Krisis Iklim Mengancam Lumbung Pangan Semende, Padi Memendek dan Produksi Kopi Anjlok

Petani kopi dan padi di dataran tinggi Semende mengalami penurunan hasil panen drastis tahun ini.

Tasmalinda
Minggu, 08 November 2026 | 22:50 WIB
Krisis Iklim Mengancam Lumbung Pangan Semende, Padi Memendek dan Produksi Kopi Anjlok
Hamparan sawah di kawasan dataran tinggi Semende, Kabupaten Muara Enim, Sumatera Selatan [Mohamad Shabir Fikri/Suara.com]
Baca 10 detik
  • Petani kopi dan padi di dataran tinggi Semende mengalami penurunan hasil panen drastis tahun ini.
  • Anomali cuaca serta cekaman iklim ekstrem menjadi pemicu utama kerontokan bunga dan penurunan produktivitas tanaman.
  • Akademisi Universitas Sriwijaya menyarankan penerapan varietas padi genjah serta pengelolaan air dan pupuk sebagai solusi adaptasi.

SuaraSumsel.id - Semende merupakan kawasan dataran tinggi di bagian barat daya Provinsi Sumatera Selatan (Sumsel), berbatasan langsung dengan Pegunungan Bukit Barisan. Wilayah ini berada pada ketinggian rata-rata 900 hingga 1.400 meter di atas permukaan laut (mdpl). Bagi masyarakat setempat, nama Semende dimaknai berasal dari kata “se” yang berarti satu, “mah” berarti rumah, dan “nde” berarti milik.

Selama ratusan tahun, Semende dikenal memiliki ketahanan pangan yang kuat. Kawasan ini terbagi menjadi tiga kecamatan, yakni Semende Darat Laut (SDL), Semende Darat Ulu (SDU), dan Semende Darat Tengah (SDT). Dalam ingatan masyarakat, wilayah tersebut tidak pernah mengalami krisis pangan atau bencana kelaparan.

Kondisi geografis dengan udara sejuk dan curah hujan relatif tinggi menjadikan Semende cocok untuk budidaya padi sawah dataran tinggi serta kopi, baik jenis robusta maupun arabika. Luas persawahan di kawasan ini mencapai sekitar 3.650 hektare.

Berbeda dengan sawah lebak atau pasang surut di dataran rendah Sumsel, persawahan di Semende berupa hamparan bertingkat yang mengikuti kontur perbukitan. Sistem pengairannya mengandalkan gravitasi, dengan mengalirkan air dari mata air pegunungan dan sungai-sungai kecil melalui saluran irigasi tradisional.

Baca Juga:PTBA Salurkan 1.250 Box Susu untuk 26 Anak Stunting di Muara Enim

Bagi masyarakat Semende, sawah bukan semata-mata sumber penghasilan. Padi yang ditanam umumnya digunakan untuk memenuhi kebutuhan pangan keluarga dan keperluan adat. Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS) Kabupaten Muara Enim, jumlah penduduk di kawasan Semende saat ini mencapai 43.277 jiwa.

Keberadaan lahan pertanian juga berkaitan erat dengan pranata adat Tunggu Tubang. Dalam tradisi ini, rumah pusaka dan sawah utama keluarga diwariskan kepada anak perempuan tertua. Ia memikul tanggung jawab untuk menjaga dan mengelola aset keluarga agar tidak diperjualbelikan, sehingga keberlanjutan pangan keluarga besar tetap terpelihara dari generasi ke generasi.

Padi umumnya ditanam satu kali dalam setahun. Hasil panennya disimpan untuk konsumsi keluarga, bukan diprioritaskan sebagai komoditas perdagangan. Ketika membutuhkan uang tunai untuk memenuhi kebutuhan hidup, membiayai pendidikan, atau mengembangkan usaha, masyarakat lebih banyak mengandalkan hasil perkebunan kopi.

Kopi menjadi salah satu komoditas andalan masyarakat Semende dan penopang ekonomi rumah tangga. Namun, ketergantungan terhadap hasil perkebunan ini juga membuat perubahan produktivitas tanaman berdampak langsung pada pendapatan warga.

Berdasarkan penelusuran Suara.com, produksi kopi di Semende mengalami penurunan lebih dari 50 persen pada tahun ini. Petani menduga anomali cuaca menjadi salah satu penyebabnya.

Baca Juga:Dari Pekarangan ke Pasar, Perempuan Ganesha Mukti Membangun Kemandirian Pangan

“Untuk kopi tahun ini mengalami penurunan. Kami biasanya memanen kopi sampai dengan satu ton, tapi tahun ini hanya empat kuintal,” tutur warga yang akrab disapa Sansen.

Sansen merupakan warga Desa Kota Agung, Kecamatan Semende Darat Tengah. Ia menjelaskan, penurunan produksi terjadi ketika pola musim sulit diprediksi. Pada periode kemarau, sekitar Agustus hingga September, hujan lebat justru kerap turun disertai angin kencang.

