Karhutla Sumsel Tak Kunjung Usai, Ekoteologi Ditawarkan untuk Mengubah Perilaku terhadap Alam

Mengatasi karhutla di Sumsel tak cukup lewat pemadaman, tetapi butuh pendekatan ekoteologimenjadikan ajaran agama sebagai landasan moral dan kesadaran menjaga alam.

Tasmalinda
Rabu, 21 Oktober 2026 | 21:32 WIB
Karhutla Sumsel Tak Kunjung Usai, Ekoteologi Ditawarkan untuk Mengubah Perilaku terhadap Alam
Kabut asap akibat kebakaran hutan dan lahan (karhutla) menyelimuti perairan Sungai Musi di Palembang,
Baca 10 detik
  • Diskusi lingkungan di Masjid Baiturrahman Palembang membahas krisis karhutla Sumatera Selatan pada tahun ini.
  • Para tokoh mendorong pendekatan ekoteologi agar nilai agama menjadi landasan moral pelestarian alam.
  • Pendekatan nonstruktural melalui kesadaran perilaku masyarakat diharapkan mampu mencegah kerusakan lingkungan jangka panjang.

SuaraSumsel.id - Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) berulang di Sumatera Selatan bukan hanya persoalan api, cuaca kering, atau sulitnya memadamkan kebakaran di lahan gambut. Krisis ini juga memunculkan pertanyaan tentang hubungan manusia dengan alam: mengapa kerusakan lingkungan terus terjadi ketika ajaran agama mengajarkan manusia untuk menjaga bumi?

Pertanyaan tersebut mengemuka dalam diskusi bertema “Kompleksitas Masalah Lingkungan Hidup di Sumatera Selatan” yang digelar di Masjid Baiturrahman, Kompleks Bank Raya III, Palembang. Dalam forum itu, sejumlah tokoh mendorong ekoteologi menjadi landasan gerakan moral untuk menghadapi krisis ekologis, termasuk karhutla dan kabut asap yang melanda Sumatera Selatan.

Gagasan tersebut tidak dimaksudkan untuk menggantikan pemadaman, pemulihan gambut, atau penegakan hukum. Sebaliknya, ekoteologi didorong untuk menyentuh persoalan yang lebih mendasar, yakni kesadaran dan perilaku manusia yang turut menentukan bagaimana lahan, hutan, dan lingkungan dikelola.

Umar Husein, penggagas sekaligus moderator diskusi, mengatakan keresahan terhadap kondisi lingkungan Sumatera Selatan menjadi alasan utama penyelenggaraan forum tersebut.

Baca Juga:PM2.5 Palembang Tembus 1.054, WALHI Sumsel Desak Pemerintah Buka Evaluasi Dry Ice

“Ada keprihatinan utama, bahwa Sumsel akhir-akhir ini memperoleh musibah, yang diterima atau tidak diterima, disengaja atau tidak disengaja. Potensi permasalahannya sangat kompleks,” ujar alumnus Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Universitas Sriwijaya tersebut saat membuka diskusi.

Karhutla bukan hanya persoalan api

Karhutla di Sumatera Selatan memiliki persoalan yang kompleks. Selain aktivitas manusia, pembukaan lahan dengan cara membakar dan kondisi cuaca kering dapat meningkatkan risiko kebakaran. Pada lahan gambut, api bahkan dapat menjalar di bawah permukaan tanah dan bertahan meski bagian atasnya terlihat padam.

Kabupaten Ogan Komering Ilir (OKI), Ogan Ilir, Banyuasin, Musi Banyuasin, dan Muara Enim termasuk wilayah yang menjadi perhatian dalam penanganan karhutla di Sumatera Selatan.

Di tengah persoalan tersebut, pendekatan teknis perlu berjalan bersama perubahan perilaku. Pemadaman dapat menghentikan api pada lokasi tertentu, tetapi pencegahan jangka panjang juga membutuhkan perubahan cara pandang terhadap alam dan praktik pengelolaan lahan.

Baca Juga:Langit Palembang Sempat Cerah, Kabut Asap Kembali Pekat, BMKG Ungkap Faktor Pemicu

Mantan Koordinator Tim Restorasi Gambut Sumatera Selatan, Najib Asmani, menyambut positif keresahan yang disampaikan Umar Husein.

“Apa yang menjadi keresahan Pak Umar, sebenarnya sama yang ada di benak kami semua,” ujar Najib, yang juga merupakan Direktur Selaras Research Institute.

