Sepakbola adalah Bos!
Seklumit cerita di atas memberi pelajaran besar. Pengembangan sepakbola memang harus mempertimbangkan budaya.
Akan tetapi budaya tidak boleh menjadi titik awal fondasi suatu pengembangan sepakbola.
"Sepakbola lah yang harus jadi titik awal. Jika kita ingin mengembangkan sepakbola ke level tertinggi, maka budaya lah yang harus ikuti tuntutan sepakbola level tinggi tersebut. Sepakbola adalah bosnya!," tulis Coach Yoyo.
Baca Juga:Achmad Yakub: Cegah Karhutlabun Butuh Kolaborasi Melibatkan Petani di Sumsel
Tidak mungkin misalnya seorang Pep Guardiola datang ke Indonesia dan harus beradaptasi dengan budaya setempat.
Pep harus menyesuaikan jam latihannya dengan budaya jam karet. Lalu Pep harus membiarkan pemainnya diurut pasca cedera. Kemudian mengijinkan pemain ikut tarkam.
Puncaknya di lapangan, Pep harus relakan kipernya tendang bola jauh ke depan tanpa arah. Mana mungkin?
Jika hari ini Pep bekerja membangun sepakbola Indonesia. Apakah kita berani ikuti Pep? Atau kita masih menggerutu bilang ilmu Pep ketinggian dan tidak cocok dengan budaya Indonesia?
"Hidup itu memang pilihan. Celakanya, menjadi bodoh dengan menikmati kualitas sepakbola yang gini-gini saja juga sebuah pilihan. Selamat menjadi bodoh!," ucap Coach
Baca Juga:Sumsel Ekspor Puluhan Ribu Kilogram Paha Kodok Senilai Rp2,3 Miliar ke Prancis
Meski tidak lagi membersamai Sriwijaya FC, Coach Yoyo tetap mendoakan klub kebanggan wong kito ini agar selalu menang di setiap laga ke depan.