Prof Yu berpendapat penemuan vaksin yang digagas oleh anak bangsa harusnya dipopulerkan atau dikenalkan lebih luas. "Pemerintah bisa langsung menghargai sebagai terobosan," ujar ia.
Ia pun mencontohkan politik vaksin yang dilakukan negara India yang mampu memajukan vaksin buatan negaranya sendiri.
Negara India yang dikenal juga mengimpor vaksin menjalin kesepakatan agar lembaga yang mengekspor vaksin juga mendorong penciptaan vaksin yang dikembangkan di dalam negeri.
"Sehingga membagi porsi vaksinnya, misalnya 70 persen impor, 30 persen mendorong pengembangan produksi vaksin di negaranya. Sehingga bisa menciptakan vaksin mandiri," terang Prof Yu.
Baca Juga:Ini Penyebab Produktivitas Padi Sumsel Masih Rendah
![Peneliti Vaksin Nusantara di RSUP Kariadi Semarang [Suara.com/Dafi Yusuf]](https://media.suara.com/pictures/653x366/2021/02/19/99189-vaksin-nusantara.jpg)
Diterang Prof Yu, pembentukan vaksin biasanya dilakukan dengan metode yakni berbasis virus itu sendiri, mengambil bagian dari virus dan metode rekombinasi DNA.
"Nah, metode yang dilakukan dokter Terawan ini inovatif, dan baru," ujar ia.
Prof Yu pun mengungkapkan efektivitas vaksin Sinovac bisa dilihat pada tiga bulan mendatang.
Menghitungnya dengan membandingkan, seberapa banyak masyarakat divaksin dan peningkatan masyarakat yang terpapar hingga akhirnya menjadi sakit.
Baca Juga:Tes Urine Acak, Satu Bintara Polda Sumsel Terkonfirmasi Positif Narkoba