Tasmalinda
Sabtu, 01 Januari 2022 | 19:06 WIB
Komunitas seni mengelar teater perang 5 hari 5 malam [dok Sahabat Cagar Budaya]

SuaraSumsel.id - Peringatan perang 5 hari 5 malam berlangsung di Palembang, Sumatera Selatan, Sabtu (1/1/2022). Di hari pertama pada tahun 2022 ini, Komunitas Sahabat Cagar Budaya (SCB) menggelar serangkaian kegiatan.

Mulai dari prosesi mengheingkan ciptan, bincang pustaka, Heritage Walk Palembang dengan tema Meet The Heroes di Taman Tentara Pelajar di Jalan Merdeka, Palembang.

Sejarawan dari Universitas Sriwijaya (Unsri) Syafruddin Yusuf , mengatakan wawasan mengenai perang lima hari lima malam di Palembang sangat penting terutama pada generasi muda, sebagai wujud dari masyarakat di Palembang, Sumatera Selatan.

“Kalau generasi tua pasti tahu perang lima hari lima malam hanya generasi  muda ini yang umur 20 tahunan kurang, karena mata pelajaran sejarah yang membahas perang lima hari lima malam  tidak ada dalam kurikulum, “ katanya saat mengisi acara.

Hanya saja, Guru masih enggan menyampaikannya sebagai materi sejarah lokal di luar kurikulum yang sudah harus diajarkan.

“ Mestinya sasaran pertama kalau mau perang ini dikenal masyarakat khususnya  generasi muda sekarang di lembaga pendidikan  ini nanti kaitannya nanti Dinas Pendidikan  yang mewajibkan memberikan  materi tentang perang lima hari lima malam itu,” katanya.

Dalam materinya mengenai perang 5 hari 5 malam, beberapa faktor yang menyebabkan Belanda sangat ingin menguasai Palembang hingga terjadi perang 5 hari 5 malam, di antaranya ekonomi, dan politik

“ Faktor militer, Palembang  juga pusat kekuatan militer untuk Sumatera Bagian Selatan dan dari sisi sosial di mana waktu zaman Jepang , orang Belanda ditahan dan disiksa oleh Jepang. Oleh karena itu Belanda ingin mengembalikan citra Belanda dengan menguasai Palembang,” terangnya.

Diketahui adapun perang 5 hari 5 malam berlangsung di wilayah Palembang, mulai dari RS Charitas, Bagus Kuning Plaju, Gedung Handlezaken, Talang Semut dan pusat kekuatan Belanda di Benteng Kuto Besak (BKB).

Baca Juga: Kaleidoskop Sumsel 2021: 5 Peristiwa Heboh, Donasi Palsu Rp2 Triliun Akidi Tio

"Perang 5 hari 5 malam itu sifatnya perang kota," sambungnya.

Wawasan mengenai perang lima hari lima malam perlu terus diperluas dan dikenalkan pada generasi muda terutama Palembang, Sumatera Selatan.

Senior Coordinator Sahabat Cagar Budaya, Robby Sunata mengatakan perang lima hari lima malam di kota Palembang juga perlu mendapatkan perhatian dari Pemerintah Pusat.

"Wawasan sejarah perang ini amat perlu dikenalkan dari berbagai aspek. Misalnya saat itu, Palembang dikenal sebagai daerah tambang terbesar di Asia Tenggara. Dua kilang minyak  terbesar di Asia Tenggara memasok 70 persen penghasil minyak  di Indonesia. Dari posisi strategis secara ekonomi ini, Palembang penting secara politik,” terang Robby.

Load More