- OJK Sumsel menilai perkembangan keuangan syariah menghadapi tantangan besar akibat rendahnya literasi dan koneksi dengan sektor riil UMKM.
- Kepala OJK Sumsel, Arifin Susanto, menyampaikan hal ini di Palembang pada Rabu (24/11/2025) saat diskusi ngobrol santai.
- Aset keuangan syariah Sumsel Rp4,7 triliun tumbuh, namun OJK mendorong strategi literasi dan digitalisasi untuk dukungan ekonomi riil.
SuaraSumsel.id - Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Provinsi Sumatera Selatan menilai perkembangan keuangan syariah di daerah masih menghadapi tantangan besar. Tantangan tersebut terutama terkait rendahnya literasi dan inklusi keuangan syariah, serta belum kuatnya keterhubungan langsung dengan sektor riil seperti usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM).
Penilaian itu disampaikan Kepala OJK Provinsi Sumatera Selatan, Arifin Susanto, dalam kegiatan ngobrol santai bertajuk Perkembangan Keuangan Syariah dan UMKM, yang digelar di Palembang, Rabu (24/11/2025).
Arifin menegaskan, Sumatera Selatan sebenarnya memiliki potensi besar untuk pengembangan keuangan syariah. Namun, potensi tersebut belum sepenuhnya tergarap secara optimal. Hal ini tercermin dari pangsa keuangan syariah di Sumsel yang hingga kini masih berada pada kisaran satu digit.
“Keuangan syariah ini bukan hanya soal produk, tetapi bagaimana membangun ekosistem yang utuh. Tantangannya adalah bagaimana literasi dan inklusi bisa berjalan beriringan, serta benar-benar terhubung dengan aktivitas ekonomi masyarakat,” ujar Arifin.
Berdasarkan data OJK Sumsel, total aset keuangan syariah di Sumatera Selatan tercatat berada di kisaran Rp 4,7 triliun. Angka tersebut menunjukkan pertumbuhan tahunan, namun lajunya masih dinilai belum sebanding dengan potensi ekonomi daerah yang cukup besar, khususnya dari sektor UMKM dan industri berbasis lokal.
Dari sisi pembiayaan, OJK mencatat bahwa sektor UMKM memang menjadi salah satu sasaran utama pembiayaan syariah. Namun demikian, porsi pembiayaan syariah yang benar-benar mengalir ke UMKM dinilai masih belum dominan dalam struktur pembiayaan secara keseluruhan.
Sementara itu, tingkat pembiayaan bermasalah atau non performing financing (NPF) perbankan syariah di Sumatera Selatan berada di kisaran 2 hingga 3 persen. Angka ini relatif terjaga, namun tetap perlu diantisipasi agar tidak menjadi penghambat ekspansi pembiayaan ke sektor produktif.
“Pertumbuhan pembiayaan syariah memang berada di kisaran belasan persen, tetapi masih tertinggal jika dibandingkan dengan perbankan konvensional. Ini menjadi pekerjaan rumah bersama,” kata Arifin.
Menurut Arifin, salah satu faktor utama yang menghambat akselerasi keuangan syariah adalah masih rendahnya pemahaman masyarakat terhadap produk-produk syariah. Padahal, secara konsep dan skema, produk keuangan syariah dinilai cukup fleksibel dan kompetitif untuk mendukung pembiayaan usaha.
Baca Juga: Bank Sumsel Babel Dorong CSR Berkelanjutan lewat Pemberdayaan UMKM di Sembawa Color Run 2025
Karena itu, OJK mendorong strategi literasi keuangan syariah yang lebih masif, tidak hanya bersifat teoritis, tetapi juga berbasis praktik langsung dan menyasar pelaku usaha. Edukasi juga diarahkan agar lebih dekat dengan komunitas dan kebutuhan riil masyarakat.
“Butuh terobosan. Misalnya, bagaimana event besar di kawasan Jakabaring bisa kembali menggebyarkan keuangan syariah, sehingga masyarakat melihat langsung manfaatnya,” ujarnya.
Selain penguatan literasi, OJK Sumsel juga menekankan pentingnya digitalisasi layanan keuangan syariah serta integrasi pembiayaan dengan sektor-sektor produktif. Pendekatan ini diharapkan tidak hanya mendorong pertumbuhan dari sisi angka, tetapi juga menghadirkan dampak nyata bagi ekonomi masyarakat.
Arifin mengakui masih ada berbagai tantangan struktural dalam pengembangan keuangan syariah, mulai dari keterbatasan produk, minimnya inovasi, hingga persepsi sebagian masyarakat yang menganggap keuangan syariah lebih rumit.
Oleh karena itu, dialog dengan media dinilai menjadi bagian penting dalam menyampaikan fakta dan data secara utuh kepada publik.
OJK Sumsel menargetkan peningkatan inklusi keuangan syariah secara bertahap melalui kolaborasi antara perbankan syariah, pelaku UMKM, dan pemerintah daerah. Dengan strategi yang tepat dan dukungan semua pihak, Arifin optimistis keuangan syariah dapat berperan lebih besar dalam menopang pertumbuhan ekonomi Sumatera Selatan secara berkelanjutan.
Tag
Berita Terkait
-
Bank Sumsel Babel Dorong CSR Berkelanjutan lewat Pemberdayaan UMKM di Sembawa Color Run 2025
-
Telkomsel Percepat Transformasi UKM Sumsel Lewat AI di Program DCE ke 5
-
Pelibatan Masyarakat Jadi Kunci Jaminan Pasokan Bahan Baku Program MBG
-
Dari Dapur MBG hingga Pedagang Tempe, Program Makan Bergizi Gratis Gerakkan Ekonomi
-
5 Aplikasi Emas Digital Terbaik Tahun Ini untuk Investasi Biaya Rendah bagi Pemula
Terpopuler
- 7 HP Baru Paling Murah Rilis Awal 2026, Fitur Canggih Mulai Rp1 Jutaan
- 6 Mobil Hybrid Paling Murah dan Irit, Cocok untuk Pemula
- 7 HP Terbaru di 2026 Spek Premium, Performa Flagship Mulai Rp3 Jutaan
- Pendidikan dan Karier Wakil Bupati Klaten Benny Indra Ardhianto yang Meninggal Dunia
- Klaten Berduka! Wakil Bupati Benny Indra Ardianto Meninggal Dunia
Pilihan
-
Hasil Uji Coba: Tanpa Ampun, Timnas Indonesia U-17 Dihajar China Tujuh Gol
-
Iran Susah Payah Kalahkan Timnas Indonesia di Final Piala Futsal Asia 2026
-
LIVE Final Piala Asia Futsal 2026: Israr Megantara Menggila, Timnas Indonesia 3-1 Iran
-
Menuju Juara Piala Asia Futsal 2026: Perjalanan Timnas Futsal Indonesia Cetak Sejarah
-
PTBA Perkuat Hilirisasi Bauksit, Energi Berkelanjutan Jadi Kunci
Terkini
-
Sumsel Sepekan: Puluhan Ribu Jamaah Putihkan Palembang dalam Puncak Ziarah Kubro 2026
-
Inflasi Sumsel Masih Aman, Tapi Warga Mulai Merasakan Perubahan Harga
-
Gedung FPI Sumsel Diresmikan, Sinyal Peran Baru FPI di Ruang Publik Palembang
-
7 Bedak Tabur HD untuk Tampilan Wajah Mulus di Depan Kamera
-
Solidaritas Suporter Mengalir, Donasi untuk Sriwijaya FC Tembus Rp20 Juta dalam Sepekan