- Pengemudi ojol bernama Hardiansyah meninggal dunia di Palembang pada September 2026 setelah mengalami sesak napas di tengah kabut asap.
- Dinas Kesehatan Palembang mencatat 12.589 kasus ISPA akibat kabut asap karhutla sepanjang 1 hingga 21 September 2026.
- Dokter Ghea Duandiza menyatakan kunjungan pasien ISPA di Palembang melonjak lebih dari 50 persen dari biasanya.
SuaraSumsel.id - Kabar meninggalnya Hardiansyah (41), pengemudi ojek online (ojol) asal Kertapati, Palembang, setelah mengalami sesak napas di tengah kabut asap kembali menyoroti dampak buruk kualitas udara terhadap kesehatan warga.
Di tengah kondisi tersebut, seorang dokter di Palembang mengungkap perubahan yang terjadi di tempat praktiknya. Kunjungan pasien dengan keluhan infeksi saluran pernapasan akut (ISPA) sepanjang September 2026 melonjak hingga lebih dari 50 persen dari total pasien harian.
Dokter umum Ghea Duandiza mengatakan, pada kondisi normal, pasien dengan keluhan ISPA biasanya hanya berada di kisaran 10–20 persen dari keseluruhan pasien yang datang berobat. Namun, angka tersebut meningkat drastis ketika kabut asap menyelimuti Palembang.
“Biasanya hanya kisaran 10 sampai 20 persen di hari normal sebelum asap karhutla melanda,” kata Ghea.
Baca Juga:Kisah Terakhir Hardiansyah, Ojol Palembang dengan Asma yang Meninggal di Tengah Asap
Keluhan pernapasan datang dari berbagai usia
Menurut Ghea, peningkatan kunjungan pasien dengan gangguan pernapasan terjadi pada berbagai kelompok usia, mulai dari bayi hingga lanjut usia. Keluhan yang paling banyak ditemukan di tempat praktiknya berupa infeksi saluran pernapasan atas, seperti rhinitis dan faringitis.
Selain itu, terdapat pasien yang sudah memiliki gangguan pernapasan atau penyakit kronis dan datang dengan kondisi sesak yang lebih berat.
Ghea menjelaskan, partikel halus PM2.5 dapat bertindak sebagai iritan bagi saluran pernapasan. Paparan dalam waktu lama dapat mengganggu bagian tubuh yang terpapar langsung, seperti mata, hidung dan tenggorokan.
Risikonya menjadi lebih besar bagi orang yang memiliki penyakit penyerta. “Sesak tersebut akan bertambah,” ujar Ghea ketika menjelaskan kondisi pasien dengan penyakit komorbid yang memiliki manifestasi berupa gangguan pernapasan.
Baca Juga:Kilang Plaju Satukan Doa dan Ikhtiar Lewat Sholat Istisqa di Tengah Kemarau
Hardiansyah punya riwayat asma
Kondisi tersebut menjadi relevan dengan kisah Hardiansyah, warga Kelurahan Kemas Rindo, Kecamatan Kertapati, Palembang.
Hardiansyah diketahui memiliki riwayat asma sejak kecil. Menurut keluarganya, ia sempat mengalami batuk, pilek dan sesak napas sebelum kondisinya memburuk dan dibawa ke RSUD Palembang BARI.
Sebagai pengemudi ojol, Hardiansyah juga menghabiskan banyak waktunya di jalan. Keluarga sebelumnya menceritakan bahwa ia beberapa kali mengeluhkan kondisi asap yang menyelimuti Palembang.
Namun, hubungan langsung antara paparan asap dengan penyebab medis kematian Hardiansyah belum dapat disimpulkan.
Pihak RSUD Palembang BARI menyebut Hardiansyah tiba di IGD dalam kondisi tidak sadar, tanpa denyut nadi dan napas. Tim medis sempat melakukan resusitasi jantung paru, pemberian obat, pemeriksaan EKG hingga defibrilasi, tetapi pasien tidak merespons. Hardiansyah kemudian dinyatakan meninggal pada pukul 07.42 WIB.
Kapan sesak napas harus dianggap darurat?
Ghea mengingatkan masyarakat agar tidak menganggap semua keluhan sesak sebagai gangguan ringan. Ada sejumlah tanda yang menurutnya perlu menjadi perhatian dan membutuhkan pertolongan medis segera.
