- BPBD Sumatera Selatan mendeteksi 794 titik panas pada Minggu, 18 Oktober 2026, dengan Kabupaten Ogan Komering Ilir sebagai wilayah terbanyak.
- Kualitas udara Kota Palembang mencapai tingkat berbahaya berdasarkan Indeks Standar Pencemar Udara akibat partikel halus PM2.5.
- Pemerintah melaksanakan pemadaman darat, udara, serta uji coba penyemaian dry ice untuk menanggulangi karhutla dan kabut asap.
SuaraSumsel.id - Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Sumatera Selatan belum menunjukkan tanda-tanda mereda. Sebanyak 794 titik panas atau hotspot terdeteksi dalam 24 jam terakhir hingga Minggu (18/10/2026) pukul 06.00 WIB, dengan konsentrasi tertinggi berada di Kabupaten Ogan Komering Ilir (OKI).
Berdasarkan data Pusat Pengendalian Operasi Penanggulangan Bencana (Pusdalops) BPBD Sumatera Selatan, sebanyak 473 hotspot terpantau di OKI. Jumlah tersebut menjadi yang terbanyak dibandingkan kabupaten dan kota lainnya di Sumsel.
Di tengah tingginya aktivitas titik panas, kualitas udara Kota Palembang masih berada dalam kategori berbahaya. Data pemantauan yang disampaikan BPBD Sumsel menunjukkan Indeks Standar Pencemar Udara (ISPU) berbasis PM2.5 di Palembang mencapai angka 323.
Kondisi ini membuat masyarakat diminta meningkatkan kewaspadaan, membatasi aktivitas di luar ruangan, dan menggunakan masker yang sesuai untuk mengurangi paparan partikel halus.
Baca Juga:Udara Palembang Kembali Berbahaya, PM2.5 Tembus 627,8 Setelah Penyemaian Dry Ice
OKI Menjadi Wilayah dengan Hotspot Terbanyak
Data BPBD Sumsel menunjukkan sebaran 794 hotspot tidak merata di seluruh wilayah provinsi. Kabupaten OKI menjadi daerah dengan jumlah tertinggi, yakni 473 titik panas dalam periode pemantauan 24 jam terakhir.
Tingginya jumlah hotspot di OKI menjadi perhatian karena kebakaran di wilayah tersebut dapat berkontribusi terhadap kabut asap yang menyelimuti daerah sekitarnya, termasuk Palembang, bergantung pada arah dan kecepatan angin.
Sebelumnya, data yang dikutip detikSumbagsel menunjukkan jumlah hotspot di Sumatera Selatan pada periode 1–16 Oktober 2026 mencapai 33.425 titik. Angka tersebut telah melampaui total hotspot sepanjang September 2026 yang tercatat sebanyak 32.789 titik.
Dalam periode yang sama, OKI menjadi wilayah dengan jumlah hotspot tertinggi, mencapai 20.367 titik. Musi Banyuasin menyusul dengan 5.313 titik, sedangkan Banyuasin tercatat sebanyak 3.669 titik. Data tersebut memperlihatkan tingginya aktivitas titik panas di sejumlah wilayah Sumsel selama Oktober.
Baca Juga:452 Hektar Lahan Terbakar di Palembang, 93 Hektar Berada di Kawasan Rawa Konservasi
Meski demikian, hotspot merupakan indikasi anomali panas yang terdeteksi melalui pemantauan satelit. Angka tersebut tidak selalu sama dengan jumlah kejadian kebakaran yang telah terverifikasi di lapangan.
Di Palembang, persoalan karhutla tidak hanya berkaitan dengan kebakaran di wilayah terdampak, tetapi juga dengan paparan asap yang mengganggu aktivitas masyarakat.
Berdasarkan informasi BPBD Sumsel pada Minggu (18/10/2026), kualitas udara Palembang masuk kategori berbahaya dengan nilai ISPU 323.
Partikel PM2.5 menjadi salah satu polutan yang perlu diwaspadai karena ukurannya sangat kecil sehingga dapat masuk jauh ke dalam saluran pernapasan. Paparan dalam konsentrasi tinggi dapat meningkatkan risiko gangguan kesehatan, terutama bagi anak-anak, lansia, ibu hamil, serta orang yang memiliki penyakit jantung atau gangguan pernapasan.
Pada kondisi tersebut, masyarakat disarankan mengurangi aktivitas fisik di luar ruangan. Apabila harus beraktivitas di luar, penggunaan respirator seperti N95 atau KN95 yang terpasang rapat dapat membantu mengurangi paparan partikel halus.
Warga juga diminta mengikuti pembaruan kualitas udara dari sumber resmi dan segera mencari pertolongan medis apabila mengalami sesak napas atau gejala yang memburuk.