- Try Sutrisno adalah Wakil Presiden RI keenam yang sebelumnya menjabat Panglima Kodam Sriwijaya di Sumatera Selatan.
- Jenderal kelahiran Surabaya 1935 ini mencapai puncak karier militer sebagai Panglima ABRI sebelum politik.
- Masa kepemimpinannya di Kodam Sriwijaya berfokus pada menjaga stabilitas keamanan di wilayah selatan Indonesia.
SuaraSumsel.id - Tak banyak tokoh yang jejak hidupnya membentang dari garis komando militer di daerah hingga kursi kekuasaan tertinggi di Istana Negara. Try Sutrisno adalah salah satunya. Sebelum dikenal luas sebagai Wakil Presiden Republik Indonesia, ia pernah berdiri di garis depan menjaga stabilitas Sumatera Selatan sebagai Panglima Kodam Sriwijaya.
Posisi strategis yang mengukuhkan namanya di Bumi Sriwijaya. Kini, saat publik kembali mengenang sosoknya, perjalanan panjang sang jenderal dari medan tugas hingga pusat pemerintahan menjadi bagian penting dari sejarah bangsa yang tak lekang oleh waktu.
Nama Try Sutrisno bukan hanya tercatat sebagai Wakil Presiden Republik Indonesia ke-6, tetapi juga sebagai salah satu perwira tinggi TNI yang pernah memimpin wilayah strategis Sumatera melalui jabatan Panglima Kodam Sriwijaya.
Kepergiannya meninggalkan jejak panjang sejarah militer dan politik Indonesia. Bagi masyarakat Sumatera Selatan, sosok ini bukan sekadar pejabat pusat, melainkan figur yang pernah memegang komando teritorial di tanah Sriwijaya.
Baca Juga:Sriwijaya FC Terdegradasi ke Liga 3, Kekalahan dari Sumsel United Jadi Penentu Musim
Lahir di Surabaya pada 15 November 1935, Try Sutrisno meniti karier militer sejak akhir 1950-an. Ia dikenal sebagai perwira yang lama berkecimpung di satuan tempur sebelum menduduki jabatan strategis.
Salah satu fase penting dalam kariernya adalah ketika dipercaya memimpin Kodam Sriwijaya, yang kini dikenal sebagai Kodam II/Sriwijaya dan bermarkas di Palembang. Wilayah komando ini membawahi beberapa provinsi di Sumatera bagian selatan, kawasan yang memiliki arti penting secara ekonomi dan geopolitik.
Di bawah kepemimpinannya, stabilitas keamanan menjadi prioritas utama. Tugas menjaga kondusivitas wilayah yang luas dan beragam bukan perkara ringan, terlebih pada masa ketika dinamika nasional masih sarat tantangan keamanan.
Kariernya terus menanjak hingga dipercaya menjadi Panglima ABRI pada akhir 1980-an. Jabatan tersebut menjadi puncak pengabdiannya di militer sebelum memasuki panggung politik nasional.
Pada 1993, Try Sutrisno dilantik sebagai Wakil Presiden mendampingi Presiden Soeharto. Selama lima tahun masa jabatan, ia berada di jantung pemerintahan Orde Baru, menyaksikan sekaligus menjadi bagian dari fase penting perjalanan bangsa menjelang era reformasi.
Baca Juga:Innalillahi, Mantan Gubernur Sumsel Alex Noerdin Meninggal Dunia di Jakarta
Rekan-rekan sezamannya mengenang Try Sutrisno sebagai figur tegas namun tidak banyak bicara. Ia dikenal disiplin, loyal pada tugas, dan memiliki latar belakang teknis militer yang kuat.
Bagi sebagian generasi tua di Sumatera Selatan, kenangan tentang dirinya melekat pada masa ketika ia memimpin komando teritorial Sriwijaya — periode yang dianggap penuh dinamika pembangunan dan konsolidasi keamanan.
Jejak Try Sutrisno melintasi dua dunia: militer dan politik. Dari barak prajurit hingga Istana Wakil Presiden, perjalanan hidupnya mencerminkan model kepemimpinan era Orde Baru — era yang kini menjadi bagian penting dalam studi sejarah Indonesia modern.
Kini, namanya kembali diperbincangkan publik. Bukan hanya sebagai mantan wapres, tetapi juga sebagai figur militer yang pernah memimpin wilayah strategis Sumatera Selatan.
Bagi Palembang dan sekitarnya, Try Sutrisno adalah bagian dari sejarah lokal yang terhubung langsung dengan panggung nasional.