- Kelangkaan solar di Sumatera Selatan memicu aksi demonstrasi massa di Palembang karena berdampak pada penghasilan harian.
- Masyarakat menyoroti sistem distribusi BBM subsidi yang dianggap belum tepat sasaran dan memerlukan pengawasan ketat.
- Pertamina Patra Niaga mengklaim stok solar aman sesuai kuota, namun berkomitmen menindaklanjuti laporan penyaluran.
SuaraSumsel.id - Kelangkaan BBM solar di Sumatera Selatan kembali memantik aksi protes. Meski unjuk rasa telah usai, pertanyaan mendasarnya justru mengemuka: mengapa persoalan solar selalu berulang, seolah menjadi siklus tahunan yang tak pernah benar-benar selesai?
Aksi demonstrasi yang digelar sejumlah elemen masyarakat di Palembang beberapa hari lalu menjadi penanda bahwa kelangkaan solar bukan sekadar gangguan distribusi sesaat. Bagi sopir angkutan, nelayan, hingga pelaku usaha kecil, solar adalah kebutuhan utama yang langsung berpengaruh pada penghasilan harian.
Dalam beberapa tahun terakhir, pola kelangkaan solar di Sumsel cenderung serupa. Ketika permintaan meningkat, pasokan di sejumlah SPBU dilaporkan menipis. Antrean panjang tak terhindarkan, bahkan sejak dini hari.
Situasi ini membuat sebagian pengemudi terpaksa mengurangi jam kerja atau menunda aktivitas. Dampaknya merambat ke sektor lain, mulai dari distribusi barang hingga biaya logistik yang berpotensi meningkat.
Baca Juga:Rebut Hadiah Berlimpah! Tabungan Pesirah Bank Sumsel Babel Jadi Penggerak Potensi Daerah
Dalam aksi protes, massa menyoroti sistem distribusi solar yang dinilai belum sepenuhnya tepat sasaran. Mereka mempertanyakan pengawasan penyaluran BBM subsidi di lapangan, terutama di wilayah-wilayah dengan aktivitas transportasi dan pertanian yang tinggi.
“Masalahnya selalu sama. Solar langka, kami yang pertama merasakan dampaknya,” ujar salah satu peserta aksi.
Menanggapi keluhan tersebut, Pertamina Patra Niaga menyampaikan klarifikasi. Pihak Pertamina menegaskan bahwa stok BBM solar di wilayah Sumatera Selatan dalam kondisi aman, dan penyaluran dilakukan sesuai kuota yang telah ditetapkan pemerintah.
Pertamina juga menyatakan terus melakukan pengawasan distribusi di lapangan serta berkoordinasi dengan pemerintah daerah dan aparat terkait untuk mencegah penyimpangan penyaluran.
Staff Communication, Relation & CSR Pertamina Patra Niaga Regional Sumbagsel, Nursela mengapresiasi penyampaian aspirasi yang dilakukan para teman-teman aliansi ormas, dimana aspirasi ini diterima dan akan dilakukan koordinasi lebih lanjut.
Baca Juga:7 Fakta Aksi Protes Kelangkaan BBM Solar di Sumsel, Massa Demo di Pertamina Patra Niaga
“Kita berkomitmen menyelenggarakan distribusi BBM tersebut sesuai dengan aturan dan juga melakukan koordinasi dengan pihak terkait. Dari perusahaan penyelenggara distribusi aturannya sudah ditentukan untuk itu akan kita tindak laporannya,” tutupnya singkat
Aksi protes di Sumsel menjadi peringatan bahwa persoalan energi menyentuh langsung kehidupan masyarakat bawah. Tanpa perbaikan sistemik, kelangkaan solar berpotensi terus berulang dan memicu gejolak sosial serupa di masa mendatang.
Publik kini menunggu langkah konkret, bukan hanya pernyataan. Apakah evaluasi distribusi akan diperkuat? Apakah pengawasan akan diperketat? Jawaban atas pertanyaan inilah yang menentukan apakah kelangkaan solar akan berhenti sebagai siklus tahunan, atau terus menjadi sumber keresahan.