Kabut Asap di Sungai Musi, Saat Warga Tak Punya Pilihan Selain Tetap Bekerja

Rian, pengemudi ketek di Dermaga Pasar 16 Ilir Palembang, kesulitan mendapatkan penumpang pada Senin, 28 September 2026.

Tasmalinda
Senin, 28 September 2026 | 21:21 WIB
Kabut Asap di Sungai Musi, Saat Warga Tak Punya Pilihan Selain Tetap Bekerja
buruh angkut di kawasan Sungai Musi [Mohamad Shabir Fikri/suara.com]
Baca 10 detik
  • Rian, pengemudi ketek di Dermaga Pasar 16 Ilir Palembang, kesulitan mendapatkan penumpang pada Senin, 28 September 2026.
  • Jai, pengemudi jukung, menghadapi risiko tinggi saat mengangkut dua belas ton padi akibat kabut asap tebal.
  • KSOP menerbitkan peringatan kewaspadaan navigasi pada 9 September 2026 menyusul gangguan jarak pandang di Sungai Musi.

SuaraSumsel.id - “Baung! Baung! Kemana, Dik? Sungai Baung?” Rian berteriak dari Dermaga Pasar 16 Ilir, Palembang, menawarkan perjalanan kepada calon penumpang. Mesin ketek di tepian Sungai Musi terus menyala, tetapi pada Senin (28/9/2026), hingga siang hari ia belum juga mendapat penumpang menuju Sungai Baung, Ogan Komering Ilir (OKI).

Padahal, ketika perjalanan sedang ramai, Rian bisa dua kali pulang-pergi dalam sehari. “Dulu saat masih ramai, sehari saya bisa berangkat dua kali, pulang pergi,” kata Rian.

Sudah dua tahun ia menjadi pengemudi ketek. Sebelumnya, sejak 2011, ia bekerja sebagai ngenek, atau pembantu pengemudi ketek. Pekerjaan di sungai menjadi sumber penghasilannya.

Ia pernah membawa delapan hingga sembilan penumpang sekali perjalanan dengan tarif Rp150.000 per orang. Kini, kesempatan mendapatkan penumpang tidak sesering dulu. “Pernah dulu saya mengangkut delapan sampai sembilan penumpang. Satu orang tarifnya Rp150.000. Dibandingkan dengan sekarang, hari ini pun belum berangkat,” ujarnya.

Baca Juga:Hotspot Sumsel Turun 63 Persen, Mengapa Asap Palembang Masih Pekat?

Menurut Rian, berkurangnya penumpang antara lain dipengaruhi menurunnya aktivitas perusahaan yang sebelumnya menyewa ketek untuk mengangkut pekerja. Kondisi kabut asap yang masih menyelimuti Palembang turut membuat perjalanan menjadi lebih sulit.

Bagi Rian, kabut bukan hanya soal udara yang terasa pekat. Jarak pandang yang terbatas membuat ia harus memperlambat ketek dan lebih berhati-hati membaca jalur. “Nyawa yang kita angkut, kalau tidak hati-hati bisa nabrak,” katanya.

Malam dan dini hari menjadi waktu yang sebisa mungkin ia hindari ketika kabut terlalu tebal. “Kalau malam atau Subuh aku tidak berangkat, terlalu berisiko,” ucapnya.

Keputusan itu berarti kehilangan kesempatan mendapatkan uang. Namun memaksakan perjalanan juga mempertaruhkan keselamatan.

Berangkat berisiko, tidak berangkat kehilangan penghasilan. Di situlah pilihan Rian menjadi sempit.

Baca Juga:Di Balik Parkir Liar Palembang: Ada Bos, Setoran, hingga Klaim Ormas Pernah Masuk

Membawa 12 ton padi di tengah kabut

Di dermaga yang sama, Jai menghadapi persoalan serupa. Pengemudi jukung itu biasa membawa padi dari Upang Jaya, Banyuasin, menuju Palembang.

Saat musim panen, ia dapat melakukan perjalanan hingga empat kali dalam seminggu. Sekali angkut, muatannya rata-rata mencapai 12 ton. “Saya biasa membawa padi, rata-rata 12 ton dalam satu kali angkut. Perjalanan semuanya dilakukan pada malam hari,” ujar Jai.

Namun, kabut asap membuat perjalanan malam semakin berisiko.

Ketika jarak pandang menyempit, Jai kesulitan memperkirakan jarak dengan kapal lain. Kapal kecil sulit terlihat, sementara kapal tongkang yang jauh lebih besar juga melintas di jalur yang sama.

Ia memilih mengambil jalur tengah sungai, tetapi pilihan itu pun membuatnya harus lebih waspada. “Bahaya sekali, di satu sisi saya takut menabrak kapal kecil, bisa berurusan dengan penjara. Di sisi yang lain saya harus berhadapan dengan ketakutan ditabrak kapal besar,” katanya.

Cari Tahu

Kumpulan Kuis Menarik

Kalkulator Kecocokan Jodoh Online Menurut Primbon Jawa, Bantu Cek Keserasian Pasangan
Ikuti Kuisnya ➔
Gryffindor atau Slytherin? Cek Kepribadianmu di Kuis Asrama Hogwarts
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Leo Sih Kamu? Mengukur Tingkat Percaya Diri dan Karisma
Ikuti Kuisnya ➔
Kalkulator Weton Online, Cek Hari Lahir Menurut Penanggalan Jawa
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Kacamata Apa yang Paling Cocok dengan Gayamu?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Sepatu Mana yang Cocok dengan Kepribadianmu?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Kenal Kamu dengan Si Zodiak Cancer?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Tipe Karakter Apakah Kamu Saat Mati Listrik Melanda?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Kenal Kamu dengan MPR RI?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Tipe Work-Life Balance Mana yang Paling Kamu Banget?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Siapa Kamu di Kru Bajak Laut Topi Jerami?
Ikuti Kuisnya ➔

BERITA TERKAIT

REKOMENDASI

Terkini

Tampilkan lebih banyak