Padahal, tanaman kopi membutuhkan periode kering yang relatif stabil untuk merangsang pembentukan kuncup bunga.

“Akibat hujan. Jadi bunga yang belum jadi buah rontok, selain itu hujan juga memicu pembusukan buah muda,” jelas Sansen.

Dampak perubahan cuaca tidak hanya dirasakan pada perkebunan kopi. Produktivitas padi yang menjadi penyangga kebutuhan pangan masyarakat Semende juga mengalami penurunan.

“Sama saja. Padi juga mengalami penurunan, tangkainya pendek,” ucap Sansen.

Menurut dia, perubahan kondisi cuaca turut memengaruhi pertumbuhan tanaman padi. Salah satu gejala yang terlihat di lahan pertanian adalah tangkai atau malai padi yang tumbuh lebih pendek.

Cekaman iklim mengganggu pertumbuhan tanaman

Keluhan petani tersebut mendapat perhatian dari kalangan akademisi Fakultas Pertanian Universitas Sriwijaya. Guru Besar Fakultas Pertanian Universitas Sriwijaya, Umar Harun, menjelaskan bahwa perubahan produktivitas tanaman dapat berkaitan dengan cekaman iklim, termasuk dampak fenomena El Niño.

Menurut Umar, selama fenomena El Niño, perubahan iklim mikro di tingkat lahan dapat disertai peningkatan suhu udara sekitar dua hingga lima derajat Celsius. Kondisi tersebut dapat diperburuk oleh penurunan kelembapan udara hingga 50–60 persen.

Kombinasi suhu tinggi dan kelembapan rendah berpotensi membuat tanaman mengalami cekaman lingkungan. Besarnya dampak, kata dia, bergantung pada fase pertumbuhan tanaman dan lamanya cekaman berlangsung.

"Jika pada saat padi muda mengalami cekaman akibat peningkatan suhu dan kelembaban udara yang rendah maka padi tersebut akan mengalami peningkatan evapotranpirasi dan respirasi sehingga tanaman akan tercekam dalam waktu yang lama," katanya.

Umar menjelaskan, kondisi tersebut dapat menurunkan kandungan klorofil pada daun. Gejalanya antara lain perubahan warna daun menjadi lebih hijau muda, penyusutan panjang daun dan batang, serta berkurangnya panjang tangkai gabah.

Pada fase pembungaan, tanaman padi juga dapat mengalami percepatan pembentukan bunga. Namun, jumlah gabah yang dihasilkan pada setiap tangkai atau malai berpotensi lebih sedikit.

"Akibatnya panen di bawah 1 ton gkp per hektar yang biasanya 5 ton gkp per hektar," tutur Umar.

Risiko kerusakan juga dapat terjadi ketika anomali iklim berlangsung saat padi memasuki fase generatif atau masa pembentukan hasil. Pada fase ini, cekaman lingkungan dapat mengganggu proses pembungaan dan pengisian bulir.

"Jika El nino terjadi saat tanaman padi sudah berbunga dapat berdampak terhadap jumlah gabah padi banyak gabah hampa dan terjadi daun klorosis sehingga jumlah panen padi mungkin di bawah 2 ton gkp per hektar dari biasanya 5 ton gkp per hektar," ujar Umar.

Sementara itu, hujan lebat yang disertai angin kencang juga dapat menjelaskan kerontokan bunga dan calon buah kopi yang dikeluhkan petani seperti Sansen.

"Hujan lebat pada dataran tinggi biasanya diikuti angin yang kencang dapat menyebabkan terjadinya kerontokan bunga betina atau calon putik," jelas Umar.

Menurut Umar, kerusakan pada tanaman padi dapat semakin besar apabila hujan lebat dan angin kencang terjadi berulang kali, terutama ketika tanaman berada dalam fase pembungaan, pengisian gabah, hingga matang penuh.

Dalam kondisi tersebut, bunga dapat gugur dan gabah terlepas dari malainya. Risiko kerusakan juga meningkat ketika tanaman kekurangan unsur hara kalium.

"Apalagi tanaman tersebut kurang hara kalium maka kerusakan tersebut akan semakin besar atau nyata sehingga banyak batang padi yang terunduk akibat angin dan air hujan," ucap Umar.

Erosi dan tanah miskin hara mengancam kopi
Selain perubahan cuaca, kondisi tanah di kawasan perbukitan juga menjadi faktor yang perlu diperhatikan dalam keberlanjutan perkebunan kopi Semende.

Umar menjelaskan, lahan pertanian di dataran tinggi yang berbukit atau bergelombang memiliki kerentanan terhadap erosi permukaan. Proses erosi yang berlangsung dalam waktu panjang dapat mengikis lapisan tanah efektif atau solum tanah, sekaligus mempercepat pencucian unsur hara.

