SuaraSumsel.id - Jika Anda berkunjung ke Kecamatan Pedamaran, Kabupaten Ogan Komering Ilir, jangan buru-buru pulang tanpa mencicipi bingko—makanan ringan tradisional yang bukan sekadar jajanan murah, tapi juga warisan budaya dan bukti cinta ibu dalam setiap gigitannya.
Di Palembang, kue ini dikenal sebagai gunjing, dan bentuknya memang menyerupai kue pukis.
Tapi percayalah, sensasi menyantap bingko langsung dari tangan pembuatnya di Pedamaran akan membuat Anda mengenang masa lalu, bahkan meski Anda bukan orang sana.
Kue Kelapa yang Tumbuh Bersama Waktu
“Bingko itu sudah ada sejak zaman nenek saya,” tutur Robinhod Kunut, tetua adat Marga Danau. Terbuat dari tepung beras dan kelapa, dua bahan yang sangat melimpah di Pedamaran, bingko adalah contoh nyata dari kearifan lokal dalam mengolah hasil alam menjadi pangan harian.
Dulu, tepung beras dibuat secara manual—diisar dengan batu, dan dibentuk dalam cetakan logam. Setiap rumah di Pedamaran punya padi dan pohon kelapa, menjadikan bingko bagian dari kehidupan sehari-hari.
Pedamaran dulunya dikenal sebagai kampung dengan keluarga besar. “Satu rumah bisa punya 10 sampai 12 anak,” ujar Suparman Guluks, tokoh adat lainnya.
Karena itulah, para ibu membuat bingko setiap pagi sebagai makanan selingan sebelum anak-anak berangkat sekolah. Bingko menjadi sumber energi, cinta, dan kreativitas di dapur rumah-rumah sederhana.
Tak hanya untuk dikonsumsi sendiri, bingko juga jadi sumber pemasukan. Ibu-ibu Pedamaran akan menyuruh anak-anaknya menjual bingko keliling kampung, bersama dengan kue lain seperti lepat, apam, dan nagosari. Penjualannya dimulai pukul 6 pagi hingga 8, lalu anak-anak itu pun berangkat sekolah.
Baca Juga: Fakta Miris! Perempuan Lulusan SMA & Kuliah di Sumsel Lebih Sulit Dapat Kerja dari Laki-Laki
Dulu 5 Rupiah, Sekarang Seribu
“Saya dulu jualan bingko buatan ibu sebelum sekolah,” kata Ayani, yang kini masih setia membuat bingko. “Satu biji dulu 5 rupiah, saya dapat upah 1 rupiah buat jajan.”
Kini, Ayani tak lagi berkeliling. Ia mulai membuat bingko pukul 3 sore, dan biasanya habis sebelum pukul 5. Harga bingko hanya seribu rupiah, tapi cita rasanya tak pernah murah.
Di masa kini, jumlah anak dalam keluarga semakin sedikit. Tradisi menjajakan bingko pun mulai hilang. Namun, bingko tak pernah benar-benar pergi. Ia masih ada di sore hari Pedamaran, menunggu pembeli yang tahu betapa dalam makna di balik kue kecil itu.
“Saya selalu cari bingko saat pulang kampung,” kata Dedi Irwanto, warga Palembang yang lahir di Pedamaran. “Di Palembang juga ada, tapi rasa bingko di sini beda. Aromanya, teksturnya, kenangannya. Bingko pisang gedah yang dibungkus daun pisang itu juara.”
Bingko bukan sekadar kue. Ia adalah potongan sejarah, pengingat masa kecil, wujud cinta ibu, dan saksi kehidupan rumah tangga Pedamaran yang hangat dan sederhana.
Berita Terkait
-
Fakta Miris! Perempuan Lulusan SMA & Kuliah di Sumsel Lebih Sulit Dapat Kerja dari Laki-Laki
-
Sumsel Sepekan: Ketegangan di Laut Sungsang dan Kabar Gembira untuk Pelajar Palembang
-
Menembus Batas Digital, Karantina Sumsel dan Media Satukan Langkah Edukasi
-
Sumsel Mandiri Pangan 2025: Gerakan dari Desa ke Kantor yang Bikin Warga Tak Lagi Bergantung
-
Koperasi Merah Putih Jadi Harapan Baru Ekonomi Desa, Ini Gebrakan OJK dan Pemprov Sumsel
Terpopuler
Pilihan
-
100 Hari Jelang Piala Dunia 2026, FIFA Belum Kantongi Izin dari Dewan Kota
-
Nelayan Tanpa Perahu di Sambeng, Menjaga Kali Progo dari Ancaman Tambang Tanah Urug
-
Hasil BRI Super League: Lewat Duel Sengit, Persija Jakarta Harus Puas Ditahan Borneo FC
-
Dua Kapal Tanker Pertamina Masih di Selat Hormuz, Begini Nasib Awaknya
-
Sesaat Lagi! Link Live Streaming Persija vs Borneo FC, Jaminan Laga Seru di JIS
Terkini
-
Warga Palembang Wajib Tahu! Jadwal Imsak dan Buka Puasa Hari Ini, 4 Maret 2026
-
Gejolak Timur Tengah Memanas, Seberapa Aman Keberangkatan Umrah Warga Sumsel?
-
45 Tahun PTBA, Ribuan Kantong Darah Terkumpul: Energi Kebaikan Mengalir untuk Sesama
-
Harga Minyak Bergejolak, SKK Migas Sumbagsel Targetkan 130 Sumur Baru pada 2026
-
BSB Mobile Perkuat Strategi Digital Bank Sumsel Babel, Transaksi Harian Kini Lebih Praktis