terlihat.

Tidak semua orang datang ke Hari Raya dengan ruang yang sama. Ada yang memberi dengan leluasa, ada pula yang harus lebih berhitung sebelum menyelipkan uang ke dalam amplop. Nilainya mungkin berbeda, jumlahnya bisa jadi tidak lagi seperti dulu, tetapi niat untuk tetap berbagi tetap dipertahankan.

Apa yang terlihat di Masjid Agung itu, pada dasarnya bukan sekadar antrean. Ia adalah cerminan dari satu kebiasaan yang terus hidup yakni tradisi berbagi yang datang setiap tahun, mengikuti ritme Ramadan dan Idulfitri.

Deputi Kepala Perwakilan Bank Indonesia Sumatera Selatan, M. Aries Permadi, menilai fenomena penukaran uang memang lebih dekat dengan tradisi musiman dibanding sekadar indikator ekonomi.

Baca Juga: Selain Rendang, 7 Lauk Ketupat Khas Sumsel Ini Diam-Diam Jadi Favorit Saat Lebaran

“Penukaran uang ini lebih ke tradisi Lebaran yang datang setiap tahun, sifatnya musiman. Ini bagian dari budaya berbagi, mirip seperti pemberian angpao pada masyarakat Tionghoa atau tradisi keagamaan lainnya,” ujarnya saat acara sharing session bersama awak media, belum lama ini.

Antusiasme penukaran uang baru memang memberi kesan ekonomi tetap bergerak. Namun pada awal 2026, inflasi naik dari 3,55 persen di Januari menjadi 4,76 persen di Februari, menandakan tekanan harga yang makin terasa.

Meski konsumsi masih tumbuh, banyak orang kini lebih berhati-hati dalam membelanjakan uangnya. Karena itu, keramaian menjelang Hari Raya bisa jadi lebih mencerminkan kebutuhan musiman, bukan menjadi gambaran utuh daya beli yang benar-benar pulih dan merata.

Tradisi berbagi dalam bentuk uang ini memang bukan hanya milik satu kelompok. Dalam berbagai budaya dan keyakinan, praktik serupa hadir dengan bentuk yang berbeda, tetapi makna yang sama yakni memberi sebagai simbol perhatian, keberkahan, dan hubungan antar manusia.

Pernyataan itu seolah menegaskan bahwa di balik angka dan antrean, ada nilai yang lebih dalam yakni keinginan untuk tetap memberi, untuk tetap berbagi.

Namun Hari Fitri tahun ini juga membawa realitas yang tidak sepenuhnya ringan.

Load More