Beberapa di antaranya adalah napas yang semakin cepat disertai tanda-tanda syok, perubahan warna bibir, kuku atau ujung jari menjadi kebiruan, hingga penurunan kesadaran.
Kondisi yang juga perlu segera dibawa ke IGD antara lain henti napas, batuk disertai darah, nyeri dada hebat atau sesak yang tidak membaik meski sudah menggunakan obat yang biasa dikonsumsi pasien.
Artinya, masyarakat tidak disarankan menunggu terlalu lama ketika seseorang dengan gangguan pernapasan mulai menunjukkan tanda kegawatan.
Apa yang harus dilakukan saat menemukan orang sesak di tengah asap?
Jika menemukan seseorang mengalami sesak napas di ruang publik, Ghea menyarankan agar orang tersebut segera dipindahkan ke lokasi yang tidak terlalu ramai dan memiliki sirkulasi udara lebih baik. Posisi tubuh pasien dibuat senyaman mungkin. Pakaian yang terlalu ketat juga perlu dilonggarkan.
Masyarakat juga diminta tidak sembarangan memberikan makanan atau minuman kepada orang yang sedang mengalami kondisi tersebut. “Jangan memberikan makanan atau minuman kecuali obat yang memang biasa dikonsumsi pasien, jika ada. Risiko tersedak sangat tinggi,” ujar Ghea.
Setelah itu, segera minta bantuan tenaga medis dan jangan meninggalkan pasien sendirian.
Terlebih jika orang tersebut mulai kehilangan kesadaran, mengalami perubahan warna pada bibir atau kuku, atau kesulitan bernapas yang semakin berat.
Secara medis, mengurangi aktivitas di luar ruangan menjadi salah satu langkah yang dianjurkan ketika kualitas udara memburuk. Ghea juga menyarankan masyarakat menutup rapat pintu dan jendela rumah serta menggunakan masker respirator seperti N95 ketika harus beraktivitas di luar.
Tetapi anjuran tersebut tidak selalu mudah diterapkan.
Pekerja informal seperti pengemudi ojol justru menggantungkan penghasilan dari aktivitas di jalan. Karena itu, mereka termasuk kelompok yang sulit sepenuhnya menghindari paparan udara luar ketika asap menyelimuti kota.
Untuk kelompok pekerja lapangan, Ghea menyarankan agar perlindungan tetap dilakukan sebisa mungkin, termasuk disiplin menggunakan masker, menjaga asupan air dan segera memeriksakan diri ketika muncul keluhan kesehatan.
Angka ISPA Palembang sudah tinggi sebelum Oktober
Lonjakan yang dirasakan di tingkat klinik tersebut terjadi di tengah tingginya angka ISPA di Palembang. Dinas Kesehatan Kota Palembang mencatat 12.589 kasus ISPA pada periode 1–21 September 2026. Data tersebut dihimpun dari 30 rumah sakit dan puskesmas di Kota Palembang.
Secara kumulatif, Dinkes Palembang mencatat 125.721 kasus ISPA sepanjang 2026, dengan September menjadi salah satu periode tertinggi.
Dinkes menyebut peningkatan kasus terjadi ketika Palembang mengalami kondisi kabut asap akibat karhutla. Meski demikian, data kasus ISPA tidak dapat digunakan untuk menyimpulkan penyebab medis setiap pasien secara individual.
Di tengah kondisi udara yang memburuk, perhatian terhadap kelompok rentan menjadi semakin penting, terutama anak-anak, lansia dan warga yang sudah memiliki penyakit pernapasan.
Kasus Hardiansyah kemudian menambah sisi manusia dari persoalan tersebut. Ia adalah seorang pekerja yang setiap hari harus berada di jalan untuk mencari nafkah, sementara pada saat yang sama memiliki riwayat asma.
Kisahnya menunjukkan satu persoalan yang lebih besar: ketika udara memburuk, sebagian warga mungkin dapat memilih tetap berada di dalam rumah, tetapi bagi pekerja yang menggantungkan hidup dari jalanan, pilihan itu tidak selalu tersedia.
Kontributor : Mohammad Shabir Fikri