Bukan Siang Hari, Ini Waktu Udara Palembang Paling Berbahaya Saat PM2.5 Tembus 600

Kualitas udara Palembang masuk kategori berbahaya akibat kabut asap karhutla, dengan PM2.5 melonjak drastis hingga 600 g/m, terutama pada malam hingga dini hari.

Tasmalinda
Rabu, 09 September 2026 | 22:30 WIB
Bukan Siang Hari, Ini Waktu Udara Palembang Paling Berbahaya Saat PM2.5 Tembus 600
Bukan siang hari, ini waktu udara Palembang paling berbahaya saat PM2.5 tembus 600.
Baca 10 detik
  • Kepala Stasiun Klimatologi Sumsel Wandayantolis menyatakan kualitas udara Kota Palembang mencapai level berbahaya akibat kabut asap karhutla 2026.
  • Konsentrasi PM2.5 di kawasan Musi 2 menembus kisaran 500 hingga 600 mikrogram per meter kubik pada dini hari tanggal 7 dan 8 September 2026.
  • BMKG memastikan kabut asap berasal dari kebakaran hutan dan lahan, bukan dari debu erupsi Gunung Anak Krakatau.

SuaraSumsel.id - Kabut asap yang menyelimuti Kota Palembang bukan hanya membuat jarak pandang terganggu. Dalam dua hari terakhir, kualitas udara bahkan mencapai level berbahaya dengan konsentrasi partikulat halus PM2.5 di kawasan Musi 2 menembus kisaran 500 hingga 600 mikrogram per meter kubik.

Namun, ada satu pola yang kini menjadi perhatian warga Palembang. Konsentrasi PM2.5 justru meningkat pada malam hingga dini hari, sebelum perlahan menurun ketika memasuki siang. Meski demikian, penurunan tersebut tidak serta-merta membuat udara kembali aman.

Kepala Stasiun Klimatologi Kelas I Sumatera Selatan, Wandayantolis, mengatakan kondisi kualitas udara Palembang memburuk hingga masuk kategori berbahaya. Lonjakan konsentrasi PM2.5 terjadi pada dini hari selama dua hari berturut-turut. “Kualitas udara kian memburuk hingga statusnya berbahaya,” ujar Wandayantolis terkait hasil pemantauan PM2.5 di Palembang.

Dini Hari Jadi Waktu PM2.5 Melonjak

Baca Juga:Kabut Asap Kian Meluas, Kini Siswa Madrasah di Palembang Juga Belajar dari Rumah

Berdasarkan pemantauan Stasiun PM2.5 Musi 2 Palembang, lonjakan konsentrasi partikulat halus terjadi pada Senin (7/9/2026) dan Selasa (8/9/2026) dini hari. Konsentrasi PM2.5 tercatat berada di kisaran 500 hingga 600 µg/m³, sehingga masuk kategori berbahaya.

Pada Rabu (9/9/2026), konsentrasi PM2.5 mulai mengalami penurunan. Namun, angkanya masih berada di atas 400 µg/m³ dan tetap masuk kategori berbahaya.

Wandayantolis menjelaskan terdapat pola peningkatan konsentrasi PM2.5 di Palembang yang perlu menjadi perhatian. Konsentrasi partikulat cenderung meningkat pada malam hari dan mencapai level tinggi saat dini hari. Setelah itu, angka perlahan menurun ketika memasuki siang hari.

Penurunan konsentrasi PM2.5 pada siang hari memang membuat kondisi udara berangsur membaik. Namun, BMKG mengingatkan penurunan tersebut tidak berarti kualitas udara Palembang langsung kembali normal.

Pada kondisi tertentu, kualitas udara masih berada dalam kategori tidak sehat. Artinya, warga Palembang perlu memperhatikan perubahan kondisi udara sebelum melakukan aktivitas di luar ruangan, terutama ketika kabut asap masih menyelimuti sejumlah kawasan.

Baca Juga:5G XLSMART Resmi Hadir di Palembang, SMARTFREN Hadirkan Pengalaman Unlimited 5G

Pola perubahan kualitas udara tersebut juga menjelaskan mengapa kondisi Palembang bisa terlihat berbeda antara pagi, siang dan dini hari.

Salah Satu Angka Tertinggi Selama Karhutla 2026

Lonjakan PM2.5 hingga kisaran 600 µg/m³ menjadi salah satu angka tertinggi yang tercatat selama periode kebakaran hutan dan lahan atau karhutla di Sumatera Selatan sepanjang 2026. Sebelumnya, kualitas udara Palembang telah beberapa kali masuk kategori sangat tidak sehat hingga berbahaya.

Pada akhir Agustus, konsentrasi PM2.5 di Musi 2 juga sempat mencapai 285,3 µg/m³ dan masuk kategori berbahaya. Angka tersebut menunjukkan kondisi udara Palembang telah mengalami fluktuasi serius selama periode kabut asap tahun ini.

Di tengah pekatnya kabut yang menyelimuti Palembang, muncul pula pertanyaan mengenai kemungkinan adanya pengaruh abu vulkanik Gunung Anak Krakatau. Namun, BMKG memastikan kabut yang menyelimuti Palembang bukan berasal dari debu erupsi Gunung Anak Krakatau.

Berdasarkan hasil pemantauan dan pengecekan lapangan, tidak ditemukan debu erupsi yang mencapai wilayah Palembang. Kabut yang menyebabkan memburuknya kualitas udara tersebut berasal dari asap kebakaran hutan dan lahan.

Cari Tahu

Kumpulan Kuis Menarik

KUIS: Seberapa Leo Sih Kamu? Mengukur Tingkat Percaya Diri dan Karisma
Ikuti Kuisnya ➔
Kalkulator Weton Online, Cek Hari Lahir Menurut Penanggalan Jawa
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Kacamata Apa yang Paling Cocok dengan Gayamu?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Sepatu Mana yang Cocok dengan Kepribadianmu?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Kenal Kamu dengan Si Zodiak Cancer?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Tipe Karakter Apakah Kamu Saat Mati Listrik Melanda?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Kenal Kamu dengan MPR RI?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Tipe Work-Life Balance Mana yang Paling Kamu Banget?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Siapa Kamu di Kru Bajak Laut Topi Jerami?
Ikuti Kuisnya ➔
Kuis Ujian Kepekaan: Apakah Anda Individu yang Empati atau Justru Cuek?
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi TKA SD: 15 Soal Matematika Kelas 6 Materi Bilangan
Ikuti Kuisnya ➔

BERITA TERKAIT

REKOMENDASI

Terkini