alexametrics

Pilihan Terpopuler News Lifestyle Indeks

Rencana Pajak Pendidikan Ditolak NU dan Muhammadiyah, Yusuf Mansur: Demen Saya Nih

Tasmalinda Sabtu, 12 Juni 2021 | 12:50 WIB

Rencana Pajak Pendidikan Ditolak NU dan Muhammadiyah, Yusuf Mansur: Demen Saya Nih
Ustaz Yusuf Mansur [instagram Yusuf Mansur] Rencana Pajak Pendidikan Ditolak NU dan Muhammadiyah, Yusuf Mansur: Demen Saya Nih

Ustad Yusuf Mansur pun mengungkapkan penolakan pajak pendidikan oleh dua ormas islam ini memperlihatkan penolakan yang serius.

SuaraSumsel.id - Rencana pemerintah menerapkan pajak pendidikan, ditolak oleh dua ormas islam di Indonesia. Ormas Nadhatul Ulama (NU) dan Muhammdiyah dikatakan sudah melakukan penolakan.

Atas penolakan bersama dua ormas itu, penceramah dan pembisnis Ustad Yusuf Mansur, mempertanyakan apakah Pemerintah dan Kementrian akan tetap melaksanakan kebijakan tersebut jika sudah ormas islam besar menolaknya. Ustad Yusuf Mansur pun mengungkapkan rasa apresiasikan saat dua ormas ini menyatakan sikap yang sama.

"Lah kalo dua lembaga yang lebih GEDE dari GABAN ini udah nolak, masa iya Pemerintah dan Kementrian terkait jalan trs? Rada ga mungkin," tulisnya di media sosial.

Ia pun berpendapat, jika dua lembaga ormas islam ini hendaknya harus dibesarkan lagi.

Baca Juga: Deteksi Karhutla, Polda Sumsel Bentuk Tim Drone Squad di Tingkat Polsek

Karena itu, ia mengajak agar  anak-anak Indonesia masuk ke lembaga pendiidkan di NU dan Muhammadiyah.

"Gedein bener dah" katanya.

Lalu lini berekonomi juga benar-benar di kedua lingkungan ini dengan sebener-benarnya bersatu

"Sekalian gedein betul segede-gedenya. Kita bantu. Misal sakit, ayo ke rumah-rumah sakit NU dan Muhammadiyah juga. Tar NU dan Muhammadiyah, bikin terus ekosistem perjuangan sosial, seni, budaya, dan ekonomi, lebih masif dan lebih menggurita lagi,"harap Ustaz Yusuf Mansur.

Sehingga, keduanya punya daya, kekuatan, dan posisi tawar yang sangat baik.

Baca Juga: 4.451 Hektar Kawasan Pemukiman di Sumsel Kategori Kumuh

"Abis itu, jangan ragu masuk ekosistem politik sekalian. Percuma juga jadi kawanan dan sekawanan. BIla ga megang rules. Ga megang kendali. Seluruh alumni, tokoh-tokoh, warga NU dan Muhammadiyah, bunyi in aja semua suaranya, langkahnya, pikirannya. Lebih lagi narasi dibumikan, disyiarkan, dan dikumandangkan," ujarnya.

Baca Juga

Komentar

Berita Terkait