- BMKG Sumatera Selatan mengimbau warga agar tidak langsung mengonsumsi air hujan untuk minum dan memasak pada 26 Oktober 2026.
- Hujan yang turun di Palembang setelah kemarau panjang berpotensi membawa partikel polusi dan sisa pencemaran kebakaran hutan ke permukaan.
- Warga diminta menghindari kontak berlebihan dan memastikan pengolahan yang tepat sebelum memanfaatkan air hujan untuk kebutuhan sehari-hari.
SuaraSumsel.id - Hujan yang mengguyur sejumlah wilayah Sumatera Selatan setelah berbulan-bulan dilanda kemarau dan kabut asap kebakaran hutan dan lahan (karhutla) membawa harapan bagi masyarakat. Namun, Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) mengingatkan warga agar tidak langsung mengonsumsi air hujan, terutama untuk minum dan memasak tanpa pengolahan yang sesuai.
Kepala Stasiun Klimatologi Kelas I Sumatera Selatan, Wandayantolis, menjelaskan bahwa hujan yang turun setelah periode kemarau panjang berpotensi membawa partikel debu, partikulat, dan polutan yang selama ini terakumulasi di atmosfer, termasuk sisa pencemaran akibat karhutla.
“Selama kemarau, debu, partikulat, dan polutan dari pembakaran, termasuk asap kebakaran hutan dan lahan, dapat terakumulasi di atmosfer. Sebagian partikel tersebut dapat terbawa bersama air hujan ke permukaan,” kata Wandayantolis di Palembang, Senin (26/10/2026), sebagaimana dikutip dari ANTARA.
Karena itu, masyarakat di wilayah yang terdampak kabut asap diminta tidak terburu-buru memanfaatkan air hujan sebagai sumber air konsumsi. Kandungan pencemar dalam air hujan dapat berbeda-beda, bergantung pada kondisi lingkungan dan kualitas udara di masing-masing wilayah.
Baca Juga:Prabowo Salurkan Rp200 Miliar untuk Karhutla Sumsel, Ini Rincian Dana untuk 15 Daerah
Hujan Turun Setelah Sumsel Dilanda Kabut Asap
Hujan mulai mengguyur Kota Palembang dan sejumlah kabupaten/kota di Sumatera Selatan sejak Sabtu (24/10/2026). Sebelumnya, wilayah tersebut mengalami kemarau panjang yang disertai kabut asap akibat kebakaran hutan dan lahan selama lebih dari tiga bulan.
Sejumlah wilayah yang mengalami hujan dengan intensitas sedang hingga lebat meliputi Palembang, Muara Enim, Lahat, Musi Banyuasin, Banyuasin, Ogan Komering Ilir, Ogan Komering Ulu Selatan, Empat Lawang, Musi Rawas, Penukal Abab Lematang Ilir, serta Kota Pagar Alam dan Prabumulih.
Hujan menjadi perkembangan yang dinantikan setelah masyarakat menghadapi dampak kemarau dan pencemaran udara. Meski demikian, turunnya hujan tidak berarti air yang dihasilkan otomatis aman untuk langsung diminum atau digunakan memasak.
BMKG menekankan bahwa risiko pencemaran perlu dilihat berdasarkan kondisi lingkungan setempat. Selama periode kering, berbagai partikel dari debu, pembakaran, dan sumber polusi lainnya dapat bertahan di atmosfer sebelum sebagian terbawa turun bersama air hujan.
Baca Juga:Palembang Diguyur Hujan Usai Kemarau Panjang, BMKG Ungkap Peran OMC dan Dinamika Atmosfer
Apakah Air Hujan Pertama Berbahaya?
BMKG menjelaskan, hujan pertama setelah kemarau panjang tidak serta-merta berbahaya. Tingkat risiko bergantung pada kondisi atmosfer, lingkungan, dan kandungan polutan di wilayah tempat hujan turun.
Air hujan juga secara alami memiliki tingkat keasaman ringan akibat interaksi dengan karbon dioksida di atmosfer. Sementara itu, tingkat keasaman dan kandungan pencemar dapat bervariasi sesuai kondisi udara setempat.
Artinya, masyarakat tidak perlu panik atau menganggap seluruh air hujan berbahaya. Namun, warga tetap perlu berhati-hati, terutama jika tinggal di wilayah yang sebelumnya terdampak kabut asap atau memiliki kualitas udara buruk.
BMKG mengimbau warga menghindari kontak langsung secara berlebihan dengan air hujan apabila dikhawatirkan tercemar. Air hujan juga sebaiknya tidak digunakan untuk minum atau memasak tanpa pengolahan yang sesuai.
Apa yang Sebaiknya Dilakukan Warga?