alexametrics

Pilihan Terpopuler News Lifestyle Indeks

Suhu di Palembang Capai 34 Derajat, Ini Penjelasan BMKG

Tasmalinda Rabu, 13 Oktober 2021 | 10:00 WIB

Suhu di Palembang Capai 34 Derajat, Ini Penjelasan BMKG
Ilustrasi terik sinar matahari. Palembang lebih panas. [Shutterstock]

Beberapa hari ini, suhu Palembang mencapai 34 derajat.

SuaraSumsel.id - Beberapa hari terakhir suhu di Palembang sangat terasa terik. Bahkan suhunya mencapai 34 derajat celcius. Kondisi panas ini pun masih terasa hingga malam hari. 

Kepala Stasiun Klimatologi Palembang Wandayantolis mengatakan, berdasarkan siklus normal suhu udara di Palembang, suhu udara tertinggi memang terjadi pada sekitar September dan Oktober setiap tahunnya. 

Faktor utama yang berperan pada siklus ini dikarenakan ada gerak semu matahari yang melintasi wilayah Sumatera Selatan  pada periode tersebut. 

Puncak panas biasanya terjadi tepat setelah titik kulminasi terjadi atau justru setelah posisi matahari telah melewati titik kulminasinya. 

Baca Juga: Medali Emas Sumsel di PON XX Papua Bertambah, Kalahkan Sumbar dan Jambi

"Seperti halnya pada suhu harian, suhu tertinggi justru mencapai setelah pukul 13.00 WIB. Bukan pada saat pukul 12.00 WIB di mana matahari tepat berada di atas kita. Ini berkaitan dengan neraca kesetimbangan panas antara radiasi gelombang pendek yang diterima dengan radiasi pantul dari permukaan bumi,"kata Wandayantolis dalam keterangan tertulisnya, Selasa (12/10/2021).

Dijelaskan Wandayantolis, dalam satu tahun, gerak semu matahari akan dua kali melintasi wilayah Indonesia termasuk Sumatera Selatan. Sebab, puncak suhu maksimum selain terjadi antara September dan Oktober juga terjadi pada sekitar April atau Mei. 

Berkaitan suhu yang dirasa lebih menyengat sejak awal Oktober ini, lebih dipengaruhi oleh berkurangnya curah hujan dalam periode yang sama. 

"Berdasarkan pantaun Stasiun Klimatologi Palembang, pada dasarian I Oktober curah hujan yang terjadi berlangsung di bawah normal atau lebih rendah dari biasanya,"ujarnya. 

Faktor terjadinya anomali curah hujan ini menurut Wandayantolis,juga dikarenakan siklus Madden-Julian Oscillation (MJO) pada kuadran 5 yang biasanya menekan sistem konvektif di wilayah Sumatera dan adanya siklon tropis di utara yang menyedot uap air.

Baca Juga: KLHK: 2.000 Ha Lahan di Sumsel Terbakar Sepanjang 2021

Kehilangan curah hujan tentunya mengurangi kadar kelembapan udara. Dampaknya, radiasi matahari yang datang akan lebih banyak yang sampai ke permukaan bumi karena berkurangnya uap air yang biasanya dapat menyerap panas.

Baca Juga

Komentar

Berita Terkait