- BPBD Sumatera Selatan mendeteksi 794 titik panas pada Minggu, 18 Oktober 2026, dengan Kabupaten Ogan Komering Ilir sebagai wilayah terbanyak.
- Kualitas udara Kota Palembang mencapai tingkat berbahaya berdasarkan Indeks Standar Pencemar Udara akibat partikel halus PM2.5.
- Pemerintah melaksanakan pemadaman darat, udara, serta uji coba penyemaian dry ice untuk menanggulangi karhutla dan kabut asap.
BPBD Sumsel menyatakan upaya penanganan karhutla masih dilakukan melalui pemadaman darat dan udara, patroli, serta pemantauan titik kebakaran.
Selain pemadaman, pemerintah juga menguji penggunaan dry ice atau es kering dalam operasi modifikasi cuaca untuk membantu mengurangi kabut asap di Palembang.
Kepala Pelaksana BPBD Sumsel M Iqbal Alisyahbana sebelumnya menyampaikan bahwa penyemaian dry ice membantu memperbaiki jarak pandang dan kualitas udara setelah operasi pada 15 Oktober 2026. Dalam tiga sorti penerbangan pada 15–16 Oktober, total 2,4 ton dry ice telah disemai.
Namun, perbaikan jarak pandang tidak serta-merta berarti seluruh polutan telah hilang. Konsentrasi PM2.5 dan kondisi atmosfer tetap perlu dipantau untuk mengetahui apakah perbaikan kualitas udara bertahan.
Baca Juga:Udara Palembang Kembali Berbahaya, PM2.5 Tembus 627,8 Setelah Penyemaian Dry Ice
Karena itu, upaya penanganan kabut asap perlu berjalan bersamaan dengan pemadaman sumber kebakaran dan pencegahan munculnya titik api baru.
Masyarakat Diminta Meningkatkan Kewaspadaan
BPBD Sumsel mengingatkan masyarakat untuk menjaga kesehatan dan menghindari pembakaran hutan maupun lahan.
Di tengah tingginya jumlah hotspot dan kualitas udara Palembang yang masih berbahaya, penanganan karhutla menjadi pekerjaan mendesak bagi pemerintah dan seluruh pihak terkait.
Selain memperkuat pemadaman, pengawasan terhadap kawasan rawan kebakaran juga diperlukan untuk mencegah api meluas dan mengurangi potensi asap yang berdampak terhadap masyarakat.
Baca Juga:452 Hektar Lahan Terbakar di Palembang, 93 Hektar Berada di Kawasan Rawa Konservasi
Perkembangan jumlah hotspot, luas lahan terbakar, dan kualitas udara dalam beberapa hari ke depan akan menjadi indikator penting untuk menilai situasi karhutla di Sumatera Selatan.