Tasmalinda
Senin, 09 Februari 2026 | 09:09 WIB
Peresmian seketariat FPI Sumatera Selatan
Baca 10 detik
  • Peresmian Sekretariat FPI Sumsel menandai babak baru organisasi menjadi lebih terbuka, sosial, dan kolaboratif di Palembang.
  • Sekretaris Daerah Palembang berharap gedung baru tersebut menjadi wadah kegiatan sosial dan penguatan silaturahmi masyarakat.
  • FPI Sumsel berkomitmen membuka gedung sekretariatnya untuk berbagai kegiatan keagamaan dan sosial warga sekitar.

SuaraSumsel.id - Peresmian Gedung Sekretariat Front Persaudaraan Islam (FPI) Sumatera Selatan bukan sekadar seremoni. Kehadiran pemerintah kota, tokoh agama, dan ratusan jemaah memunculkan pesan yang lebih dalam yakni FPI menandai babak baru perannya di ruang publik Palembang, menjadi lebih terbuka, sosial, dan kolaboratif.

Acara yang berlangsung khidmat itu dihadiri Sekretaris Daerah Kota Palembang, Aprizal Hasyim, serta Imam Besar FPI, Habib Muhammad Rizieq. Antusiasme peserta memperlihatkan momentum penting bagi ormas keagamaan ini untuk menegaskan arah langkah ke depan.

Dalam sambutannya, Aprizal menekankan bahwa gedung sekretariat diharapkan menjadi pusat konsolidasi, penguatan silaturahmi, sekaligus wadah kegiatan sosial dan keagamaan yang memberi manfaat luas bagi masyarakat. Pesan ini memperlihatkan irisan kepentingan antara pemerintah kota dan ormas: merawat harmoni sosial dan ketertiban kota.

“Nilai persaudaraan, kepedulian sosial, dan pembentukan akhlak mulia adalah fondasi penting bagi kehidupan bermasyarakat yang berkeadaban,” ujarnya.

Pernyataan ini menempatkan FPI bukan semata sebagai organisasi internal, melainkan aktor sosial di tengah warga.

Yang paling menyedot perhatian publik adalah komitmen FPI Sumsel membuka gedung sekretariat untuk masyarakat sekitar. Imam Daerah DPD FPI Sumsel, Kyai Besar Habib Umar Abdul Azizi bin Abdurrahman Syahab, menyampaikan bahwa gedung ini dapat dipakai untuk kegiatan keagamaan dan sosial, bahkan resepsi pernikahan sesuai tuntunan Islam.

Langkah ini memberi sinyal kuat: ruang ormas tak lagi eksklusif, melainkan hadir sebagai fasilitas komunal. Bagi warga Palembang, ini berarti akses ruang sosial baru—dan bagi FPI, ini adalah reposisi citra.

Pemkot Palembang juga menegaskan pintu kolaborasi terbuka bagi seluruh elemen masyarakat, termasuk ormas, selama berada dalam koridor peraturan perundang-undangan. Pesan ini menjadi penyeimbang yang penting—inklusif, namun tetap berbingkai hukum.

Di titik inilah makna peresmian gedung menjadi jelas: perjumpaan kepentingan antara stabilitas kota dan partisipasi sosial ormas. Sinergi yang rapi dinilai krusial untuk menjaga suasana aman, damai, dan kondusif.

Baca Juga: BI Ungkap Ekonomi Sumsel Tangguh di Tengah Gejolak Global

Peresmian Gedung FPI Sumsel dapat dibaca sebagai sinyal peran baru—dari konsolidasi internal menuju pelayanan sosial yang lebih nyata. Apakah langkah ini akan konsisten dan berkelanjutan? Publik menunggu jawabannya di lapangan.

Satu hal pasti yakni jika di Palembang, ruang publik kian diwarnai pendekatan inklusif dan kolaboratif. Dan peresmian gedung ini menjadi penanda awal bahwa ormas, pemerintah, dan warga bisa bertemu di satu titik: kemanfaatan bersama.

Load More