-
Bocah 10 tahun di Palembang dikurung di gudang masjid oleh teman sebayanya.
-
Pelaku memperdaya korban dengan iming-iming permen sebelum mengunci pintu.
-
Warga panik setelah mendengar tangisan korban dari dalam gudang masjid.
SuaraSumsel.id - Suara tangis bocah lelaki memecah kesunyian sore di sebuah masjid di Palembang. Warga yang sedang bersiap menunaikan salat kaget mendengar rintihan dari balik pintu gudang yang terkunci rapat. Saat dibuka, seorang anak berusia 10 tahun keluar dengan mata sembab dan tubuh gemetar, ternyata, ia dikurung oleh teman sebayanya sendiri.
Insiden memilukan ini terjadi di kawasan Sematang Borang, Palembang. Bocah berinisial S (10) awalnya diajak dua temannya untuk bermain di sekitar masjid. Tak ada kecurigaan sama sekali, ajakan yang terdengar polos itu justru berujung menjadi mimpi buruk.
“Katanya mau kasih permen,” tutur Ardhiansyah Nugraha, ayah korban, dengan nada getir.
Namun, sesampainya di gudang belakang masjid, S didorong masuk dan pintu dikunci dari luar. Ia berteriak minta tolong, tapi tak ada yang mendengar hingga beberapa saat kemudian seorang jamaah perempuan mendengar tangisnya.
Ketika pintu dibuka, S sudah dalam kondisi ketakutan dan menangis hebat. Tak hanya itu, pihak keluarga juga menemukan bekas lebam di tubuhnya, menandakan kemungkinan perundungan yang sudah terjadi lebih dari sekali.
“Anak saya pendiam, dia tidak cerita kalau sering dirundung,” kata Ardhiansyah lirih. “Saya baru tahu setelah videonya viral.”
Video yang menampilkan detik-detik penyelamatan bocah itu kemudian beredar luas di media sosial dan memicu kemarahan publik. Banyak warganet menyesalkan perilaku kejam anak-anak yang masih duduk di bangku sekolah dasar itu.
Ketua RT setempat, Ilham, membenarkan bahwa peristiwa itu telah dimediasi bersama kedua pihak. Namun keluarga korban menegaskan, jika tak ada itikad baik dari pelaku maupun orang tuanya, mereka siap menempuh jalur hukum.
“Kami tidak ingin ada anak lain yang mengalami hal seperti ini. Masjid harusnya tempat aman, bukan tempat anak-anak jadi korban kekerasan,” ujar Ilham.
Kisah ini membuka mata banyak orang bahwa perundungan tak hanya terjadi di sekolah, tapi bisa muncul di tempat ibadah atau lingkungan sekitar.
Baca Juga: HUT ke 68 Bank Sumsel Babel, Jajan Cuma Rp68 Pakai QRIS BSB Mobile
Anak-anak yang tampak bermain biasa pun bisa menjadi korban kekerasan emosional yang meninggalkan luka panjang.
S mungkin tak akan melupakan hari itu — saat ia dikurung di tempat suci yang seharusnya jadi ruang tenang. Namun dari rasa takut dan luka itu, mungkin lahir keberanian baru bagi keluarga dan masyarakat untuk lebih peka terhadap jeritan kecil yang sering tak terdengar.
Tag
Berita Terkait
-
Perkembangan Baru Kasus Siswi SD di Palembang yang Matanya Lebam, PH: Biarkan Fakta Bicara
-
Hadirkan Livin' Fest 2025 di Palembang, Bank Mandiri Sinergikan UMKM dan Industri Kreatif
-
Ada Apa dengan Mega Proyek IPAL Palembang? Kasus Rp7 Miliar Mandek di Polisi
-
Benarkah Mata Fatiyah Lebam karena Benturan Biasa? Sekolah Membantah, Orang Tua Lapor Polisi
-
Viral di Palembang! Siswi SD Alami Lebam di Wajah, Diduga Dipukul Guru Pakai Cincin
Terpopuler
Pilihan
-
Dramatis! Ubed Persembahkan Medali Emas Asian Games 2026 untuk Indonesia
-
Massa Buruh Mulai Padati Thamrin, Andi Gani Pimpin Langsung Aksi Tuntut Keadilan RUU Ketenagakerjaan
-
Bawa Kentongan Hingga Kenakan Topi Caping, Massa Hari Tani Nasional Mulai Padati Depan Gedung DPR
-
Hukuman Lebih Ringan, Pengadilan Tinggi DKI Jakarta Vonis Nadiem Makarim 9 Tahun Penjara
-
Dugaan Keracunan MBG Hantam Batang, 276 Orang Jadi Korban
Terkini
-
Dua Pulau Baru Muncul di Dekat Anak Krakatau, Apakah Ini Pusat Erupsi Baru?
-
Karhutla Sumsel Tak Kunjung Padam, Bisakah Perusahaan yang Diduga Lalai Digugat?
-
Enam Dekade Menunggu, UU Reforma Agraria Disahkan: Akankah Tanah Kembali ke Petani?
-
Prabowo Setuju Badan Baru Kelola Gambut, Apa Bedanya dengan Lembaga Restorasi Dulu?
-
Wabup Iwan Tuaji Segera Disidang, Terungkap Lagi Perkara Rp872,5 Juta dari Proyek PALI