"Erosi tanah pada perkebunan kopi di Semende sebenarnya sudah berlangsung lama. Akibatnya solum tanah dalam lapisan tanah efektif akan semakin menipis serta proses pencucian hara sudah lama berlangsung akibatnya solum tanah yang ada semakin dangkal dan miskin hara," jelas Umar.

Menipisnya lapisan tanah efektif membuat akar tanaman kopi memiliki ruang tumbuh yang terbatas. Akibatnya, kemampuan tanaman menyerap air dan nutrisi dari tanah dapat terganggu.

"Kondisi tersebut menyebabkan akar kopi memiliki zona perakaran yang relatif dangkal, cepat kekurangan air, serta mungkin kekurangan hara makro sehingga banyak biji kopi yang kecil, kriput, dan kopong," papar Umar.

Kondisi tersebut memperlihatkan bahwa persoalan produktivitas kopi tidak hanya berkaitan dengan perubahan pola hujan. Kualitas tanah dan ketersediaan unsur hara juga berpengaruh terhadap kemampuan tanaman menghadapi tekanan iklim.

Adaptasi untuk menjaga lumbung pangan Semende

Di tengah ancaman perubahan iklim, upaya menjaga produktivitas pertanian Semende menjadi penting. Bukan hanya untuk mempertahankan pendapatan petani dari perkebunan kopi, melainkan juga melindungi sawah yang selama ini menjadi penyangga pangan keluarga dan bagian dari keberlanjutan adat Tunggu Tubang.

Umar menawarkan sejumlah langkah adaptasi agronomi untuk mengurangi risiko penurunan hasil pertanian. Pada lahan persawahan, petani dapat mempertimbangkan penggunaan varietas padi berumur genjah atau berumur pendek, terutama untuk menghadapi periode kemarau. Penambahan bahan organik melalui pupuk kandang dan kompos juga diperlukan untuk memperbaiki kondisi tanah.

"Adaptasi konkret untuk persawahan adalah menanam padi berbasis iklim padi genjah saat kemarau, menambah bahan organik pupuk kandang kompos," papar Umar.

Adapun untuk perkebunan kopi, pengelolaan air dan pemupukan menjadi bagian penting dari strategi adaptasi. Umar menyarankan penyiraman ketika tanaman memasuki masa berbunga, apabila sumber air memungkinkan. Ia juga merekomendasikan penerapan biopori pada lahan terjal dengan kemiringan di bawah 30 derajat saat musim hujan.

"Untuk perkebunan kopi sebaiknya dilakukan penyiraman saat berbunga jika memungkinkan dan aplikasi biopori pada lahan yang terjal di bawah 30 derajat saat musim hujan sehingga tanah berkecukupan air dengan cepat," ungkap Umar.

Selain pengelolaan air, pemupukan perlu dilakukan secara teratur untuk memenuhi kebutuhan nutrisi tanaman. "Dan dilakukan pemupukan per tanaman saat awal musim hujan," tutur Umar.

Bagi masyarakat Semende, ancaman perubahan iklim bukan sekadar persoalan berkurangnya hasil panen. Ketika padi yang selama ini disimpan untuk kebutuhan keluarga mulai menyusut dan kopi yang menjadi sumber uang tunai ikut merosot, ketahanan pangan sekaligus ketahanan ekonomi rumah tangga berada dalam tekanan.

Menjaga sawah dan kebun kopi Semende karena itu bukan hanya perkara meningkatkan produktivitas pertanian. Upaya tersebut juga menyangkut keberlanjutan pengetahuan lokal, tradisi Tunggu Tubang, dan kemampuan masyarakat dataran tinggi mempertahankan sumber penghidupannya di tengah perubahan iklim.

Kontributor : Mohammad Shabir Fikri

Cari Tahu

Kumpulan Kuis Menarik

Kalkulator Kecocokan Jodoh Online Menurut Primbon Jawa, Bantu Cek Keserasian Pasangan
Ikuti Kuisnya ➔
Gryffindor atau Slytherin? Cek Kepribadianmu di Kuis Asrama Hogwarts
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Leo Sih Kamu? Mengukur Tingkat Percaya Diri dan Karisma
Ikuti Kuisnya ➔
Kalkulator Weton Online, Cek Hari Lahir Menurut Penanggalan Jawa
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Kacamata Apa yang Paling Cocok dengan Gayamu?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Sepatu Mana yang Cocok dengan Kepribadianmu?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Kenal Kamu dengan Si Zodiak Cancer?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Tipe Karakter Apakah Kamu Saat Mati Listrik Melanda?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Kenal Kamu dengan MPR RI?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Tipe Work-Life Balance Mana yang Paling Kamu Banget?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Siapa Kamu di Kru Bajak Laut Topi Jerami?
Ikuti Kuisnya ➔

BERITA TERKAIT

REKOMENDASI

Terkini

Tampilkan lebih banyak