Tasmalinda
Senin, 09 November 2026 | 00:00 WIB
Hamparan sawah di kawasan dataran tinggi Semende, Kabupaten Muara Enim, Sumatera Selatan [Mohamad Shabir Fikri/Suara.com]
Baca 10 detik
  • Petani kopi dan padi di dataran tinggi Semende mengalami penurunan hasil panen drastis tahun ini.
  • Anomali cuaca serta cekaman iklim ekstrem menjadi pemicu utama kerontokan bunga dan penurunan produktivitas tanaman.
  • Akademisi Universitas Sriwijaya menyarankan penerapan varietas padi genjah serta pengelolaan air dan pupuk sebagai solusi adaptasi.

SuaraSumsel.id - Semende merupakan kawasan dataran tinggi di bagian barat daya Provinsi Sumatera Selatan (Sumsel), berbatasan langsung dengan Pegunungan Bukit Barisan. Wilayah ini berada pada ketinggian rata-rata 900 hingga 1.400 meter di atas permukaan laut (mdpl). Bagi masyarakat setempat, nama Semende dimaknai berasal dari kata “se” yang berarti satu, “mah” berarti rumah, dan “nde” berarti milik.

Selama ratusan tahun, Semende dikenal memiliki ketahanan pangan yang kuat. Kawasan ini terbagi menjadi tiga kecamatan, yakni Semende Darat Laut (SDL), Semende Darat Ulu (SDU), dan Semende Darat Tengah (SDT). Dalam ingatan masyarakat, wilayah tersebut tidak pernah mengalami krisis pangan atau bencana kelaparan.

Kondisi geografis dengan udara sejuk dan curah hujan relatif tinggi menjadikan Semende cocok untuk budidaya padi sawah dataran tinggi serta kopi, baik jenis robusta maupun arabika. Luas persawahan di kawasan ini mencapai sekitar 3.650 hektare.

Berbeda dengan sawah lebak atau pasang surut di dataran rendah Sumsel, persawahan di Semende berupa hamparan bertingkat yang mengikuti kontur perbukitan. Sistem pengairannya mengandalkan gravitasi, dengan mengalirkan air dari mata air pegunungan dan sungai-sungai kecil melalui saluran irigasi tradisional.

Bagi masyarakat Semende, sawah bukan semata-mata sumber penghasilan. Padi yang ditanam umumnya digunakan untuk memenuhi kebutuhan pangan keluarga dan keperluan adat. Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS) Kabupaten Muara Enim, jumlah penduduk di kawasan Semende saat ini mencapai 43.277 jiwa.

Keberadaan lahan pertanian juga berkaitan erat dengan pranata adat Tunggu Tubang. Dalam tradisi ini, rumah pusaka dan sawah utama keluarga diwariskan kepada anak perempuan tertua. Ia memikul tanggung jawab untuk menjaga dan mengelola aset keluarga agar tidak diperjualbelikan, sehingga keberlanjutan pangan keluarga besar tetap terpelihara dari generasi ke generasi.

Padi umumnya ditanam satu kali dalam setahun. Hasil panennya disimpan untuk konsumsi keluarga, bukan diprioritaskan sebagai komoditas perdagangan. Ketika membutuhkan uang tunai untuk memenuhi kebutuhan hidup, membiayai pendidikan, atau mengembangkan usaha, masyarakat lebih banyak mengandalkan hasil perkebunan kopi.

Kopi menjadi salah satu komoditas andalan masyarakat Semende dan penopang ekonomi rumah tangga. Namun, ketergantungan terhadap hasil perkebunan ini juga membuat perubahan produktivitas tanaman berdampak langsung pada pendapatan warga.

Berdasarkan penelusuran Suara.com, produksi kopi di Semende mengalami penurunan lebih dari 50 persen pada tahun ini. Petani menduga anomali cuaca menjadi salah satu penyebabnya.

Baca Juga: PTBA Salurkan 1.250 Box Susu untuk 26 Anak Stunting di Muara Enim

“Untuk kopi tahun ini mengalami penurunan. Kami biasanya memanen kopi sampai dengan satu ton, tapi tahun ini hanya empat kuintal,” tutur warga yang akrab disapa Sansen.

Sansen merupakan warga Desa Kota Agung, Kecamatan Semende Darat Tengah. Ia menjelaskan, penurunan produksi terjadi ketika pola musim sulit diprediksi. Pada periode kemarau, sekitar Agustus hingga September, hujan lebat justru kerap turun disertai angin kencang.

Padahal, tanaman kopi membutuhkan periode kering yang relatif stabil untuk merangsang pembentukan kuncup bunga.

“Akibat hujan. Jadi bunga yang belum jadi buah rontok, selain itu hujan juga memicu pembusukan buah muda,” jelas Sansen.

Dampak perubahan cuaca tidak hanya dirasakan pada perkebunan kopi. Produktivitas padi yang menjadi penyangga kebutuhan pangan masyarakat Semende juga mengalami penurunan.

“Sama saja. Padi juga mengalami penurunan, tangkainya pendek,” ucap Sansen.

Load More