- Diskusi lingkungan di Masjid Baiturrahman Palembang membahas krisis karhutla Sumatera Selatan pada tahun ini.
- Para tokoh mendorong pendekatan ekoteologi agar nilai agama menjadi landasan moral pelestarian alam.
- Pendekatan nonstruktural melalui kesadaran perilaku masyarakat diharapkan mampu mencegah kerusakan lingkungan jangka panjang.
SuaraSumsel.id - Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) berulang di Sumatera Selatan bukan hanya persoalan api, cuaca kering, atau sulitnya memadamkan kebakaran di lahan gambut. Krisis ini juga memunculkan pertanyaan tentang hubungan manusia dengan alam: mengapa kerusakan lingkungan terus terjadi ketika ajaran agama mengajarkan manusia untuk menjaga bumi?
Pertanyaan tersebut mengemuka dalam diskusi bertema “Kompleksitas Masalah Lingkungan Hidup di Sumatera Selatan” yang digelar di Masjid Baiturrahman, Kompleks Bank Raya III, Palembang. Dalam forum itu, sejumlah tokoh mendorong ekoteologi menjadi landasan gerakan moral untuk menghadapi krisis ekologis, termasuk karhutla dan kabut asap yang melanda Sumatera Selatan.
Gagasan tersebut tidak dimaksudkan untuk menggantikan pemadaman, pemulihan gambut, atau penegakan hukum. Sebaliknya, ekoteologi didorong untuk menyentuh persoalan yang lebih mendasar, yakni kesadaran dan perilaku manusia yang turut menentukan bagaimana lahan, hutan, dan lingkungan dikelola.
Umar Husein, penggagas sekaligus moderator diskusi, mengatakan keresahan terhadap kondisi lingkungan Sumatera Selatan menjadi alasan utama penyelenggaraan forum tersebut.
Baca Juga:PM2.5 Palembang Tembus 1.054, WALHI Sumsel Desak Pemerintah Buka Evaluasi Dry Ice
“Ada keprihatinan utama, bahwa Sumsel akhir-akhir ini memperoleh musibah, yang diterima atau tidak diterima, disengaja atau tidak disengaja. Potensi permasalahannya sangat kompleks,” ujar alumnus Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Universitas Sriwijaya tersebut saat membuka diskusi.
Karhutla bukan hanya persoalan api
Karhutla di Sumatera Selatan memiliki persoalan yang kompleks. Selain aktivitas manusia, pembukaan lahan dengan cara membakar dan kondisi cuaca kering dapat meningkatkan risiko kebakaran. Pada lahan gambut, api bahkan dapat menjalar di bawah permukaan tanah dan bertahan meski bagian atasnya terlihat padam.
Kabupaten Ogan Komering Ilir (OKI), Ogan Ilir, Banyuasin, Musi Banyuasin, dan Muara Enim termasuk wilayah yang menjadi perhatian dalam penanganan karhutla di Sumatera Selatan.
Di tengah persoalan tersebut, pendekatan teknis perlu berjalan bersama perubahan perilaku. Pemadaman dapat menghentikan api pada lokasi tertentu, tetapi pencegahan jangka panjang juga membutuhkan perubahan cara pandang terhadap alam dan praktik pengelolaan lahan.
Baca Juga:Langit Palembang Sempat Cerah, Kabut Asap Kembali Pekat, BMKG Ungkap Faktor Pemicu
Mantan Koordinator Tim Restorasi Gambut Sumatera Selatan, Najib Asmani, menyambut positif keresahan yang disampaikan Umar Husein.
“Apa yang menjadi keresahan Pak Umar, sebenarnya sama yang ada di benak kami semua,” ujar Najib, yang juga merupakan Direktur Selaras Research Institute.
Pengalamannya dalam restorasi gambut menjadi salah satu perspektif yang dibawa dalam diskusi tersebut. Forum itu kemudian berkembang dari pembahasan kompleksitas kerusakan lingkungan menuju pertanyaan mengenai nilai dan kesadaran yang dapat mendorong masyarakat ikut menjaga ekosistem.
Ekoteologi: ketika menjaga alam menjadi bagian dari iman
Gagasan ekoteologi mengemuka ketika pekerja budaya sekaligus jurnalis Taufik Wijaya mengusulkan pendekatan tersebut sebagai landasan gerakan lingkungan.
Ekoteologi merupakan pendekatan yang membahas hubungan antara keyakinan atau ajaran agama, manusia, dan alam. Dalam konteks gerakan lingkungan, nilai keagamaan dapat menjadi pijakan etis untuk mendorong manusia menjaga kelestarian alam, menghindari kerusakan, dan bertanggung jawab atas lingkungan yang diwariskan kepada generasi berikutnya.