facebook

Highlight Terpopuler News Lifestyle Indeks

Dampak Buruk Covid-19 Bisa Bikin Lemot, Kok Bisa?

Denada S Putri Selasa, 17 Agustus 2021 | 19:57 WIB

Dampak Buruk Covid-19 Bisa Bikin Lemot, Kok Bisa?
Ilustrasi berpikir lama alias lemot. ( Unsplash/Jake Young)

Dalam studi itu, mempelajari kognisi dan indra penciuman pada hampir 300 orang dewasa di Argentina yang mengalami Covid-19.

SuaraSumsel.id - Dampak buruk infeksi Covid-19 pada otak bisa bertahan meski pasien sudah dinyatakan sembuh. Salah satunya, proses berpikir melambat atau yang biasa disebut otak lemot.

Menurut dr. Pukovisa Prawirohardjo, Sp.S(K) dari Rumah Sakit Universitas Indonesia mengatakan gejala pelambatan proses kognitif otak bisa dilihat dari gejala LALILULELO. LALILULELO ada;ah kepanjangan dari Labil emosi atau pendiriannya, Linglung, Lupa, Lemot atau pikiran melamban, dan Logika berpikir menurun.

"Terdapat gejala dini pikun atau demensia yang disingkat LALILULELO. Bila menemukan 1 dari 5 gejala ini, segera lakukan pemeriksaan ke dokter," ujar dia dalam siaran pers RSUI, yang disadur dari Suara.com, Rabu (18/8/2021).

Sebuah studi yang dipresentasikan dalam Konferensi Internasional Asosiasi Alzheimer atau Alzheimer's Association International Conference pada 29 Juli 2021 di Denver, Colorado menemukan, banyak penyintas Covid-19 mengalami kabut otak dan gangguan kognitif lainnya beberapa bulan setelah pemulihan.

Baca Juga: Uji Coba Buka Mal Wajib Sertifikat Vaksin Diperluas ke 20 Daerah PPKM Level 4

Dalam studi itu, para peneliti dari University of Texas Health Science Center di San Antonio Long School of Medicine dan kolega mereka mempelajari kognisi dan indra penciuman pada hampir 300 orang dewasa di Argentina yang mengalami Covid-19.

Mereka mempelajari para partisipan antara tiga dan enam bulan setelah infeksi Covid-19. Hasilnya, lebih dari separuh menunjukkan masalah terus-menerus lupa.

Temuan ini menambah deretan hasil studi terkait gejala long Covid-19 seperti bingung, lupa dan dan tanda-tanda hilangnya ingatan yang mengkhawatirkan lainnya.

Sebelumnya, sebuah studi yang dipublikasikan dalam jurnal EClinicalMedicine The Lancet pada 22 Juli lalu menunjukkan, penyintas Covid-19 termasuk mereka yang tidak lagi melaporkan gejala memperlihatkan defisit kognitif signifikan.

Kondisi ini dialami baik oleh mereka yang dulu dirawat di rumah sakit maupun yang tidak.

Baca Juga: Masygul Tenaga Kesehatan di Tengah Hawar: Kami seperti Belum Merdeka

Pukovisa merekomendasikan pemeriksaan kesehatan pasca Covid-19 bagi yang merasa mengalami gangguan kognitif setelah sembuh dari penyakit yang disebabkan virus SARS-CoV-2 itu.

Baca Juga

Komentar

Berita Terkait