Budiono juga menceritakan jika hutana adat ini melekat mitos dijaga sesepuh (leluhur), sehingga warga desa juga meyakini untuk mengingat nama sosok tersebut jika tersesat saat berada di hutan adat.
Kejadian ini pun dialami oleh bapak dua anak ini saat hendak ke Bukit Patah, lanskap utara hutan adat. Dia pun menceritakan jika di kawasan hutan adat, ada sebuah lokasi yang sempat tidak mampu direkam secara digital. Kejadian ini terjadi beberapa tahun yang lalu yang ingin mendokumentasikan hutan adat, namun tampilannya hanya muncul warna gelap.
“Di lokasi itu, hasil rekamannya gelap, tidak bisa direkam. Namun entah apa yang menyebabkannya, titik itu tidak bisa direkam,” ucap Budiono.
Sesepuh yang diceritakan merupakan sosok laki-laki. Budiono pun mengungkapkan jika berdasarkan hukum adatnya, kepala adat meski berjenis kelamin laki-laki.
Baca Juga: Eks JI Sumsel Evaluasi Paham Radikalisme, Komitmen Kembali ke NKRI
Ketua adat pun dipilih merupakan keturunan pertama, atau kedua anak laki-laki. Ketua adat pun menjadi perwakilan masyarakat desa dalam setiap pertemuan dengan pihak luar. Jika dalam acara-acara adat, Ketua adat pun akan menjadi simbol masyarakat desa.
“Perempuan tidak boleh menjadi ketua adat, karena perannya besar untuk menjaga hutan, jika ada kejadian di hutan, maka akan sulit buat dia (perempuan). Peran menjaga hutan akan khawatir membahayakan nyawa perempuan. Namun meski saya ketua adat laki-laki, saya pun tidak bisa sendiri menjaga hutan perlu juga dukungan keluarga dan masyarakat yang tentu juga terdapat kaum perempuannya,” ucap Budiono menyakinkan.
Adat, dan Umur Panjang Perempuan Basemah
Jika berkunjung ke desa ini, akan sangat mudah ditemui kalangan perempuan yang panjang usia. Saat ada acara di desa, setidaknya memperlihatkan cukup banyak perempuan desa yang usia lebih dari 70 tahun.
Meski sudah berusia lanjut, namun perempuan-perempuan Besemah pun masih kuat berjalan. Nenek Rasma misalnya, di usianya sudah 74 tahun namun masih kuat melakukan pekerjaan di kebun. Dia pun mengaku masih bertanam kopi, tomat yang kemudian dijual atau dimasak bagi keperluan sehari-hari.
Baca Juga: Fraksi-fraksi DPRD Prov Sumsel Sampaikan Pandangan Umum Raperda APBD TA 2025
Rasma menceritakan jika kehidupan di desa membuat awet muda. Sikap hidup yang menghargai alam dengan tidak mengambil yang bukan menjadi hak, atau menyimpan yang sesuai kebutuhan. Hidup di desa juga masih mendapatkan udara yang segar dan udara yang masih sejuk.
Berita Terkait
-
Kasus Bikin Konten Rendang Hilang, Polisi Periksa Pelapor Willie Salim
-
Gubernur Herman Deru Buka Rakor Forkopimda Se-Sumsel
-
Menjaga Kelestarian Hutan Adat: Upaya Masyarakat Kampung Friwen dalam Pemanfaatan Berkelanjutan
-
Gercep Antisipasi Arus Mudik Lebaran, Herman Deru Cek Jalur Tol Alternatif Palembang-Betung
-
Jejak Pendidikan Umi Hartati: Sarjana Ekonomi hingga Ketua Komisi yang Ditahan KPK
Tag
Terpopuler
- Kode Redeem FF SG2 Gurun Pasir yang Aktif, Langsung Klaim Sekarang Hadiahnya
- Pemain Keturunan Indonesia Statusnya Berubah Jadi WNI, Miliki Prestasi Mentereng
- Pemain Keturunan Indonesia Bikin Malu Raksasa Liga Jepang, Bakal Dipanggil Kluivert?
- Jika Lolos Babak Keempat, Timnas Indonesia Tak Bisa Jadi Tuan Rumah
- Ryan Flamingo Kasih Kode Keras Gabung Timnas Indonesia
Pilihan
-
Masjid Agung Sleman: Pusat Ibadah, Kajian, dan Kemakmuran Umat
-
Ranking FIFA Terbaru: Timnas Indonesia Meroket, Malaysia Semakin Ketinggalan
-
Duel Kevin Diks vs Laurin Ulrich, Pemain Keturunan Indonesia di Bundesliga
-
Daftar Lengkap 180 Negara Perang Dagang Trump, Indonesia Kena Tarif 32 Persen
-
Detik-detik Jose Mourinho Remas Hidung Pelatih Galatasaray: Tito Vilanova Jilid II
Terkini
-
Lebaran Berdarah, Tukang Parkir Kritis Ditusuk 7 Kali Pengunjung Club DA 41 Palembang
-
Kronologi Siswi SD Hilang 2 Hari, Ditemukan Dicabuli di Hotel Palembang
-
Wisata Maut di Ogan Ilir: Speedboat Terbalik Lagi, 'Tak Basah Tak Bayar'
-
Baru Kenal, Pemuda 19 Tahun Tega Cabuli Siswi SD di Hotel Melati Palembang
-
Ritel Hingga Perkebunan, Puluhan Perusahaan di Sumsel Tak Cairkan THR