Tasmalinda
Rabu, 12 Oktober 2022 | 21:03 WIB
ilustrasi petani karet Sumsel. [ANTARA]

Akibat semakin menurunkan peremajaan lahan membuat produktivitas lahan karet Indonesia semakin menurun. Saat ini rata-rata hanya 1 ton per hektare per tahun, padahal negara pesaing seperti Vietnam dan Thailand sudah mencapai 2-3 ton per hektare per tahun.

Kondisi ini telah berimbas pada industri karet karena pabrik-pabrik mengalami kekurangan bahan baku dalam tiga tahun terakhir.

Ketua Gabungan Pengusaha Karet Indonesia Alex K Eddy dalam kesempatan yang sama mengatakan di tengah rendah produktivitas itu terdapat situasi yang lebih mengkhawatirkan yakni pelemahan penyerapan ekspor karet karena resesi di Eropa.

Jika pabrik ban tidak berproduksi maka siapa yang akan menyerap karet alam kita, kata Alex.

Baca Juga: Fakta-Fakta Kadus Dan Istri di Banyuasin Sumsel Tewas Dirampok: Harta dan Emas Ludes Digondol Pelaku

Selain itu, adanya negara-negara pesaing Indonesia yakni Thailand yang kini menyasar juga pasar Indonesia ke Amerika juga menjadi ancaman dalam situasi ini.

Gapkindo mengharapkan pemerintah dapat menemukan solusi efektif untuk mengatasi ini demi keberlanjutan perkebunan karet Indonesia.

“Saat 2017 Indonesia bisa mengekspor 3,2 juta ton tapi kini hanya 2,9 juta ton,” kata dia.

Artinya, ada penurunan produksi dari sejak 2017 yang diduga karena adanya pengalihan ke pekebunan sawit. Saat ini produksi Sumsel hanya mampu di bawah 1 juta ton per tahun, padahal biasanya di atas 1 juta ton.

Baca Juga: Sadis! Kadus Dan Istri di Banyuasin Sumsel Tewas Dengan Tangan Dan Kaki Diikat, Diduga Dirampok

Load More