Scroll untuk membaca artikel
Tasmalinda
Minggu, 11 Oktober 2020 | 07:55 WIB
Surat Pernyataan Ini Lebay, Polisi di Palembang Larang Mahasiswa Aksi

Demikianlah surat pernyataan itu, untuk ditandatangi oleh pihak keluarga atau orang tua dengan membubuhkan materai seharga Rp6.000.

Surat pernyataan ini pun dianggap aneh oleh orang tua / wali yang menandatanginya.

“Saya juga bingung, kenapa unjuk rasa malah dilarang dan diatur dalam surat pernyataan itu,” ujar Ayu A, salah satu keluarga yang menjemput keponakannya, Sabtu (11/10/2020) malam.

Surat pernyataan ini pun dikritisi oleh Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) Universitas Sriwijaya atau Unsri.

Baca Juga: 10 Hari Kampanye, Belum Ada Kampanye Daring di Sumsel

Menurut Perwakilan BEM Unsri, Bagas Pratama isi surat pernyataan dengan melarang ikut unjuk rasa sangat bertentangan dengan hak berdemokrasi di negara ini. Selain itu juga menjadi alat memukul mundur geakan demokrasi mengkritisi kebijakan pemerintah.

Isi surat pernyataan yang harus ditandatangani orang tua saat anaknya ditahan polisi (ist)

“Hak menyatakan pendapat telah diatur dalam undang-undang. Saya aneh kiranya, polisi meminta warga sipil menjamin atau

memberikan pernyataan guna melarang anggota keluarga untuk unjuk rasa menyampaikan haknya berdemokrasi,” terang ia.

Load More