- Generasi Z di Indonesia cenderung memilih investasi kripto demi keuntungan cepat akibat pengaruh tren FOMO di media sosial.
- APRDI mencatat hanya 7 persen penduduk Indonesia berinvestasi, menunjukkan peluang besar bagi Gen Z dan milenial di pasar.
- Kegiatan di Palembang pada 23 April 2026 mengedukasi mahasiswa agar memilih reksa dana yang lebih stabil dan aman.
SuaraSumsel.id - Generasi Z kini menjadi “ladang emas” baru bagi industri investasi di Indonesia. Namun di tengah maraknya tren aset digital dan budaya fear of missing out (FOMO), banyak anak muda disebut masih lebih tertarik mengejar cuan cepat lewat kripto dibanding memilih instrumen yang lebih stabil seperti reksa dana.
Fenomena ini diungkap dalam kegiatan Road to Pekan Reksa Dana 2026 yang digelar di Palembang, Kamis (23/4/2026).
Pengurus Dewan Asosiasi Pelaku Reksa Dana dan Investasi Indonesia (APRDI), Gresia Kusyanto mengatakan minat generasi muda terhadap investasi memang terus meningkat. Namun, sebagian besar investor muda masih cenderung berorientasi pada keuntungan instan.
“Generasi muda sebenarnya sudah semakin sadar pentingnya investasi. Namun, banyak yang masih memiliki orientasi pada instrumen dengan potensi keuntungan cepat. Karena itu edukasi perlu terus dilakukan agar mereka memahami profil risiko dan tujuan investasinya,” ujar Gresia.
Baca Juga:5 SDIT Favorit di Palembang untuk PPDB 2026, Cek Estimasi Biaya, Tahfidz dan Fasilitasnya
Menurut dia, kripto saat ini banyak diminati anak muda karena dianggap lebih agresif dan menjanjikan keuntungan cepat. Selain itu, instrumen tersebut kerap viral di media sosial hingga memicu rasa FOMO. “Kripto banyak diminati karena sifatnya lebih agresif dan sering viral di media sosial. Sementara reksa dana cenderung dipilih oleh investor yang mencari stabilitas dan pengelolaan profesional,” katanya.
Dalam paparan APRDI, total investor pasar modal Indonesia hingga Desember 2025 tercatat baru sekitar 20 juta orang, atau hanya sekitar 7 persen dari total populasi Indonesia yang mencapai 288 juta jiwa.
Angka ini menunjukkan peluang pasar yang masih sangat besar, terutama dari kalangan Gen Z dan milenial yang kini semakin akrab dengan aplikasi investasi digital.
APRDI pun gencar melakukan edukasi lewat kampanye #ReksaDanaAja dan #PintarReksaDana agar investor pemula lebih memahami instrumen investasi sesuai kebutuhan dan profil risiko.
Salah satu produk yang didorong untuk pemula adalah Reksa Dana Pasar Uang, karena dinilai lebih aman, minim fluktuasi, likuid, dan bisa dicairkan kapan saja.
Baca Juga:Terbongkar, Begini Modus Sindikat Diduga Menjual Bayi Seharga Rp25 Juta di Palembang
Tak hanya itu, modal investasi kini makin terjangkau. Beberapa produk bahkan bisa dibeli mulai dari Rp10.000, sehingga cocok untuk mahasiswa maupun pekerja yang baru mulai menata keuangan.
Palembang dipilih menjadi kota keenam dalam rangkaian program Sosialisasi dan Edukasi Reksa Dana (SOSEDU) 2026. Kegiatan ini juga menjadi bagian dari kampanye PINTAR (Program Investasi Terencana dan Berkala) Reksa Dana menjelang puncak Pekan Reksa Dana nasional pada 27 April hingga 3 Mei 2026.
Kegiatan edukasi APRDI ini turut didukung Otoritas Jasa Keuangan (OJK) dan Bursa Efek Indonesia (BEI) serta diikuti mahasiswa dari belasan universitas di Kota Palembang sebagai upaya meningkatkan literasi dan inklusi investasi sejak dini.
APRDI juga optimistis edukasi yang masif bisa membuat generasi muda lebih rasional dalam memilih instrumen investasi, bukan sekadar ikut tren viral.
Lantas, kamu tim kripto yang agresif atau reksa dana yang lebih stabil?