Kedatangan sekutu, disambut baik oleh A.K Gani karena sebelumnya sudah ada instruksi dari Presiden Soekarno agar membantu Sekutu, guna mencapai kesepakatan.
Setelah perang lima hari malam di Palembang, AK Gani bertugas di Jakarta sebagai menteri dalam kabinet Syahrir dan Amir Syarifuddin.
![Museum AK Gani [ANTARA]](https://media.suara.com/pictures/653x366/2020/11/23/48297-museum-ak-gani-antara.jpg)
Saat terjadi agresi Belanda I, markas divisi II Palembang pindah ke Muara Beliti dan kantor pemerintahan Gubernur Muda Sumsel pindah ke Curup.
Saat agresi militer belanda ke dua, AK Gani diangkat jadi Gubernur militer dengan kedudukan pemerintahan yang berbeda-beda. Akhir Agresi II, berakhir dengan terjadi perundingan Roem-Royen.
Baca Juga:Sumsel Ekspor 8,980 Ton Komoditas Senilai Rp 138 Miliar ke 4 Negara
Pengakuan kedaulatan Belanda kepada Indonesia, untuk wilayah keresidenan Palembang yang dilakukan di Pagaralam dan diterima langsung residen Sumatera Selatan oleh AK Gani.
Sampai akhirnya AK Gani menjadi Gubernur pertama Sumatera Selatan.
7. Penyelundup senjata
Bersama sahabatnya, Tjong Djoe dari Palembang membawa hasil bumi, seperti halnya kopi ditukar dengan pakaian, obat-obatan, senjata, dan kebutuhan perang lainnya.
Bantuan ini disalurkan ke AK Gani, karena itu lah AK Gani juga kerap dikenal sebagai tokoh penyelundup atau The Great Smunggler.
Selain itu, Tjong Djoe membantu perjuangan di bidang logistik dan informasi melalui gerakan bawah tanah alias penyelundupan. Bantuan yang diselundupkan ini berperan besar dalam perjuangan TNI dan Indonesia kala itu.
Baca Juga:Mentan Siapkan Sumsel Jadi Penghasil Tanaman Porang yang Kuasai Pasar Dunia