Pengalamannya dalam restorasi gambut menjadi salah satu perspektif yang dibawa dalam diskusi tersebut. Forum itu kemudian berkembang dari pembahasan kompleksitas kerusakan lingkungan menuju pertanyaan mengenai nilai dan kesadaran yang dapat mendorong masyarakat ikut menjaga ekosistem.

Ekoteologi: ketika menjaga alam menjadi bagian dari iman

Gagasan ekoteologi mengemuka ketika pekerja budaya sekaligus jurnalis Taufik Wijaya mengusulkan pendekatan tersebut sebagai landasan gerakan lingkungan.

Ekoteologi merupakan pendekatan yang membahas hubungan antara keyakinan atau ajaran agama, manusia, dan alam. Dalam konteks gerakan lingkungan, nilai keagamaan dapat menjadi pijakan etis untuk mendorong manusia menjaga kelestarian alam, menghindari kerusakan, dan bertanggung jawab atas lingkungan yang diwariskan kepada generasi berikutnya.

Taufik menilai persoalannya bukan semata-mata ketiadaan ajaran tentang menjaga alam, melainkan bagaimana pengetahuan tersebut diterapkan dalam kehidupan sehari-hari.

“Mungkin yang pernah didorong persoalan konsep. Saat ini sedang didorong konsep ekoteologi, baik di ranah mahasiswa, dosen dan lainnya,” kata Taufik dalam forum tersebut.

Gagasan itu mendapat respons dari Najib Asmani yang menyatakan bahwa pendekatan serupa telah masuk dalam pembahasan di tingkat tapak.

“Di tingkat tapak sudah masuk,” ujar Najib.

Pembahasan tersebut membuka peluang untuk menghubungkan nilai agama dengan tindakan nyata, mulai dari kebiasaan tidak membakar lahan, menjaga kawasan rawa dan gambut, hingga melibatkan komunitas keagamaan dalam pendidikan lingkungan.

Namun, menjadikan ekoteologi sebagai gerakan moral juga memerlukan langkah yang lebih konkret. Kesadaran perlu diterjemahkan menjadi kebiasaan, kegiatan komunitas, dan dukungan terhadap upaya perlindungan lingkungan.

Taufik Wijaya soroti ironi agama dan kerusakan lingkungan

Taufik menyoroti kesenjangan antara ajaran agama dan praktik kehidupan masyarakat. Ia mencontohkan ajaran Islam mengenai kebersihan, larangan membuat kerusakan, dan anjuran menanam pohon sebagai nilai yang dapat dihubungkan dengan upaya menjaga lingkungan. “Problem kita sekarang, adalah pengetahuan. Di dalam Islam kebersihan yang paling utama,” ujar Taufik.

Ia kemudian mengkritik ironi ketika masyarakat yang memiliki tradisi keagamaan kuat masih menghadapi persoalan kebakaran lahan dan banjir. “Ironinya negara kita banyak muslim, tapi di sini sering terjadi kebakaran dan banjir. Artinya kita baru Islam belum Muslim,” tuturnya.

Pernyataan tersebut menjadi kritik reflektif mengenai jarak antara keyakinan dan tindakan. Dalam kerangka ekoteologi yang dibicarakan di forum itu, nilai agama tidak berhenti pada ritual, tetapi juga perlu tercermin dalam tanggung jawab terhadap lingkungan.

Taufik juga memandang masjid dapat menjadi pusat gerakan lingkungan di tingkat masyarakat. Dengan jaringan jamaah dan aktivitas sosial yang telah terbentuk, masjid berpotensi menjadi ruang pendidikan, diskusi, serta pengorganisasian kegiatan yang berkaitan dengan kebersihan dan pelestarian lingkungan.

“Saya berharap ini (konsep ekoteologi), dapat menjadi pijakan kita untuk masuk ke dalam paradigma masyarakat. Saya memahami masjid sebagai pusat, bahwa ada gerakan lingkungan di tempat ini,” kata penulis novel Juaro tersebut.

Guru Besar Unsri: perlu membangun arus baru gerakan lingkungan

Gagasan ekoteologi itu mendapat dukungan dari Guru Besar Fakultas Pertanian Universitas Sriwijaya, Momon Sodik Imanudin, yang memiliki bidang keahlian irigasi dan drainase pertanian.

Momon sependapat bahwa nilai agama dapat menjadi salah satu landasan untuk memperkuat kesadaran menjaga alam. “Saya sepakat dengan apa yang dikatakan Pak Taufik tadi. Di dalam Islam, menebang pohon itu berpeluang mendapatkan hukuman yang pedih, apalagi membakar,” ujar Momon.

