- Harga emas di Palembang melonjak menyentuh Rp16–16,9 juta per suku, memengaruhi pola konsumsi warga sejak akhir 2025.
- Kenaikan didorong ketidakpastian ekonomi global, menjadikan emas sebagai aset lindung nilai yang diminati investor.
- Dampak utama di Palembang adalah melemahnya daya beli masyarakat dan melambatnya transaksi penjualan perhiasan.
SuaraSumsel.id - Lonjakan harga emas yang nyaris menyentuh Rp17 juta per suku mulai memberi efek nyata bagi ekonomi Palembang. Kenaikan harga yang terjadi sejak akhir 2025 dan berlanjut di awal 2026 ini tidak hanya memengaruhi pembeli perhiasan, tetapi juga mengubah pola konsumsi dan strategi keuangan masyarakat.
Di sejumlah toko emas di Palembang, harga emas perhiasan terus bergerak naik dan berada di kisaran Rp16 juta hingga Rp16,9 juta per suku. Angka tersebut melonjak tajam dibandingkan periode yang sama tahun lalu, membuat banyak warga memilih menunda pembelian emas, baik untuk kebutuhan konsumsi maupun tradisi seperti mahar pernikahan.
Kondisi ini mencerminkan situasi ekonomi yang lebih luas. Ketidakpastian ekonomi global membuat emas kembali menjadi primadona sebagai aset lindung nilai. Sepanjang satu tahun terakhir, harga emas dunia tercatat melonjak hingga sekitar 80 persen, didorong oleh meningkatnya permintaan investor terhadap aset yang dianggap aman di tengah gejolak ekonomi dan geopolitik.
Pengamat Ekonomi Sumatra Selatan sekaligus akademisi Universitas Muhammadiyah Palembang, Sri Rahayu, menilai tren kenaikan harga emas tidak bisa dilepaskan dari kondisi ekonomi saat ini yang belum sepenuhnya stabil.
Baca Juga:Harga Emas di Palembang Nyaris Rp17 Juta per Suku, Warga Menunda Membeli
“Kondisi ekonomi saat ini sedang tidak stabil dan penuh ketidakpastian. Hal inilah yang memicu harga emas terus merangkak naik karena investor cenderung beralih ke aset yang lebih aman,” ujarnya, Rabu (28/1/2026).
Menurut Sri Rahayu, dampak paling cepat terasa di Palembang adalah melemahnya daya beli masyarakat. Warga yang sebelumnya rutin membeli emas kini lebih berhati-hati dan cenderung mengalihkan pengeluaran ke kebutuhan pokok. Pembelian emas untuk kebutuhan jangka pendek banyak yang ditunda sambil menunggu harga lebih stabil.
Perubahan perilaku ini ikut dirasakan pelaku usaha. Pedagang emas di Palembang mengakui minat masyarakat belum sepenuhnya hilang, namun transaksi melambat. Banyak calon pembeli datang hanya untuk memantau harga tanpa langsung bertransaksi. Jika kondisi ini berlangsung lama, perputaran uang di sektor perdagangan emas dan perhiasan berpotensi ikut melambat.
Di sisi lain, harga emas yang terus naik juga mendorong pergeseran cara pandang masyarakat. Emas semakin diposisikan sebagai instrumen investasi jangka panjang, bukan lagi sekadar barang konsumsi atau simbol sosial. Sebagian warga memilih menahan emas yang dimiliki atau membeli dalam jumlah terbatas sebagai bentuk perlindungan nilai kekayaan.
Situasi ini menempatkan ekonomi Palembang pada posisi yang dilematis. Di satu sisi, emas menjadi pilihan aman di tengah ketidakpastian. Namun di sisi lain, harga yang terlalu tinggi berpotensi menahan konsumsi dan memperlambat perputaran ekonomi lokal yang selama ini banyak bergantung pada belanja rumah tangga.
Baca Juga:Pupuk Subsidi Dijarah, Polisi Bongkar Dugaan Penyelundupan di Palembang
Jika tren harga emas tetap bertahan di level tinggi sepanjang 2026, para pengamat menilai masyarakat perlu lebih cermat dalam mengatur keuangan. Pembelian emas sebaiknya disesuaikan dengan tujuan dan kemampuan finansial agar tidak justru menekan kondisi ekonomi rumah tangga.
Bagi Palembang, lonjakan harga emas bukan sekadar soal mahalnya perhiasan, melainkan sinyal penting tentang arah ekonomi daerah di tengah tekanan global. Bagaimana masyarakat dan pelaku usaha beradaptasi akan menentukan seberapa besar dampak tren ini terhadap ekonomi lokal ke depan.