Pada musim tersebut kerap terjadi becana alam kering seperti kekeringan, kebakaran hutan dan lahan, serta gelombang tinggi.
Usai musim kemarau, pada bulan September, Oktober dan November terjadi lagi siklus peralihan dari musim kemarau ke musim hujan atau disebut juga dengan musim Pancaroba.
"Dengan bencana puting beliung, petir, hujan es, hujan lebat, disertai kilat dan petir. Kalau di musim Pancaroba itu selalu sama iramanya," lanjutnya.
Pada bulan Desember, Januari dan Februari memasuki musim hujan. Bencana yang sering terjadi pun meliputi banjir, longsor dan gelombang tinggi, atau biasa disebut dengan bencana basah.
Baca Juga:Diiming-Iming Anak Bisa Lulus Jadi Anggota TNI, Warga Sumsel Tertipu Rp180 Juta oleh TNI Gadungan
Dari proses siklus cuaca tersebut, kata Guswanto, perlu dipahami oleh masyarakat sehingga dapat melakukan tindakan dini ketika akan memasuki musim hujan, kemarau atau peralihan dari keduanya.
"Inilah yang menjadi kunci di dalam memahami bagaimana cuaca ekstrem itu berperilaku sehingga kita bisa memberikan mitigasinya," tambahnya.
Dia pun menginginkan masyarakat untuk terus mengedukasi diri dan mencari informasi mengenai kondisi cuaca ekstrem sehingga bisa mengantisipasi dalam mengurangi resiko dari becana alam.
"Peningkatan pemahaman terhadap kondisi dan tantangan di wilayah kita akan menjadi sebuah kesiapsiagaan dalam mengurangi aksi resiko atas bencana," pungkasnya.
Reporter: Melati Putri Arsika
Baca Juga:TNI Gadungan Tipu Warga Sumsel Rp180 Juta, Janjikan Anak Korban Bisa Masuk TNI Tanpa Tes