Ia menilai gagasan yang muncul dalam diskusi tersebut perlu dikembangkan menjadi arus baru dalam gerakan lingkungan, bukan sekadar menjadi pembicaraan di forum. “Bukan melawan arus, kita membuat arus baru,” imbuhnya.

Momon juga menjelaskan bahwa penanggulangan persoalan lingkungan dapat dilakukan melalui pendekatan struktural dan nonstruktural.

Pendekatan struktural mencakup penataan fisik lingkungan dan pengendalian kondisi alam, misalnya melalui pengelolaan aliran air. Sementara itu, pendekatan nonstruktural bertumpu pada pengetahuan, kesadaran, pengaturan perilaku, serta upaya mengurangi risiko tanpa mengandalkan pembangunan fisik.

“Menurut hemat kami, penanggulangan itu terdapat dua cara, struktural dan non-struktural. Struktural dengan menata fisik lingkungan atau mengendalikan kekuatan alam seperti menata aliran air, sedangkan non-struktural dengan mengupayakan pengurangan risiko yang tidak melibatkan konstruksi fisik, melainkan mengandalkan pengetahuan, kesadaran, dan pengaturan perilaku manusia. Saya mendukung gagasan ini dengan pendekatan non-struktural,” jelas Momon.

Pendekatan tersebut menunjukkan bahwa gerakan lingkungan membutuhkan lebih dari satu jalur. Pengelolaan air dan pemulihan ekosistem tetap diperlukan, sementara pendidikan serta perubahan perilaku dapat membantu mencegah tindakan yang meningkatkan risiko kerusakan.

Dari diskusi menuju gerakan nyata

Diskusi di Masjid Baiturrahman itu ditutup dengan rencana pertemuan lanjutan untuk memperdalam landasan pemikiran dan merumuskan langkah berikutnya. Rencana tersebut menjadi tahap awal untuk membahas bagaimana ekoteologi dapat diterjemahkan menjadi gerakan lingkungan yang lebih terarah. Salah satu gagasan yang mengemuka adalah menjadikan masjid sebagai pusat penyebaran kesadaran ekologis di tengah masyarakat.

Tantangan berikutnya adalah memastikan gagasan tersebut tidak berhenti pada diskusi dan pernyataan moral. Gerakan yang berkelanjutan membutuhkan agenda yang jelas, pihak yang bertanggung jawab, kegiatan yang dapat dijalankan, serta cara untuk melihat dampaknya.

Dalam konteks karhutla Sumatera Selatan, pendekatan moral perlu berjalan beriringan dengan perlindungan gambut, pencegahan pembakaran lahan, pengawasan wilayah rawan, pemulihan ekosistem, dan penegakan hukum terhadap pihak yang terbukti melanggar.

Ekoteologi tidak menggantikan tanggung jawab pemerintah maupun penegakan aturan. Namun, pendekatan ini dapat menjadi salah satu jalan untuk membangun kesadaran bahwa menjaga lingkungan merupakan tanggung jawab bersama.

Ketika karhutla terus mengancam Sumatera Selatan, pertanyaan yang muncul bukan hanya bagaimana memadamkan api, tetapi juga bagaimana mencegah manusia kembali menyalakannya.

Kontributor : Mohammad Shabir Fikri

Cari Tahu

Kumpulan Kuis Menarik

Kalkulator Kecocokan Jodoh Online Menurut Primbon Jawa, Bantu Cek Keserasian Pasangan
Ikuti Kuisnya ➔
Gryffindor atau Slytherin? Cek Kepribadianmu di Kuis Asrama Hogwarts
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Leo Sih Kamu? Mengukur Tingkat Percaya Diri dan Karisma
Ikuti Kuisnya ➔
Kalkulator Weton Online, Cek Hari Lahir Menurut Penanggalan Jawa
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Kacamata Apa yang Paling Cocok dengan Gayamu?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Sepatu Mana yang Cocok dengan Kepribadianmu?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Kenal Kamu dengan Si Zodiak Cancer?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Tipe Karakter Apakah Kamu Saat Mati Listrik Melanda?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Kenal Kamu dengan MPR RI?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Tipe Work-Life Balance Mana yang Paling Kamu Banget?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Siapa Kamu di Kru Bajak Laut Topi Jerami?
Ikuti Kuisnya ➔

BERITA TERKAIT

REKOMENDASI

Terkini

Tampilkan lebih banyak