-
Ketua Dewan Kopi Sumatera Selatan, Zain Ismed, memberikan apresiasi tinggi terhadap film Tunggu Tubang Tak Akan Pernah Tumbang karena dianggap sebagai upaya pelestarian budaya dan lingkungan.
-
Zain menekankan pentingnya menjaga keberlanjutan kopi Semendo dan ekosistemnya agar produksi tetap stabil dan generasi mendatang tidak dirugikan.
-
Film ini menyoroti filosofi tunggu tubang, tradisi Semendo yang menempatkan perempuan sebagai pengelola aset keluarga, sekaligus mengingatkan bahwa pembangunan harus selaras dengan pelestarian lingkungan.
SuaraSumsel.id - Ketua Dewan Kopi Sumatera Selatan, Zain Ismed, memberikan apresiasi tinggi terhadap film Tunggu Tubang Tak Akan Tumbang.
Usai mengikuti nonton bersama sekaligus diskusi, Zain mengungkapkan jika film ini bukan sekadar karya seni, tetapi juga sebuah upaya pelestarian budaya dan lingkungan, khususnya terkait kopi Semendo di Kecamatan Muara Enim, Sumatera Selatan.
“Semua kopi memang enak, tapi kopi Semendo punya keistimewaan. Kopi ini enak bukan hanya karena rasa, melainkan karena hutannya masih ada dan lingkungannya masih terjaga,” kata Zain.
Dalam pandangannya, kopi Semendo kini menghadapi ancaman cukup serius. Selama tiga hingga empat tahun terakhir, aktivitas pertambangan di wilayah Semendo telah menimbulkan kerusakan alam yang berdampak langsung pada menurunnya produksi kopi.
Kondisi ini, menurut Zain, mirip dengan apa yang terjadi di Vietnam dan Brasil, dua negara penghasil kopi besar yang gagal menjaga keberlanjutan karena eksploitasi berlebihan.
“Lingkungan harus seimbang. Kalau tidak, kopi yang menjadi kebanggaan kita akan hilang. Yang rugi bukan hanya petani, tapi juga generasi yang akan datang,” tegasnya.
Lebih jauh, ia menyoroti bahwa kopi Semendo selama ini banyak digunakan perusahaan besar, namun identitasnya kerap diklaim daerah lain seperti Lampung dan Medan.
Padahal, Semendo memiliki filosofi kuat dalam menjaga ekosistem dan keberlanjutan. Selain itu, masyarakat setempat kini mulai dikenalkan pada cara bertani yang lebih organik, sebab penggunaan pupuk kimia berlebihan bisa merusak ekosistem tanah sekaligus mengubah rasa kopi.
Film Tunggu Tubang Tak Akan Pernah Tumbang yang digarap generasi Z dan milenial ini mengangkat filosofi tunggu tubang, tradisi Semendo yang menempatkan perempuan sebagai pewaris utama keluarga.
Baca Juga: Saksikan Kisah Tunggu Tubang di UIN Raden Fatah Palembang: Film, Foto, dan Diskusi Publik
Menurut Zain, filosofi tersebut sangat relevan dengan pembangunan daerah masa kini.
“Jika perempuan boleh sekolah, itu akan lebih baik. Karena tunggu tubang bukan hanya penjaga aset, tapi pengelola hasil yang berkelanjutan,” ujarnya.
Ia menambahkan, prinsip tunggu tubang selaras dengan gagasan pelestarian lingkungan yakni hasil bumi boleh dijual, tetapi aset berupa tanah dan hutan harus tetap dijaga.
Selain itu, Zain menyinggung kearifan lokal masyarakat Semendo dalam mengatur pola tanam. Mereka menanam padi hanya sekali setahun untuk menghindari serangan hama, lalu beralih menanam jagung atau kacang-kacangan.
“Kalau dipaksa meningkatkan produksi terus-menerus, ekosistem rusak. Lebih baik padi sekali, lalu ganti tanaman lain. Itu menjaga keseimbangan tanah,” jelasnya.
Menurut Zain, film Tunggu Tubang Tak Akan Pernah Tumbang bukan hanya membuka ruang diskusi tentang budaya, tetapi juga menjadi pengingat penting bahwa pembangunan harus berjalan beriringan dengan pelestarian lingkungan.
Berita Terkait
-
Saksikan Kisah Tunggu Tubang di UIN Raden Fatah Palembang: Film, Foto, dan Diskusi Publik
-
Kopi Asal Sumsel Diekspor ke Malaysia, Nilainya Tembus Rp1,2 Miliar
-
Pelestari Tunggu Tubang, Penjaga Adat dan Harapan Pangan Berkelanjutan di Sumatera Selatan
-
Dari Kemasan Kopi hingga AI, Ini Cara OJK & Pemkot Palembang Bantu UMKM Naik Kelas
-
Kopi Sumsel Siap Ekspor, Ini Strategi 'Closed Loop' OJK yang Buka Akses untuk Petani
Terpopuler
- Operasi Politik Presisi Prabowo: Preteli Siji-siji
- 9 Sunscreen untuk Mencerahkan Wajah dan Menghilangkan Flek Hitam
- Luky Alfirman Jadi Wamenkeu usai Dicopot Purbaya, Pengamat Soroti Arah Kebijakan Suahasil
- Margarito soal Gugatan Ijazah Gibran di MK: Saya Tak Mengerti Kenapa Disidangkan
- Sehari Dijabat Suyudi Ario Seto, Polri Langsung Rombak 19 Kapolda: Ini Daftar Lengkapnya!
Pilihan
-
Resmi, Syahganda Nainggolan Jadi Kepala Bakom RI Gantikan Muhammad Qodari
-
Hadir di Istana, Pratikno Buka Suara Soal Isu Jadi Ketua Wantimpres Era Prabowo
-
Disorot Gegara Gaya Hidup Mewah, Timothy Ivan Mundur dari Deputi II Bakom RI: Ingin Introspeksi Diri
-
KBRI di Singapura Tak Punya Dokumen Soal Jenjang Pendidikan Gibran di Orchid Park dan MDIS
-
Pemain Timnas Indonesia Dapat Ancaman Pembunuhan
Terkini
-
Kabut Asap Palembang Makin Pekat, 31 Penerbangan di SMB II Terganggu hingga Kuala Lumpur
-
Warga OKI Ditemukan Meninggal di Tengah Karhutla, Diduga Terjebak Asap dan Api
-
Kabut Asap Sumsel Tak Hanya Bikin Sesak, Akademisi Soroti 'Empathy Gap' Kepala Daerah
-
Kabut Asap Palembang, Pesawat dari Malaysia Gagal Mendarat hingga Penumpang Rekam Momen Putar Balik
-
Asap Karhutla Mengepung Palembang, Keluhan Pernapasan Memburuk pada Pasien Rentan