- Kemenko PMK dan mitra meluncurkan program RUMPUN HIJAU di Kabupaten Muara Enim untuk mendukung transisi energi yang berkeadilan.
- Program ini memberdayakan perempuan dan remaja sebagai aktor utama dalam literasi serta pengembangan keterampilan ekonomi hijau yang berkelanjutan.
- Inisiatif ini menargetkan ribuan perempuan untuk memastikan kesiapan masyarakat menghadapi transisi dari sektor batu bara ke energi bersih.
SuaraSumsel.id - Ketika berbicara tentang transisi energi, banyak orang membayangkan pembangkit listrik tenaga surya, kendaraan listrik, atau teknologi ramah lingkungan. Namun di Muara Enim, Sumatera Selatan, transisi energi justru dimulai dari hal yang lebih mendasar: memperkuat peran perempuan dan masyarakat agar tidak tertinggal dalam perubahan yang sedang berlangsung.
Semangat itulah yang melatarbelakangi peluncuran RUMPUN HIJAU (Ruang Masyarakat dan Perempuan Hidupkan Inisiatif Hijau), sebuah program yang dirancang untuk meningkatkan literasi, partisipasi, dan keterlibatan perempuan dalam mendukung transisi energi yang berkeadilan di Kabupaten Muara Enim.
Program ini merupakan kolaborasi antara Kementerian Koordinator Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan (Kemenko PMK), Friedrich-Ebert-Stiftung (FES) Indonesia, Yayasan Remaja Indonesia Sehat (RISE Foundation), dan Pemerintah Kabupaten Muara Enim.
Mengapa Muara Enim?
Baca Juga:Komitmen Ciptakan Lingkungan Ramah Anak, PTBA Dapat Apresiasi dari Bupati Muara Enim
Pemilihan Muara Enim sebagai lokasi pelaksanaan program bukan tanpa alasan. Kabupaten ini selama bertahun-tahun dikenal sebagai salah satu pusat energi nasional. Data Badan Pusat Statistik (BPS) Kabupaten Muara Enim tahun 2025 menunjukkan sektor pertambangan dan penggalian menyumbang sekitar 69,59 persen terhadap Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) daerah.
Besarnya ketergantungan terhadap sektor batu bara membuat Muara Enim menjadi daerah yang sangat penting dalam pembahasan mengenai masa depan energi Indonesia.
Di tengah tren global yang mengarah pada energi bersih dan rendah emisi, masyarakat di daerah penghasil energi seperti Muara Enim perlu dipersiapkan menghadapi perubahan ekonomi dan sosial yang akan terjadi.
Perempuan Jadi Kunci Transisi Energi Berkeadilan
Berbeda dengan banyak program lingkungan lainnya, RUMPUN HIJAU menempatkan perempuan dan remaja perempuan sebagai aktor utama perubahan. Deputi Bidang Koordinasi Peningkatan Kualitas Keluarga dan Kependudukan Kemenko PMK, Woro Srihastuti Sulistyaningrum, mengatakan isu energi dan perubahan iklim sebenarnya sangat dekat dengan kehidupan perempuan.
Baca Juga:Didorong BRI, Banyuanyar Kembangkan Desa Pintar Ramah Lingkungan
Menurutnya, dampak perubahan iklim tidak hanya berkaitan dengan lingkungan, tetapi juga menyentuh kesehatan keluarga, ketahanan pangan, pengelolaan sumber daya rumah tangga, hingga peluang ekonomi baru yang lahir dari ekonomi hijau.
"Transisi energi yang berhasil bukan hanya menghasilkan energi yang lebih bersih, melainkan juga masyarakat yang lebih sejahtera, perempuan yang lebih berdaya, kelompok rentan yang lebih terlindungi, dan generasi muda yang lebih siap menghadapi masa depan," ujar Woro.
Pernyataan tersebut menunjukkan bahwa transisi energi tidak hanya berbicara tentang teknologi, tetapi juga menyangkut kualitas hidup masyarakat.
Membuka Peluang Green Jobs dan Green Skills
Direktur Eksekutif RISE Foundation, Artin Wuriyani, menjelaskan bahwa RUMPUN HIJAU hadir untuk memastikan isu transisi energi dapat dipahami secara lebih dekat oleh masyarakat.
Menurutnya, selama ini isu energi sering dianggap sebagai persoalan teknis dan kebijakan tingkat tinggi. Padahal dampaknya sangat nyata dalam kehidupan sehari-hari masyarakat.
Melalui program ini, perempuan dan remaja perempuan akan mendapatkan akses terhadap berbagai pengetahuan baru, mulai dari green lifestyle, green skills, hingga green jobs yang diperkirakan akan semakin dibutuhkan di masa depan.
"Kami ingin memastikan perempuan dan remaja perempuan dapat terlibat, menyampaikan perspektifnya, dan menjadi penggerak perubahan di komunitasnya," kata Artin.
Menjangkau Ribuan Perempuan di Muara Enim
Dalam pelaksanaannya, RUMPUN HIJAU akan melibatkan sedikitnya lima organisasi masyarakat sipil dan memperkuat kapasitas 25 fasilitator remaja perempuan. Program ini juga menargetkan menjangkau 250 perempuan, remaja perempuan, dan masyarakat adat melalui berbagai kegiatan pembelajaran.
Tidak berhenti di situ, kampanye publik yang dijalankan ditargetkan mampu menjangkau lebih dari 7.000 perempuan dan remaja perempuan di Muara Enim.
Target tersebut menunjukkan bahwa program ini tidak hanya fokus pada kelompok kecil, tetapi berupaya membangun gerakan yang lebih luas di tingkat masyarakat.
Dari Daerah Batu Bara Menuju Masa Depan yang Lebih Hijau
Pemerintah Kabupaten Muara Enim menyambut baik kehadiran RUMPUN HIJAU. Dalam peluncuran program, Bupati Muara Enim saat itu, Edison, menyatakan bahwa daerahnya sedang bergerak menuju transformasi sebagai episentrum energi hijau di Sumatera Selatan. Ia menegaskan komitmen untuk secara bertahap beralih dari ketergantungan penuh pada batu bara menuju pengembangan energi baru terbarukan dan hilirisasi yang lebih ramah lingkungan.
Komitmen tersebut memperlihatkan bahwa masa depan Muara Enim tidak hanya akan ditentukan oleh sumber daya alam yang dimiliki, tetapi juga oleh kesiapan masyarakat menghadapi perubahan.
Lebih dari Sekadar Program Lingkungan
Di tengah berbagai pembahasan mengenai energi hijau, RUMPUN HIJAU menawarkan pendekatan yang berbeda. Program ini tidak sekadar berbicara tentang pengurangan emisi atau penghijauan. Lebih dari itu, RUMPUN HIJAU berusaha memastikan bahwa perempuan, remaja, masyarakat sipil, dan komunitas lokal memiliki ruang untuk ikut menentukan arah perubahan.
Sebab pada akhirnya, keberhasilan transisi energi tidak hanya diukur dari jumlah pembangkit energi terbarukan yang dibangun, tetapi juga dari seberapa banyak masyarakat yang ikut tumbuh, berdaya, dan mendapatkan manfaat dari perubahan tersebut.