alexametrics

Pilihan Terpopuler News Lifestyle Indeks

Daya Beli Rendah, Banyak Peternak Ayam di Palembang Bangkrut

Tasmalinda Selasa, 27 Juli 2021 | 19:22 WIB

Daya Beli Rendah, Banyak Peternak Ayam di Palembang Bangkrut
Nurlaelatini, salah seorang pedagang ayam potong di Pasar Serpong, Tangsel Senin (12/4/2021). [Suara.com/Wivy Hikmatullah] Daya Beli Rendah, Banyak Peternak Ayam di Palembang Bangkrut

Sejumlah pedagang ayam di Palembang, Sumatera Selatan bangkrut karena daya beli masyarakat menurun.

SuaraSumsel.id - Banyak peternak ayam di Kota Palembang, Sumatera Selatan, terpaksa bangkrut  karena terjadi penurunan harga akibat daya beli masyarakat masyarakat pandemi COVID 19.

Ketua Asosiasi Masyarakat Peternak Sumatera Selatan Ismaidi Chaniago mengatakan kondisi yang menyulitkan membuat peternak plasma satu siklus sepanjang 1,5 bulan terbilang kesulitan bertahan.

“Harga sudah turun, tapi serapan juga rendah. Jadi biaya produksi sudah tidak seimbang dengan pemasukan, jadi mereka terpaksa gulung tikar,” kata Ismaidi.

Harga ayam di pasaran berkisar Rp24.000 per kilogram, yang sudah bertahan kurang lebih dalam sebulan terakhir di sejumlah pasar tradisional.

Baca Juga: Mantan Gubernur Sumsel Alex Nurdin Diduga Terlibat Kasus Korupsi Dana Hibah Masjid Agung

Dengan harga seperti itu di pasaran, artinya harga ayam potong dengan berat bersih 1,6 Kg-1,7 Kg per ekornya hanya terjual Rp13.000—Rp14.000 per Kg saat dibeli peternakan (harga di kandang).

Sementara, peternak bisa dikatakan akan mendapatkan untung jika harga di kandang berkisar Rp18.000 per ekor.

“Peternak rugi sekitar Rp5.000 per ekor, lama-lama ya terpaksa tutup peternakan,” kata dia.

Kekinian asosiasi memperkirakan terjadi penurunan permintaan sekitar 25-30 persen dibandingkan dalam kondisi normal terhadap ayam potong dari kebutuhan sekitar 120 ribu ekor per hari untuk Kota Palembang.

Sedangkan 250 ribu ekor per hari untuk Sumatera Selatan.

Baca Juga: Atasi Karhutla di Puncak Musim Kemarau, Sumsel Perlu Tambahan Helikopter

Pengurangan produksi yang dilakukan kurang berdampak signifikan lantaran saat ini produksi dari luar provinsi juga masuk ke Palembang.

Baca Juga

Komentar

Berita Terkait